Kembali PadaMu

Hai..
Sudah lama kita tak bersua
Tak ku ingat pasti kapan terakhir kali kita bercakap
Padahal sejujurnya banyak yang ingin ku ceritakan untuk Mu
Banyak tangisan yang ingin ku bagikan dengan Mu
Karena sesungguhnya hanya Engkau yang memahami diriku seutuhnya
Bagaimana kabar Mu???
Sungguh bodoh ya ku bertanya demikian, pikirmu mungkin
Kau tentu saja lebih baik dari sempuna
Iya kan????
Hmmmmm….

Pagi kemarin dan beberapa pagi sebelumnya
Aku memulai hari dengan lakuku yang sebetulnya memuakkan
Ku tahu setiap pagi Kau memanggilku
Mencoba membagikan senyum indah Mu
Tapi ku tetap bergeming
Terlarut dalam dunia ku sendiri
Mengacuhkanmu
Dan kala aku hendak keluar menghadapi dunia ini
Yah dunia yang terlampau kejam
Aku berjalan dengan mampuku yang sebenarnya sangat kecil
Kau ada di penghujung pintu dan mengulurkan tanganMu
Tersenyum lembut dan mencoba meyakinkanku
Tapi lagi-lagi aku menolak
Aku pasti bisa sendiri, Batinku

Aku berjalan seolah dengan kakiku sendiri
Tanpa ku sadari pijakan-pijakan ku begitu rapuh sehingga tak mampu menatap mentari
Dengan sisa-sisa kuatku tetap ku paksakan
Karna ku tahu hari-hari ku adalah luar biasa dan aku harus selalu bisa
Aku berjalan sendiri
Dan ketika tiba-tiba di hadapanku terlalu banyak semak duri dan siang semakin terik
Ku berhenti sejenak, mencoba mengumpulkan kekuatan
Aku kini melihatMu duduk disampingku, memandang ku sendu
Dan tanganMu masih terulur seolah mengajak “ayo, berjalan bersamaKu”
Aku tersenyum dan mungkin sinis nampaknya
Menggelengkan kepala dan ku berbisik setengah kesal
“Aku bisa kok.. jangan ganggu aku lagi”
Aku berlalu meninggalkanmu yang kini sendirian mermenung

Aku melangkah mantap menelusuri semak duri itu
Pikirku tenaga ku sangat luar biasa
Padahal sesungguhnya udara siang itu sungguh sangat menyayat
Aku berjalan dan terus melangkah
Peluh mengalir di sekujur tubuhku
Seluruh tubuhku babak belur tanpa ku sadari
Duri dan semak ini terlalu kejam menusukku
Tak punya hati
Belum lagi matahari yang semakin nanar menatapku, oh.. ingin rasanya ada yang menolong
Tapi tak seorang pun ada

Keegoisanku memuncak dan berkata pada jiwaku “aku pasti bisa melewati sendiri”
Padang luas terbentang tak jauh beberapa jarak lagi
Tapi semakin ku melangkah, semakin banyak darah yang terkucur
Tangisku tak tertahankan lagi
Terlalu sakit
Langkahku yang dulu mantap dan anggun
Kini menjadi terseok-seok.. padahal sudah petang sekarang
Matahari sudah mulai menciut
Aku mengalami mati rasa
Tulang-tulangku seakan remuk redam
Cahaya bintang yang sudah mulai muncul
Merabunkan mataku
Ooh .. siapa kah yang dapat menolong

Saraf ku berhenti seolah hidup dalam mimpi
Dan ingin ku lenyapkan diri dari dunia fana ini
Terbayang di benakku

Engkau
Engkau yang tadi ku acuhkan, yang ku tinggal sendiri dalam renungan diri yang panjang
Hatiku tersayat, seperti dicambuk rasanya
Aku terlalu bodoh, naïf dan egois
Ku ingat betapa dekatnya kita dulu
Betapa Engakau sangat mengasihiku
Ingin rasanya ku berbalik dan memelukmu
Tapi untuk mengangkat kepala ini saja rasanya tak mampu

Tuhan, bisik ku dengan sisa-sisa kekuatan
Tolong aku ! ! ! ! !

Ditengah kerapuhanku, rasa bersalahku, kesendirianku
Kudengar suaraMu lembut berbisik
AnakKu, aku merindukanmu
Mari genggam tangan Ku dan kita pulang
Aku tersenyum dan berkata
Aku juga merindukan mu Tuhan, maafkan aku meninggalkan Mu
melupakan Mu
Tolong.. jangan pernah biarkan tanganku melepas gengaman ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s