#Challenge 23: A Song That I Want to Play at My Wedding

Diruangan bercat putih itu, Aleydis melihat keseluruhan dirinya sekali lagi di cermin.
Matanya yang cokelat besar itu tampak indah senada dengan gaun  berwarna peach yang ia kenakan.
Alethea adik perempuannya, hanya melempar senyum sembari sesekali melihat ke arah pintu.
tok, tok, tok! Boleh masuk? Ujar seorang lelaki paruh baya dari balik pintu.
Matanya sama persis dengan Alethea, biru jernih.
Ia kemudian mengecup kening Aleydis, matanya sedikit berkaca kemudian bertanya ‘sudah siap berangkat tuan puteri?’
Sangat siap ayah’ Ujar Aleydis seraya mengandeng tangan sang ayah.
 Mereka bertiga kemudian berlalu, berjalan menuju ruangan penuh dekorasi mawar putih itu. 

***

Aleydis menatap lelaki bertuksedo hitam didepannya lekat-lekat.
Hari ini Edgar tampak lebih menawan dari biasanya.
Rambutnya yang biasanya acak-acakan kini dipotong cepak.
Jambang tipis yang menjadi favorit Aleydis sudah tidak terlihat lagi.
Lesung pipinya sekarang lebih terlihat jelas ketika tersenyum.

Lelaki yang Ia temui enam tahun lalu disebuah toko mainan anak, masih tetap lelaki yang sama.
Senyumnya, tatapan matanya, kekonyolannya serta idealisme dan kegemaranya.
Mereka berdua sama-sama jatuh hati pada musik Frank Sinatra, Bryan Adams, dan Michael Buble.
Mereka penikmat jalan kaki dan karya-karya di museum apa saja.
Menganggap muffin dan scones adalah penemuan jenuas para peracik makanan.

Dan mereka  sangat percaya bahwa alien itu benar adanya.

Namun, mereka berdua tidaklah 100 persen mirip.
Aleydis suka berenang, Edgar tergila-gila pada sepak bola.
Aleydis tergila-gila pada vampire, Edgar pada werewolf 
Hingga sekarang masih terus berdebat, tentang manakah yang lebih baik, robin atau batman.
Tapi apalah arti perbedaan itu. Cinta memang yang melengkapi segalanya.
Asal ada kemauan untuk menyatukan dan mengerti.

Hari ini mereka teguh mengucap janji untuk setia, untuk sehidup-semati membangun rumah tangga.

Enam tahun bukan perjalanan yang mudah dan belum berakhir.
Justru saat mengucap janji mereka baru memulai kehidupan baru sebagai satu kesatuan.
Mereka berjalan menuju altar diringi lagu favorit mereka “I’ll Always Be Right There -nya Bryan Adams”.
Lagu yang memang sudah mereka cita-citakan akan hadir di acara pernikahan mereka.

****

. . . . . . . . . . . . . .inhale . . . . . . . .  . . . . . . . . exhale . . . . . . . . . . . . . . . . . . . inhale . . . . . . . . . . . . . . . . exhale. . . . . . . . . .

Well, MENIKAH!
Dengan siapa, kapan dan dimana?
Saya masih belum bisa menjawabnya sekarang.
Biarlah Ia yang empunya kuasa menunjukan jalanNya kemana harus melangkah.

Mengutip pernyataan penulis favorit saya, Andar Ismail : ‘Menikah memang mudah. Tetapi, berumah tangga itu sulit, bahkan sangat sudah (Dalam tulisan ke 24, buku Selamat Bergumul).
Jadi bersiapkanlah diri sebaik-baik mungkin sebelum menuju kesana.

-Salatiga, 14-12-12 : Selamat malam, selamat bertualang menemukan yang sepadan-

2 thoughts on “#Challenge 23: A Song That I Want to Play at My Wedding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s