Maknyoss Bang :D

Sabtu, 18 Juli   2009.

Hari itu langit cerah., tidak mendung. Pokoknya mantap buat jalan-jalan. Hari itu agendanya saya akan ke kaki gunung Sindoro, Temanggung dan saya ditemani ripo-chan. Kita berdua sering berpergian, kadang tak ada tujuan sama sekali. Kemana kaki melangkah🙂
Kami berdua bukan orang Temanggung, cuma bermodal nekat dan tanya sana sini kami berangkat. Untuk apa lagi ke Temanggung kalo bukan untuk mencari Tembakau . Kebetulan saya sedang melakukan riset tentang Tembakau. Namun ini sama sekali bukan cerita tentang tembakau. Ini cerita tentang alat transportasi luar biasa yang akan menghantar kami ke kaki gunung Sindoro.

Kami berangkat dari Salatiga ke Bawen kemudian mencari bis jurusan Wonosobo. Tidak ada bis yang langsung Temanggung saat itu, entah sekarang. Sesampainya di Temanggung, kami berdua turun ditengah kota, mencari makan dan kemudian memulai aksi bertanya sana-sini. Akhirnya dari sekumpulan informasi narasumber yang diperoleh, kami menuju terminal dan mencari angkutan kota ke Sindoro. Angkotnya terletak bagian paling terpencil di sudut terminal. Panasnya udara di Temanggung membuat kami berdua langsung masuk ke dalam angkot. Lama sekali hampir satu jam. Kami berdua mulai terpanggang dan umpatan-umpatan mulai mengalir. Dari pengamatan saya saat itu, jumlah penumpang sudah memungkinkan untuk berangkat. Sudah 15 orang.

kira-kira beginilah angkot itu

Namun semua umpatan itu tidak sebanding dengan perasaan terkejut kami berdua ketika sopir terus memasukan orang didalam angkot. Di bawah bangku-bangku penumpang yang kami duduki ternyata terdapat banyak bangku-bangku kecil sebanyak jumlah penumpang yang biasanya duduk di bangku angkot. Jadi lantai angkot tempat dimana seharusnya saya menjulurkan kaki, sudah diambil alih. Mereka duduk lengkap dengan keranjang-keranjang sayur, kantong belanjaan, dan tentu saja kami berdua begitu terjepit. Shock bagian I.

Di depan, samping sopir, ada tiga orang dewasa dan dua anak kecil lengkap dengan ayam yang masih hidup, belanjaan lain dan ijuk yang menyembul keluar dari kantong belanjaan. Diatap mobil begitu banyak barang yang diikat. Saya membayangkan bisa saja barang-barang tersebut menimpa kami semua. belum sampai di situ saja, wanita-wanita paruh baya yang sejak tadi menanti di depan angkot kemudian bergelantungan di pintu keluar.. Wanita – wanita perkasa.  (˘_˘”). Shock bagian II.

Dan didalam angkot yang sesak, sumpek, panas, dan kelebihan muatan saya berdoa semoga kami baik-baik saja. Senyum tulus orang-orang dalam angkot dan pertanyaan-pertanyaan mereka yang tidak saya mengerti maksudnya membuat saya peralahan menikmati keadaan ini. Mungkin ini harga yang harus saya bayar untuk hamparan pohon tembakau yang terbentang indah di hadapan saya dan tentu saja informasi terkait dengan riset saya. Setelah sampai tujuan barulah saya mengerti mengapa angkotnya diisi sampai keterlaluan begitu. Perjalanan memakan waktu hampir dua jam dan sangat sedikit angkot yang sampai ke kaki Gunung Sindoro mungkin yang menjadi pertimbangan mereka. Jam 4 sore saya dan rekan saya harus kembali ke Temanggung karena kami tidak membawa peralatan menginap dan jam 4 adalah batas akhir angkot berkeliaran di kaki Sindoro. Sayang sekali waktu itu kami tidak membawa kamera jadi tidak bisa mengambil gambar.

Tiga tahun berlalu, saya  rindu naik angkot itu apalagi waktu sekembalinya kami dari Sindoro sore hari, angkot yang kami tumpangi dengan gagah berani menerobos tenda yang sudah didirikan untuk hajatan. You should try😀

Hebat. Maknyoss bang sopir,, Balap…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s