Dear Ma,

Mam,
Saat  menulis surat ini kau sedang tertidur lelap dirumah dan aku sedang menanti lonceng gereja berdentang tiga kali. Senja memang menawarkan romantisme yang lebih baik untuk beribadah Ma.  Ah, tiada yang lebih menggembirakan bagi seorang gadis yang meninggalkan rumahnya 7 tahun lebih selain pulang dan mabuk masakan mamanya. Setiap malam ketika kaget bangun, aku sudah tidak lagi mendapati kesunyian mencengkramku seperti biasa. Yang ada hanyalah punggungmu atau terkadang nafasmu yang mengalir lembut dipunggung tanganku. Hangat dan menggembirakan.

Aku tidak ingin meminta maaf Ma. Untuk apa? Karena katamu jangan katakan maaf jika kau belum terlalu yakin tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Ya, ya, ya, aku sering sekali lupa pada hal-hal kecil, menakar gula pada teh mu dengan tidak tepat atau menggoreskan cat air pada dinding rumah kita. Caramu memarahiku itu yang aku nikmati bahkan setengah geli. Gila? Tidak mam. Tanyakan saja pada anak-anak yang jarang pulang ke rumah. Mereka akan bilang bahwa menertawai kemarahan ibu mereka adalah hal yang wajar.

Aku hanya ingin berterimakasih karena masih bersedia menyayangi seorang anak keras kepala, yang kadang hemat sekali berbicara dan membuatmu binggung. Aku mencintaimu Ma, bahkan ketika kau akhirnya memutuskan untuk mengganti posisiku sebagai tester masakanmu.
Tapi mama gak akan melakukannya bukan? Aku ingin selalu jadi yang pertama dalam hal sakral itu.

*with big love*
Cha

About these ads

2 thoughts on “Dear Ma,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s