Botol Plastik Yang Menjadi Korban (19 Mei 2011)

Botol plastik yang berisi air setengah bagian itu telah menjadi korban.Bentuknya menjadi tidak seperti semestinya karena cengkraman tangan saya.

Itu semua bentuk dari luapan emosi.

Maafkan saya, botol.

Emosi karena apa??

Yang saya ingat setiap saya membaca pesan di telepon seluler saya, mata saya semakin memanas.

Seluruh tubuh saya gemetar saat melihat dia dari kejauhan.

Ya, dia, lelaki itu, akar dari segala reaksi tak terduga yang muncul pada diri saya, malam ini.

Saya yakin.

Ingin sekali saya melempar botol itu kearahnya atau menumpahkan air keatas kepalanya, supaya dia sadar bahwa setiap kata-katanya kemarin-kemarin sungguh mengusik hati.

Begitulah yang saya pahami dari tiap kata-katanya. Hari ini dia bertindak seolah tak pernah memuntahkan kata-kata itu.

Mengerikan.

Namun lebih mengerikan lagi jika hasil cernaan otak saya tentang kata-katanya kemarin-kemarin salah.

Memalukan sungguh jika saya salah menerjemahkan maksud dari tiap kata-katanya.

Tau ah, ingin makan kepiting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s