Butterfly, Fly Away

        Kertas lusuh berisi tarian tanganmu dengan spidol hitam masih kusimpan rapi. Aku menemukannya sebulan lalu kala merapikan lemari dokumenku. Kertas itu terselip diantara dokumen-dokumen lain dalam amplop cokelat bertuliskan namaku. Ya, dengan tulisan yang sangat familiar. Bentuk tulisan yang sama dengan lembaran-lembaran raporku yang selalu kau tanda tangani semasa aku bersekolah. Oh papa. Malam itu aku menangis sejadi-jadinya hingga rasanya kamarku berembun. Aku merindukan tulisan itu,  aku merindukanmu. Bahkan setelah dua tahun berlalu, rasa rindu hanyalah bentuk ekspetasi akan keegoisan. Memang benar kata Dewi Lestari dalam novelnya Akar, “Kita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata”. Ketika aku berjumpa dengan kata-katamu, rinduku meledak-ledak melenyapkan setiap sisi pertimbangan rasional.  Fragmen rasionalitas selama ini memaksaku percaya bahwa menghindar adalah jalan terbaik. Ketika saya merindukannya saya harap dia benar-benar ada, dapat dijangkau. Saya memilih menghindar karena tahu keinginan saya hal paling mustahil yang akan terjadi. Menghindar namun tak melepaskannya. Layaknya energi yang hanya berubah bentuk dan tak bisa dimusnahkan, begitulah mungkin rasa rindu yang coba kualihkan. Ternyata rasa rindu yang dialihkan atau disimpan itu tak baik. Benar, energi yang terkuras untuk menyimpan dan mengalihkannya terlampau besar. Malam itu, saya yang akhirnya dalam sebuah kesadaran merindukan dia yang tak bisa saya temui lagi,  merasa otot leher saya agak renggang setelah menumpahkan rindu dalam sebuah tangisan.

Ditengah kepingan usaha yang sepertinya sia-sia, malam itu saya seolah menemukan penyejuk diri yang luar biasa. Saya bahkan sudah lupa, papa pernah menulis surat itu. Dulu dia sering menelepon, jadi tak pernah teringat papa pernah mengirimkan sepucuk surat. Surat ini sekarang lebih dari berharga untuk saya. Sepucuk surat sebagai media pertemuan antar kami, menembus ruang dan waktu. Seolah dia berbicara pada saya dan saya dalam tenang mempercayainya. Surat ini menjadi jawaban akan kerinduan untuk berkomunikasi dengannya. Jika saya merindukan dia, saya kembali lagi membaca surat itu. Mungkin alangkah baiknya saya merindukan dia setiap hari. Merindukan yang bukan lagi mengharapkan dia harus nyata ada di sini atau dengan membayang-bayangkan keadaan yang seharusnya terjadi jika ia masih ada. Merindukan dalam arti percaya bahwa ia selalu hidup dalam hati dan setiap keresahan yang terasa menjadi motivator untuk membuatnya tersenyum di sana, di alam yang mungkin saja berbeda dengan kita. Perasaan rindu yang indah dan dilafaskan dalam setiap butiran-butiran doa.

Perasaan rindu mungkin lebih baik dilepas, biar ia terbang bebas bagai kupu-kupu. Rindu memang tak pernah benar-benar pergi ketika melepasnya. Hanya saja ia muncul dalam bentuk lain yakni keindahan perasaan. Perasaan yang indah saat kita percaya setiap rindu yang kita kirim dalam doa memberi kekuatan untuk menapaki hari-hari yang nampaknya semakin lusuh. Akhirnya saya tuangkan juga kerinduan kepadanya dalam sepucuk tulisan. hmmm…

Saya ingin menutup tulisan ini dengan penggalan lagu Miley Cyrus,”Butterfy, Fly Away” lagu yang mengingatkan saya akan masa kecil dan kenangan bersama papa.

Caterpillar in the tree
How you wonder who you’ll be
Can’t go far but you can always dream
Wish you may and wish you might
Don’t you worry, hold on tight
I promise you there will come a day
Butterfly fly away


*rindu ku padamu papa, kuharap bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah, yang bisa kau tengkok kapan-kapan jika kau juga rindu aku*

   -Terusalah merindu-

6 thoughts on “Butterfly, Fly Away

  1. Suka di kalimat : Rindu memang tak pernah benar-benar pergi ketika melepasnya.

    Banyak benernya tuh. Nggak ada yang bisa menuntaskan kerinduan selain pertemuan dan setangkup pelukan..

    Btw, itu sengaja ya nggak dikasih alenia? Pegel dimata.. 😀

  2. Ah menyentuh sekali dan nikmatilah setiap detik kerinduan yang kau rasakan.. karena itulah salah satu keindahan cinta, cintamu ke papamu🙂

    *Akar, ituuuu buku favorit sayaaa..😀 semua bukunya Dee oke ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s