Prompt #54: Kafe di Ujung Jalan

“Pemilik kafe itu gagah ya, baik lagi. Sayang aku tidak sempat berbincang lama dengannya. Kenalkan dia padaku kak.”

“Kurasa sebaiknya kau tidak perlu tahu tentang dia. Percayalah, kurasa betul-betul jangan.”

“Kenapa? Ada yang salah? Kau berkencan dengannya?”

“Pokoknya jangan coba-coba dekati dia! Dia berbahaya.”

Aku melongo menatap kakak yang berjalan keluar kamar dengan nafas memburu. Entah mengapa ia begitu marah saat aku bertanya mengenai pemilik kafe baru diujung jalan. Padahal beberapa hari lalu aku melihat mereka terlibat dalam suatu percakapan serius. Aku sungguh penasaran dan harus bertemu dengan lelaki itu sekali lagi.

***

Malam dengan bulan yang penuh. Aku sudah berada di kafe baru diujung jalan. Sepi dan lenggang. Sosok lelaki yang kucari sedang bercakap dengan salah seorang pelayan di salah satu sudut ruangan. Beberapa saat mata kami bertemu. Dia tersenyum dan berjalan menghampiriku.

“Hai, selamat datang kembali. Mau minum apa?”

Hot Latte, please.”

Lelaki itu, sang pemilik kafe, kemudian menginstruksikan pada pelayan untuk membuat pesananku lantas duduk dihadapanku.

“Kau mengenal kakakku?”

“Siapa? Diane Reuss?”

Aku mengangguk.

“Ya, tentu saja. Dia tidak cerita padamu?”

Aku menggeleng.

“Aku ada disini karena dia.”

Aku ternganga menatapnya. Siapapun lelaki ini, Diane pastilah seseorang yang berharga baginya.

“Nona, kau dan kakakmu sangat berharga bagiku.”

Dia mengenggam pergelangan tanganku erat lalu menariknya mendekati bibirnya. Aku terhenyak. Wajahnya yang rupawan seketika berubah menjadi beringas lengkap dengan taring yang menyembul keluar dari dalam mulut.

“Darah keturunan Reuss akan memudahkanku mencapai keabadian. HAHAHA”

Aku berontak mencoba melepaskan diri. Sayangnya begitu banyak tangan yang sudah memegang tubuhku kencang. Aku remuk dalam mereka.

Langit muram dengan bulan penuh. Aku teringat saat kecil ayahku bilang saat malam seperti ini, serigala jadi-jadian ada dimana-mana. Kami tidak boleh keluar rumah apapun yang terjadi. Kalau tidak kami akan mati.

“Diane, semoga kau tak lupa larangan ayah seperti aku”

#293 Kata – Ditulis untuk menjawab tantangan  MFF

About these ads

7 thoughts on “Prompt #54: Kafe di Ujung Jalan

  1. Ada beberapa kalimat gak efektif menurutku. Pengulangan kata “saat” di akhir cerita.
    Penggunaan kata ganti “kau” atau “kamu”? -bagian “Nona, kakakmu dan kamu sangat berharga bagiku…” konsisten :) keep writing.

  2. 1. itu taring menyembul dari mulutnya di tengah-tengah kafe? apa nggak ada pengunjung lain?

    2. “Lelaki itu, sang pemilik kafe, kemudian menginstruksikan pada pelayan untuk membuat pesananku lantas ia duduk dihadapanku.” bukannya di paragraf di atasnya ditulis kalo pemilik kafe nggak ada? ini kok tiba-tiba muncul? semacam “cilukbaaa..” gitu kah? hehehe

    tapi idenya oke tuh, ala-ala twilight :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s