Nekat (PAKE BANGET) !!!!

Brebes merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang terletak di jalur pantai utara. Kalo Temanggung terkenal dengan tembakaunya, Brebes terkenal dengan telur asin dan bawang merahnya. Namun lagi-lagi saya tidak akan bercerita tentang bawang merah, yang kalau dikupas secara berlebihan dapat mengakibatkan air mata mengucur deras seperti Nobita itu. Ini soal bagaimana perjuangan bagaimana menginjakan kaki di tanah antah berantah itu.

Disuatu pagi yang sama sekali tak terduga, ada undangan mendadak yang mengharuskan saya hadir di Brebes,hari kamis pagi, jam 10.00. Parahnya di Brebes saya tak ada kenalan ataupun keluaragasama sekali. Pihak pengundang pun tidak menyediakan tempat. Dengan modal nekat, browsing informasi lewat internet serta tanya sana -sini (lagi), saya memutuskan untuk tetap berangkat. saya memutuskan berangkat. Masih tetap dengan rekan seperjalanan yang sama waktu ke Temanggung, Ripo-chan.     

                                      Thanks a bunch dear. Vielen Dank . o:-)


                      Karena pertemuan terjadi di pagi hari, setelah dengan berbagai pertimbangan, saya dan rekan saya memutuskan berangkat di malam hari dengan naik bis, agar kami berdua tidak usah berlama-lama disana. Setelah selesai mengisi perut, kami meniggalkan salatiga sekitar jam 19.00 menuju Semarang dan tiba di pemberhentian terakhir yakni termianal Terboyo, pukul 21.00. Nekat. Diterminal yang isinya kebanyakan lelaki itu, kami berdua bertanya sini sana untuk mendapat informasi tentang bus menuju Brebes dan tentu saja banyak sekali yang mencurigakan. Akhirnya kami memutuskan untuk bertanya pada bapak polisi (yang sedang menilang seorang pengendara motor dan sedikit ragu memberi jawaban ). Kami harus menanti satu jam lagi untuk mendapatkan bis arah Cirebon , bis Harapan Kita (nama yang kontekstual). Satu jam terasa sangat lama. Kami melaluinya dengan duduk bercerita dan termenung di salah satu sudut trotoar, dengan perasaan tidak enak karena semua mata sepertinya tertuju pada kami berdua. Tidak enak . Selanjutnya kami memutuskan untuk berpindah posisi saja, nongkrong dengan seorang tukang tambal ban. Lumayan, dapat info yang lebih banyak tentang bis malam dan disajikan karton untuk alas duduk.   

Mendekati satu jam, bis terakhir yang menjadi satu-satunya harapan kami berdua malam ini pun tiba. Dengan selusin penumpang lain, kami berebut bis, mengerubungi calo sialan itu dan akhirnya duduk didalam bis. Bukan bis AC, banyak sekali lelaki didalamnya dan memang tidak nyaman.  Perjalanan  normal dari Semarang ke Brebes membutuhkan waktu 5 jam.  Sementara teman saya sudah tertidur pulas, mungkin sedang mimpi makan Semangka Kotak, saya tetap terjaga. Entah karena grogi menanti hari esok, atau karena ketidaknyamanan karena bis melaju dengan kecepatan diatas normal (menurut saya). Sepertinya hanya saya saja penumpang yang masih membuka mata. Semua penumpang tertidur lelap seperti bayi bahkan mas keren  ber-jumper putih (mirip Ariel Peterpan) itupun bisa terlelap dengan keadaan berdiri. Luar biasa ya. Saya menikmati kegelapan malam di bis dengan gambaran yang saya dapatkandari film-film action yang saya nonton. Mengerikan.

Jam 03.40 kami memasuki kota Brebes. Berbekal alamat yang diberitahu, saya mulai menginterogasi sang kondektur tentang tempat dimana kami akan turun. Percakapan yang ditanggapinya dengan menggelang gepala berkali-kali, bukan tak tahu, hanya heran saja. Ketika saya bercakap dengan dia, saya berpindah tempat duduk ke depan, tepat diantara supir utama, supir cadangan dan kondektur. Sensasinya berbeda, seakan-akan mobil-mobil besar hendak menyabet bis kami. Hebat.🙂
Akhirnya supir dan kondektur itu bersepakat mencari masjid sekitar tempat yang kami tuju dan menurunkan kami. Terimakasih ya bapak-bapak.

Brebes, Hampir Pukul 04.00 waktu jam tangan saya. Adzan subuh telah bergema. Sementara rekan saya menunaikan sholat, saya terbuai dalam  lantunan adzan dan merebahkan kepala diatas ransel merah hitam, kesayangan saya. Saya pun terlelap tak ingat apapun. Satu jam kemudian saya dibangunkan rekan saya, anehnya saya merasa telah tidur lama sekali. hahaha. Satu jam cukuplah untuk memulai hari kami yang panjang di Brebes. Mentari yang indah, memerah diantara debu yang menari dengan eloknya dan jalanan yang tidak pernah sepi sedetikpun.

Segelas teh panas  di warteg dan bapak penjaganya yang ramah, koko-krunch, pom bensin dan logat ngapak-ngapak, stasiun tak berkereta, panas menyengat tingkat dewa, gejala-gejala ispa, pak satpam yang lucu, sate kambing, kantung mata yang tampak jelas, hamparan hasil panen bawang merah, etalase telur asin, sebotol air mineral, perasaan grogi yang berlebihan dan kami berdua yang kadang tertawa tanpa sebab menjadi lukisan berharga di hari kamis yang penuh arti itu. Sayang saya tak bisa menyesap bau tembakau seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Waktu matahari sedang terik-teriknya kami berdua mengambil bis dan pulang ke Salatiga. Bau tembakau yang tak bisa saya nikmati di Brebes terbayar dengan hamparan laut luas dan bau ikan asin di sepanjang kota Tegal. Indah. Perjalanan pulang hasil kenekatan kami ditemani sebungkus permen, pengamen ngotot, adegan kejar-kejaran di gurun pasir, batik pekalongan yang indah, transfer bus dan kehilangan karcis hingga harum parfum yang sangat menenangkan.

 


SALATIGA
. 19.00 WIB

Berefleksi dari status FB rekan seperjalanan saya hari itu :”dasar, Pelancong Edan” :0

Finally I’m Home and take a long hibernation. zzzzzzzz.

😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s