Surat ini kutitipkan bersama kaki-kaki hujan yang membasahi halaman hijaumu.
Mengapa hujan?
Karena dalam nuansa basah itu selalu kuselipkan rindu ku yang tak kunjung kering
Tak perlu kau tanyakan mengapa aku selalu punya cukup rindu padamu
Itu pertanyaan yang tak bisa kutemui jawabannya
Mirip jika aku bertanya apakah kau tidak bisa berhenti merokok?
Kau selalu saja tersenyum pahit.
Aku merindukan hadirmu lagi disisiku!
Aku tahu kau selalu tak mudah mengatakan rindu apalagi cinta
Dan walaupun jarak sudah membantai sedemikian rupa, kau tetap saja kau.
Tapi nada dan tindakanmu tak akan pernah bisa bohong.
Pstttt! Jangan berdebat kali ini sayang
Diamlah! Pejamkan mata dan tersenyum.
Nikmatilah kaki hujan yang tumpah ruah.
Sesapi rinduku dalam-dalam disela-sela hujan yang ku kirim padamu.
Hujan itu akan membasuh separuh kemarau dihatimu, Ya, separuh saja.
Separuh lagi akan segera terhapus jika kita sudah berjumpa.
Kau selalu tahu tak ada yang paling manjur mengahapus rindu selain sebuah pertemuaan bukan?
Dari : Perempuan yang selalu menunggu mu untuk memadamkan kesahnya di kota ini.
-Yogyakarta tanggal tujuh bulan kedua tahun ular air-

merinding bacanya..
sukaa…
mkash ya Dyaz, knp merinding atuh?
gkpa..mbak…kayak ngerasain aja…:(
kunjungilah dia yang menanti itu..
*wkwkwkk* -> sok teuu deh guee
hihihi..nggak deh mbak ..tapi itu dulu mbak…:D
hihiihihi *:D
nunggu surat2 selannjutnya aja ah…:D