C untuk Chairil Anwar

Siapa yang tidak tahu Chairil Anwar?? Puisinya banyak tersebar di buku pelajaran Bahasa Indonesia SMP dan SMA. Paling tidak semenjak itulah saya mengetahuinya. Ia adalah penyair angkatan ’45, dilahirkan di Medan, 22 Juli 1922.  Menurut majah Tempo tahun 2000, Chairil Anwar adalah salah seorang dari sepuluh orang besar di Indonesia sepanjang abad  XX (1901-1999).  Sayangnya, ia pergi begitu dini, pada tanggal 28 April 1949. Saya terpesona dengan puisi-puisi karyanya. Perpaduan kata yang begitu indah dan kuat. Saya sering menerka-nerka apa arti dari puisinya. Sebagai seorang anak SMP masa itu, pengetahuan tafsiran hanya berdasar pada penjabaran dalam buku teks. PAYAH!. Hingga akhirnya di kelas tiga SMA saya membeli sebuah buku berjudul Apresiasi Puisi karangan Herman J. Waluyo. Saya begitu terkesima, ternyata arti puisi jau lebih dalam dan kompleks dari yang saya bayangkan. Di dalam buku ini, beberapa halaman mengurai tentang Om Chairil. Ya cukuplah menjawab rasa penasaran saya beberapa tahun terakhir. Saya cuma bekali-kali mengangguk dan bergumam “oh ternyata.😀
Awal bulan Februri tahun ini, saya berkunjung ke kos seorang teman dan menjejal rak bukunya. Kejutan yang baik karena saya menemukan kumpulan puisi dan prosa om Chairil, yang diberi judul “Chairil Anwar – Derai-derai Cemara” terbitan Horison di deretan buku-bukunya. Dan untuk catatan buku ini tidak diperdagangkan, saya lupa bertanya bagaimana ia memperolehnya.  Buku yang saya baca merupakan cetakan kedua dan terbit tahun 2000. Buku ini dibuka oleh kata pengantar dari anak Alm. Om Chairil, Evawani Alissa Ch. Anwar serta penyair seangkatan ’45 yang juga sahabat karib sang pujangga, Asrul Sani. Dari uraian mereka, saya mulai mengenal pribadi penyair favorit saya ini. Rasa sayang, perasaan luka yang mendalam, persaingan, semangatnya untuk merdeka, jelas tergambar disini. Bahkan banyak puisinya yang belum pernah saya baca, ada di dalam buku ini. Terimakasih telah meminjamkan buku ini, dan ini menjadi buku favorit saya. Terimakasih juga untuk Chairil Anwar  dan karya-karyanya yang terus menginspirasi saya.🙂

Berikut ini beberapa puisi Om Chairil yang saya belum pernah saya baca sebelumnya dan saya tentu saja menyukainya. Puisi ini disadur dari Buku yang saya pinjam dari seorang teman.

Dalam Kereta
Dalam Kereta
Hujan menebal
jendela

Semarang, Solo…, makin dekat saja
Menangkup senja.

Menguak puranama.
Caya menyayat mulut dan mata.
Menjengking kereta. Menjengking jiwa.

Sayatan terus ke dada.

15 Maret 1944

Nocturno
(fragment)

………………………………….
Aku menyeru – tapi tidak satu suara
membalas, hanya mati beku diudara.
Dalam diriku terbujur keinginan,
juga tidak bernyawa.
Mimpi yang penghabisan minta tenaga,
Patah kapak, sia-sia berdaya,
Dalam cekikan hatiku

Terdampar… Menginyam abu dan debu
Dari tinggalnya suatu lagu. 
Ingatan pad ajal yang menghantu.
Dan demam yang nanti membikin kaku…

………………………………………………
Pena dan penyair keduanya mati,
Berpalingan!

1946

Dari Dia
buat K.

Jangan salahkan aku, kau kudekap
Bukan karena setia, lalu pergi gemerincing ketawa!
Sebab perempuan susah mengatasi
keterharuan penghidupan yang ‘kan dibawakan
padanya…

Sebut namaku! ‘ku datang kembali ke kamar
Yang kutandai lampu merah, kaktus di jendela,
Tidak tahu buat berapa lama, tapi pasti di senja
               samar
Rambutku ikal menyinar, kau senapsu dulu kuhela

Sementara biarkan ‘ku hidup yang sudah
dijalinkan dalam rahasia…

Cirebon, 1946

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s