Malam itu, 18, Waktu Setempat

Teruntuk engkau
Yang hari-hari hidupnya tergantung pada pertimbangan mereka
Yang terlalu takut untuk berlari menggapai mentari
Yang untuk menatap langit sore hari saja gemetar kakinya
Yang tatapan matanya tak pernah berubah selama bertahun-tahun terhadapku
Yang tak mau memahami aku bukan lagi gadis kecil yang akan senang ketika rambutnya diacak-acak
Yang percaya bahwa keajaiban cinta dan jodoh itu masih ada
Yang senyumnya seperti secangkir kopi, manis, pahit, dan hangat
Yang kekerasan hatinya membuatku menyadari bahwa dia seseorang
Yang pantas diperjuangkan

Terimakasih dan Selamat menapaki dunia baru

Maafkanlah kepengecutanku ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s