Happy Sunday, Bola dan Pemilu

Pagi yang lucu, seperti biasanya dalam satu bulan terakhir. Gosh.

Jadi pagi ini, sepulang dari gereja saya mendapat broadcast BBM dari teman (dituliskan dalam bahasa Ambon)

“Selamat hari minggu, Tuhan berkati. Lia tu Holland menang. Tutup prop kamong! Belanda dapa akang taong ini.” -

Artinya ” Selamat hari minggu, Tuhan berkati. Liat Holland menang. Tutup mulut kalian! Belanda menang tahun ini.”

Hwenggggg ~~~~~~~~~

Pesan broadcast yang lucu, euforia yang lucu juga. Lucu karena saya bahkan tidak pernah bercakap tentang bola dengan orang yang dimaksud. Jangankan itu, ngobrol biasa pun jarang bro.  Trus ngapain juga dia kirim? Biar dibilang fans sejati gitu? Oh please.

Niatnya awalnya pengen dibalas tapi gak jadi. Setelah dipikir-pikir, percuma soalnya bicara dengan orang yang fans fanatik begitu. Sama halnya bicara dengan pendukung salah satu calon presiden dan wapres. Sama halnya bicara dengan orang yang lagi jatuh cinta. Percuma man. Gak akan didengarin. EHEHE. Pujaan mereka selalu nomor satu. Paling cuma akan diketawain atau dilihat dengan penuh kekejaman. Buang-buang energi.

Ah, sebulan belakangan ini memang bulan-bulan yang melelahkan secara psikis dan fisik. TL yang pada awalnya dibanjiri dengan isu-isu politik digusur oleh pandangan tentang piala dunia. Orang- orang mulai suka nonton bola padahal dulunya gak, mau begadang demi bola, membiarkan skripsinya mengalah demi  nonton bola, #eh, lalu mulai membangun fanatisme berlebihan terhadap tim jagoannya dan berakhir dengan saling memaki. Belakangan berita-berita mengenai politik kebanyakan juga berakhir dengan saling maki, saling tuding, saling silang. Ah, mengerikan.

Orang-orang yang sudah lelah menjadi cepat tersinggung kala jagoan nya disenggol sedikit aja. Harga diri menjadi cepat sekali terluka, marah-marah, mencari titik kelemahan lawannya dan bla-bla. Memang hal-hal yang keliru dari sesuatu itu begitu menonjol dan menarik perhatian untuk dilecehkan terutama secara verbal. Macam fans Real Madrid yang marah jika CR7 ditertawakan gaya rambutnya. Tapi Ronaldo nya anteng-anteng aja malah dapat tawaran iklan lebih banyak. Kalau disenggol ya Bacok! Blahh.

Di negeri demokrasi ini, semua orang bebas mengutarakan pendapat mengenai sebebas-bebasnya. Silahkan. Mengenai mengapa dia memilih capres tertentu dan mengajak orang lain untuk memilih apa yang dia jagokan. BEBAS. Dimana saja, kapan saja. Seberapa seringnya berkoar-koar, pilihan kan ada di tangan para pemilih. Mau condong ke arah yang mana. Mau dibayar pun ambil saja uangnya, kata Prabowo, wong itu uang kita. Ehem. Malu dong sama hati nurani.

Saya pikir kebebasan yang sama juga dipunyai oleh fans sepak bola yang mendukung negara tertentu. BEBAS. Mau pawai cuma pake bra pun bebas. Memilih sesuatu untuk di jagokan saya rasa sudah melalui tahap analisa yang matang sebelumnya. Mengenai tak-tik permainan, kualitas pemain, dan lain-lain. Dan kalau cuma ikut-ikutan cas cus ces geje ya kamu karbitan :p – itu kata teman-teman di timeline. Fans-fans ini pun bebas untuk mengatakan hal-hal ajaib dan bodoh untuk membela timnya meskipun tim yang didukung merasa gak perlu dibela. Ah kita cuma membela harga diri kita sendiri. YA KAN? YA KAN?

Tapi syukurlah dengan fenomena-fenomena diatas. Setidaknya dengan adanya hal-hal tersebut, masyarakat Indonesia semakin cerdas mengutarakan pendapat. Salah benar itu soal belakangan yang penting mau bersuara dulu. Jangan lagi-lagi seperti anak-anak SD yang ditanya “Ayam atau telur mana yang duluan ada?” Lalu kelas yang riuh mendadak sunyi. Tak ada yang berani bersuara. Takut salah. Takut dihukum. Lalu memberikan kerja pada ilmuan untuk memecahkannya.

Tiga hari lagi kita diberi ruang untuk menyatakan kebebasan berpolitik kita sebagai WNI. Besuaralah disana. Pilih apa yang hendak dipilih. Saya rasa seorang berusia 17 tahun bukan lagi anak SD yang diam jika ditanya siapa yang dia mau percaya untuk mengembalakan Indonesia lima tahun kedepan.

Jadi siapa yang akhirnya bawa pulang Piala Dunia nanti? Jangan tanya pada ilmuan. Karena bola itu bundar. Tak ada yang benar-benar pasti. Begitu pula dengan hasil survey siapa yang akan lebih banyak dicoblos sebagai presiden. Tak bisa benar-benar dipercaya. Sebab ruang kesunyian dibalik bilik suara itu magis. Bisa saja pilihan berubah saat kita berada disana. Ah perkara pilihan hati memang selalu mendebarkan. Yang pasti adalah NEGARA INI BUTUH PERUBAHAN! TITIK.

3 thoughts on “Happy Sunday, Bola dan Pemilu

  1. Setidaknya merah semangat dan mungkin amarah para fans pilpres itu sanggup memerahkan tanggal 9 juli.
    *salam buruh perindu libur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s