Surat ini ditujukan seluruh manusia berkromosom XX di muka bumi ini, yang dengan bangga menyebut dirinya wanita.
Kita, sosok yang sering membasuh waktu dengan dengan kesendirian namun kesendirian milik kita bukan hal yang memalukan karena kemandirianlah yang menjadi pilar-pilarnya.
Dengan kesabaran kita akan selimuti semua perasaan tersia-sia. Tersia-sia karena dikhianati dan dilukai, didiskriminasi serta diacuhkan.
Tersenyum dan percayalah bahwa selalu ada bahagia dibalik semua perasaan terluka.
Kadang dalam menghadapi ringkihnya hidup ini kita meratap. Menangislah, menangislah wanita.
Menangis tak berarti kita lemah dan terpuruk.
Air mata yang jatuh akan menyapu bersih semua keraguan agar fragmen masa depan bisa kita lihat lebih jelas.
Kita adalah bintang terang yang penuh harapan bagi penerus dunia ini.
Derai – derai cemara ditengah gersang bagi jiwa-jiwa terhilang.
Senja yang kau ukir di lekung alismu tak akan pernah sia-sia
Teruslah berjuang dan jangan menyerah meski dunia menertawai
Ribuan hari yang kita lewatkan dengan kebimbangan tak berujung akan segera terwujud
Cerita yang kita tulis diatas awan adalah penyaksi gugup malam-malam rindu
Tetaplah setia menanti karena waktu tak pernah salah menjawab
Untuk setiap perkataan kita yang tak terucap dan terdengar
Maafkanlah, biarkan angin membasuh setiap kegeraman
Nafas-nafas kesucian yang kita bisikan suatu saat akan bersinar terang
Lalu mereka yang tak peduli itu akan meronta dalam ketidakpastian
Salatiga, 17 Januari- surat ke empat senja ini
Suka
mksh mbak
Se7,, menangis merupakan sisi + yang dikaruniakan Tuhan pada kita para wanita. Dari tangisan kadang muncul kekuatan luar biasa yang tidak dimiliki laki2. Salam kenal
iya mbak salam kenal dan terimaksih sudah berkunjung yaa