J for Jinggo

           Terakhir kali saya berjumpa dengannya sekitar dua belas tahun yang lalu. Namun anehnya hingga sekarang saya masih tetap saja merindukan dirinya. Tubuhnya pendek, dipenuhi bulu pirang kecoklatan dengan ekor menjuntai hampir menyentuh lantai. Harusnya saya melampirkan gambar dirinya, yang menurut saya sangat keren. Tapi sudalah, potret itu entah kemana. Saya telah mencarinya dua tahun terakhir setiap kali kembali ke rumah dan hasilnya tetap nihil.

Entah apa yang saya rindukan dari anjing  yang kala itu berusia hampir tujuh tahun saat dia pergi selama-lamanya. Dalam hemat saya, tiada pengganti yang lebih baik dari Jinggo. Sebab itulah semenjak Jinggo tidak ada, saya enggan untuk kembali memelihara anjing lagi. Sempat ada beberapa anjing di rumah, namun tak ada yang berkesan untuk saya.  Sungguh. Adik saya bilang, saya itu terjebak dalam kesetiaan yang sia-sia. (-_-”). Sudahlah dek, ini masalah hati.

Saya merindukan masa-masa sekolah dasar saya, dimana sebagian besar hidup saya ditemani Jinggo. Anjing pirang kecoklatan ini sebenarnya milik kakak perempuan saya, yang akhirnya diwariskan terhadap kita semua di rumah (baca saya), saat Ia harus melanjutkan kuliahnya di Surabaya. Banyak sekali cerita tentang mahkluk kecil ini. Mulai dari kegembiraannya yang meluap saat makan di atas kertas bungkus nasi, hingga menjadi sasaran caci maki para sopir angkot. Selama hidupnya di rumah, ia selalu sarapan dengan satu atau dua potong roti sisa hari kemarin, lalu dilanjutkan dengan makan siang dan malam dengan sepiring nasi dengan lauk apa saja, yang penting ada bau ikannya. Dia tergolong jenis anjing yang pilih-pilih makanan. Namun semuanya akan dia makan ketika makanan itu tersajikan diatas piring yang dilapisi kertas pembungkus nasi. Entah mengapa dia bisa makan selahap itu. Apa mungkin kertas pembungkus nasi punya daya tarik luar biasa untuk anjing saya??? Sepertinya anjing-anjing lain yang saya amati biasa saja , bahkan ada yang mengunyah kertas nasi itu hingga hancur. Kegemaran yang aneh.

Mungkin Jinggo memang pantas menjadi sasaran empuk bagi para sopir angkot maupun pengendara lain yang berseliweran.  Rumah saya terletak di pertigaan jalan, cukup ramai untuk ukuran daerah tempat tinggal saya. Bayangkan saja, jika anda dalam keadaan terburu-buru harus menuju suatu tempat dan harus memperlambat laju kendaraan anda hanya untuk menunggu seekor anjing menyeberang jalan, menjengkelkan bukan??? Itu kejadian yang sering sekali saya saksikan di depan rumah. Tersangka utamanya adalah anjing kesayangan saya. Saya cuma bisa harap-harap cemas dan berdoa semoga sopir angkot atau pengendara kendaraan lain masih diberikan kesabaran menanti anjing saya menyeberang jalan.  Meskipun sudah diteriaki atau dibunyikan klakson, Jinggo tidak peduli. Dia akan berjalan dengan elegan bak model diatas catwalk. Jika reinkarnasi itu memang benar ada, mungkin di waktu lampau anjing saya itu seorang  model terkenal.

Jika saya hendak berpergian jauh keluar daerah, biasanya menggunakan jalur laut memakai kapal. Lebih cepat dan saya jarang sekali mabuk. Jinggo pasti akan turut mengantar saya bersama orang rumah dan ketika saya kembali, dia juga akan turut menjemput saya dipelabuhan. Suatu ketika, di bulan Januari yang cerah, saat kembali dari liburan sekolah yang panjang di Papua, saya tidak melihat Jinggo menjemput saya di pelabuhan. Hanya papa seorang diri berdiri di sana sambil melipat tangan di depan dada. Saya sedikit terheran, apa mungkin papa pergi tanpa sepengetahuan Jinggo, sedangkan hanya mendengar bunyi motor papa saja, ia pasti akan kembali ke rumah dan mengikuti papa. Ketika saya bertanya dimana anjing saya, papa cuma menatap saya dan bilang ayo pulang, sudah ada es kelapa muda menanti dirumah.

Dan akhirnya setelah selasai mandi, makan segelas es kelapa muda dan beristirahat sejenak, papa bilang Jinggo tidak pernah kembali lagi kerumah sejak dua hari yang lalu. Segala upaya telah dikerahkan, tapi Jinggo tak kunjung  dijumpai. Selama berhari-hari, setiap malam saya duduk didepan rumah, berharap anjing berbulu pirang kecoklatan itu akan kembali. Selama menanti, saya duduk sambil berharap bintang jatuh, lalu membuat permohonan dan berharap malaikat mengembalikan Jinggo. Tapi hal itu tak terjadi, ia tak pernah pulang. Yah, saya hanyalah seorang anak SD yang merindu anjingnya dan kemudian ketika hari bersekolah datang saya akan lebih menaruh perhatian terhadap menulis dengan tegak dan rapi. Saya pikir Jinggo telah menemukan dunianya sendiri.

Sekarang saya telah menjadi seorang gadis yang hidup dalam semua keanehan hidup yang menuntut memperjuangkan kedewasaan, komitmen, kepercayaan, tanggung jawab, berteman dengan dunia maya, keegoisan dan profesionalitas. Tiba-tiba saja saya merindukan teman masa kecil saya, yang selalu setia menanti saya pulang sekolah, atau mengibaskan seluruh tubuhnya ketika saya memandikanya, yang gemar sekali melingkarkan ekornya dikaki saya, dan hanya meraung pelan saat saya mengangis sambil memeluk tubuh gemuknya.  Oh buddy, how are you today??? Saya bermimpi kamu pulang malam itu hanya untuk melihat saya lalu kemudian pergi lagi bersama senja yang menyamarkan cintamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s