Perenungan di Tahun yang ke dua puluh tiga

Hari ini bukan ulang tahun kelahiran saya. Ulang tahun pernikahan apalagi, sama sekali bukan. Hari ini hari minggu, hari yang baik untuk merenung. Paparan sinar mentari yang terik beradu sempurna dengan hembusan angin september. Mereka menceritakan bahwa hidup itu indah jika kita tahu bagaimana menikmatinya. Bagi saya, hidup itu layaknya menulis. Tidak semudah seperti kelihatannya. Komposisi kata-kata dalam rangkaian kalimat kadang bukan hasil buah pikir satu atau dua jam saja. Kadang membutuhkan waktu semalam hingga berminggu-minggu. Sebagian besar orang bisa menulis. Tinggal menggabungkan huruf-huruf dasar dalam sebuah kata lalu akhirnya berujung pada satu kalimat, gampang bukan??? Apalagi sekarang hanya tinggal menekan keyboard saja. Kalau salah tinggal di backspace atau delete. Selesai! Tapi untuk membuat sebuah tulisan menjadi karya yang tak ternilai, tak semua orang bisa. Saya ingat ketika harus menulis paper untuk lomba karya Ilmiah. Begitu banyaknya buku dan jurnal yang harus saya baca kemudian rangkumkan. Sungguh sangat menguras tenaga. Itulah harga yang harus saya bayar untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari biasa-biasa saja.  Demikian pula hidup. Harus ada usaha maksimal untuk menjadikannya bernilai. Harus ada harga yang kita bayar. Harga bukan hanya sekedar lembaran uang yang kita habiskan. Air mata, kesedihan, pengampunan, kesabaran, kehilangan, kepercayaan, seringkali lebih berharga dari sekedar uang. Sayangnya, kita tidak bisa menghapus bagian-bagian tertentu dari kehidupan yang salah atau menurut kita kurang pas dengan mudah, seperti menekan tombol delete.

Dalam tahun kedua puluh tiga, entah telah berapa banyak tulisan yang saya  torehkan. Entah torehan-torehan kecil diatas kertas lusuh, paper ilmiah, tulisan-tulisan di atas semen-semen pondasi rumah yang belum kering ataupun catatan mata pelajaran semasa sekolah. Yang saya tahu, saya masih harus terus belajar untuk membuat tulisan saya menjadi lebih baik, lebih berharga, lebih bermakna, dan menjadi inspirasi bagi orang lain. Dalam tahun kedua puluh tiga, saya merasa hidup semakin lebih indah bila kita mau terus bersyukur dalam segala suasana, mau belajar menghargai serta mengasihi. Persoalanya bersyukur, menghargai dan mengasihi bukan hal yang mudah. Angin dan mentari bersenandung di balik jendela saya, berpadu dengan gesekan Biola Vivaldi dalam The Four Seasons. Kata mereka, jawabannya kembali lagi pada hakekat kehidupan sesungguhnya, yakni terus Belajar. Belajar dan berserah diri pada Sang Pemberi hidup.

Salatiga, 23 September 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s