Sebait Lagu Untuk Mengenangmu : Papa

Ketika lagu itu kembali bergema, mataku memanas, hendak berair. Namun angin terlebih dahulu mengusapnya. Aku hanya temanggu menatap gambar sosokNya di samping mimbar. Ku harap Ia juga melihatku.

“Gemuruh ombak menderu, gelora taufan menderu. Telah memukul bidukku. Terombang ambing di atas laut, tak menentu menanti maut. Kan karamkah, kan tenggelam, ke dasar laut. Bidukku laju maju trus berlabuh dengan senang. ”

         Begitulah sepenggal liriknya yang ku inggat. Tidak tahu siapa penggarangnya. Aku yang tidak tahu maksudnya. Partiturnya ada di rumah. Lagu itu lagu favorit papa. Aku sering sekali mendengar Ia menyanyikannya. Mungkin bermakna sangat dalam bagi beliau. Semua orang bisa bernyanyi. Aku, mama dan papa juga J. Bercerita tentang papa yang bisa bernyanyi, dulu Ia adalah ketua suatu kelompok paduan suara. Paduan suara yang sekarang sudah lenyap karena semua anggotanya tenggelam dalam kesibukan pribadi yang semakin menumpuk. Faktor usia mungkin saja, namun itu hanya asumsiku saja. Sayang sekali karena mereka punya kualitas yang baik dan tentu saja usia kelompok ini sudah belasan tahun. Hampir sama dengan usiaku waktu mereka mengadakan doa bersama untuk membubarkan paduan suara itu. Kata papa karena mereka memulainya dengan doa, mereka juga harus mengakhirinya dalam doa pula.

       Yang menjadi bagian terbaik selama paduan suara itu masih eksis, tempat berlatih mereka adalah dirumahku. Artinya aku tidak pernah ditinggalkan sendirian dirumah dan rumahku selalu ramai menjelang jadwal manggung mereka di gereja. Aku belajar membaca not angka (masih belum mahir juga hingga sekarang hahahaha), mengenal banyak orang, belajar banyak hal. Aku menikmatinya. Sebagai ketua paduan suara, tentu saja papa memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Ketika hampir tiba jadwal mereka tampil, beliau berkewajiban menginformasikan kepada segenap anggota paduan suara mengenai jadwal latihan dan sebagainya. Waktu itu belum ada facebook, twitter maupun telepon selular. Telepon rumah masih jarang sekali di tempat tinggalku. Maka sepeda motor papa adalah jalan keluarnya. Ia akan mampir sebentar ke setiap rumah para anggota, biasanya hari senin sore, satu minggu sebelum tanggal pelaksanaan. Menurutnya itu lebih baik. Dan tentu saja aku dengan riang gembira, kadang-kadang sedikit memaksa papa, akan ikut dengannya. Jalan-jalan sore J. Ini adalah salah satu faktor pemicu hingga detik ini, aku tidak mampu mengendarai sepeda motor sendiri. Aku sudah ditakdirkan duduk di jok belakang, keyakinanku pada suatu hari. Pengalihan atas ketidak mampuan diri sendiri.

          Aku selalu kagum dengan semangat papa untuk paduan suara ini. Sepertinya ia tak pernah bosan bertahun-tahun melakukan kegiatan ini. Dan akhirnya pada suatu titik, papa harus berhenti melakukan semuanya. Ia harus mengesampingkan egonya.  Tapi apa hendak dikata, paduan suara bukan hanya dirinya sendiri, atau hanya beberapa orang. Aku tahu hatinya sangat terluka. Beberapa kali aku memergokinya membuka kertas-kertas lagu yang tersusun rapi dalam lemari mungil di kamar tidurku. Ia termenung lama sekali lalu kemudian bersenandung kecil. Ketika menyadari kehadiranku, dia kan berpura-pura merapikannya lalu bertanya padaku apakah aku sudah mengengerjakan pekerjaan rumahku.

       Oh iya, nama paduan suara itu Kalvaria. Indah bukan??? Pada akhirnya mereka bernyayi lagi. Menyanyikan lagi kesukaan papa. Tapi kali ini tak ku jumpai papa diantara mereka. Mama juga tak ada. Mereka semua begitu anggun dalam balutan busana hitam. Wajah-wajah yang sudah lama tak kulihat, oh aku merindukan masa-masa bersama mereka. Mereka bernyanyi lagi namun dengan isak sedih. Mama ada di dekat papa, hanya menangis mengelus wajah papa yang pucat sambil berbisik “ini kado buat papa”. Aku tampak lusuh dalam kaos hitam dan jeans belelku, tak membawa baju, tak ingin terjadi seperti ini. Wajah hanya tertunduk dan tak bisa menemukan makna dari lagu itu. Yang aku tahu saat itu, mereka menyanyikan “lagunya papa”.

***

      Bulan semalam begitu jernih. Terlihat dari kamarku begitu jelas, pukul 23.00 waktu terpampang di layar telepon selularku. Akhir dari lagu favorit papa berkata “laju tenang jalan hidupku, bila Tuhan ikut serta”. Gejolak hidup yang bergemuruh serta segala deru kepahitan telah dilewati papa.  Ia terus maju, walau kadang tersendat-sendat. Papa seseorang yang penuh keyakinan menjalani hidupnya, bukan karena ia merasa mampu, tapi karena ia tahu, Yang Maha Kuasa selalu memegang tangannya. Ia selalu bekata begitu untuk ku. Kini ia telah berlabuh di tempat tenang, bersama Nahkoda hidupnya dan aku tahu papa masih bernyayi untukku disini. Selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s