U for Unconditional Love

Well, Cinta itu kata sarat makna. Kadang bisa menjadi sederhana, lalu berbalik menjadi sesuatu yang menyakitkan. Tak terduga. Berawal dari percakapan tengah malam saya dengan dua lelaki bersama tiga cangkir susu cokelat panas dan sepiring pisang goreng. Kita bertiga sepakat bahwa cinta itu “barang kompleks”. Itu tak berarti sulit. Pada awalnya cinta itu sederhana, sesederhana kita bangun pagi dan jatuh cinta pada kicauan burung yang merdu. Lalu kemudian lingkungan meelaborasinya dengan tuntutan-tuntutan yang sebenarnya mempersempit makna cinta itu sendiri. Seseorang pernah berkata kepada saya setahun yang lalu: “Emangnya kalau kita berdua saling mencintai, kita harus pacaran ya???”. Waktu itu saya menjawab dengan berapi-api, “ya iyalah dodol, apa artinya kalau gak sama-sama??? Buang-buang waktu!!! (–_–“). Malam ini seraya memandangi bulan, saya tahu saya salah. Cinta tak selamanya harus saling memiliki. Kenapa cinta harus dikondisikan dalam perihal demikian???

Seiring berjalanya waktu saya menyadari konsep cinta tak harus memiliki bukan isapan jempol belaka. Malam yang semakin larut dengan dua sosok lelaki itu dibubuhi dengan percakapan tentang Mother Teresa. Wanita yang dengan ketulusan hatinya, mencintai kaum papa di India, tanpa mengharapkan balasan, upah bahkan terimakasih. Ini bukan hal yang mudah. Jika dilogika, siapa yang tahan jika niat yang tulus dibalas prasangka dan pikiran picik yang tak pernah kita bayangkan??? Tapi itulah pekerjaan sang Ilahi. Setiap kesesakan dapat Ia pulihkan, asal percaya saja.

Cinta itu ada banyak bentuk, yang saya kenal adalah Filia, Storge, Eros, dan Agape. Menarik jika ditelusuri lebih mendalam tentang Eros. Eros adalah cinta kasih diantara dua orang berlawanan jenis (mungkin tidak relevan lagi dengan jaman sekarang) dan biasa diimbuhi dengan gairah dan hawa nafsu. Eros akan mengarah kedalam sebuah hubungan kepemilikan satu sama yang lain. Tak ada yang salah dengan itu hingga saya akhirnya menyadari cinta (baca eros) saja tidak cukup. Tidak dapat ditampik, berada didalam lingkungan sosial yang kompleks menuntut kita banyak hal, termasuk berada dalam suatu ikatan pernikahan. Pernikahan itu sakral dan bukan hal yang gampang. Di saat berusia belasan tahun pembicaraan tentang cinta dan pacaran terasa begitu indah. Begitu menginjak usia 20, saya tahu itu tak mudah. Berucap tentang komitmen dan hubungan dengan seorang pria saja sedikit melukai tenggorokan. Cinta (baca eros) harus dibarengi dengan ketulusan, kepercayaan, kerelaan hati, kelemah lembutan, kesabaran, lebih mengarah ke kasih Agape. Saya masih terlalu muda jika bicara tentang cinta. Menikah juga belum pernah. Tapi tak ada salahnya berbagi pendapat dengan dunia ini bukan??

Saya belajar, cinta itu bukan hal yang statis. Cinta akan selalu berkembang, seiring cara kita memaknainya. Kadang lingkungan memaksa kita menjadi sesuatu yang mereka inginkan, sesuai  dengan imajinasi pribadi mereka. Kadang kita merasa risih, tak berterima hingga marah. Tetaplah tenang karena pada akhirnya keputusan seutuhnya berada dalam tangan kita sendiri. Seluruh pertimbangan, mimpi-mimpi, perasaan, janji maknailah dengan hati. Akan tiba saatnya pandangan semua orang itu tidak berart, hanya ada kita dan pilihan kita. Dulu saya tahu saya harus bersama dengan lelaki yang telah saya pacari bertahun-tahun lamanya. Jika tidak saya pasti akan mati. Buktinya saya masih hidup sampai sekarang, dan masih belajar bahwa cinta seutuhnya tak harus dimiliki. Jangan lupa, ketika tak mampu lagi menyembuhkan segala sakit di dada, bersandarlah pada sang Ilahi. Ia adalah setia menanti kita untuk selalu pulang padaNya.

 Cinta itu selalu memberi bahkan jika tak terbalas. Haruskah kita menerima imbalan ketika memberi sedikit hati kita untuk merasakan perasaan paling indah di dunia ini??? Pada akhirnya cinta dewasa tak akan merasa tersakiti. Tidak mudah memang melaui proses menuju sebuah kematangan paham akan Cinta. Waktu dan ketulusan adalah teman terbaik saat melalui masa-masa ini.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah puisi pengarang favorit saya Sapardji Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

#Selamat malam, Selamat mencintai dan mencari cinta#

Salatiga, 1 Agustus, 22.40 – Dalam perenungan tentang cinta dibawah sinar Purnama-

3 thoughts on “U for Unconditional Love

  1. Cinta itu harus memiliki kak🙂
    seseorang dapat mencintai sepenuh hati kalau dia sudah merasa memiliki😀
    fit pernah ‘galau’ jua dengan konsep cinta yang harus memiliki ini, tapi setelah sekian lama akhirnya bisa juga meyakinkan diri hahahaha😀

    1. Memang gak pernah habisnya kalo kita ngemeng soal cintaaaa.. Cinta memang selalu berevolusi mirip bumbu kuahnya steak yg semakin aneh2 aja.. hahaha
      Well, setiap orang punya cara sendiri untuk memahami, mengekspresikan, dan mengilhami cinta.. Selamat mencari kesasyiikannn cinta😀
      sik asiikkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s