#Challenge 24: A Song That I Want to Play at My Funeral

Hidup ini bagai perlombaan. Apalah artinya jika tak ada yang diperjuangkan didalamnya?
Setiap perlombaan punya garis finish, begitu pula hidup.
Jika sampai waktunya kita akan berakhir.
Kita tak tahu kapan waktunya setiap kita akan mencapai garis finish tersebut.
Tiada yang dapat memprediksi dengan tepat.
Dokter, peramal, orang pintar bisa punya prediksi dan data akurat tentang kapan kehidupan seseorang berakhir.
Tapi jika Tuhan belum berkendak bagaimana?
Manusia boleh berusaha dan berpendapat, Tuhanlah yang berkendak.
Kita memang tak akan pernah bisa menyelami pekerjaan tanganNya.

Jika kita berakhir di garis finish nanti, apakah yang akan kita bawa?
Harta, kekuasaan, atau kedudukan? Tentu tidak.
Sebuah peribahasa lama berbunyi seperti ini:
‘Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama’
Ya, hanya tinggal nama saja yang tersisa.
Nama adalah suatu pengantar kepada pencitraan orang terhadap kita, entah baik atau buruk.
Itulah sebabnya kita terus berjuang menciptakan yang terbaik.
Bukan untuk pencitraan diri semata dan berakhir dengan kepura-puraan, namun bagaimana hidup dengan kemurnian mempersembahkan yang terbaik.
Terbaik untuk siapa?
Tentunya untuk diri sendiri (haruskah?) dan bagi orang-orang serta alam sekitar.
Sesungguhnya hidup tak akan berarti jika tak memberi manfaat bagi mileu ini.

Dan bila kita dihadapi dengan akhir tersebut nantinya haruskah kita bersedih?
Menarik menyimak tulisan Andar Ismail (lagi) dalam bukunya ‘selamat bergumul’.
Bahwa kita semua adalah keturunan Imigran.
Imgran yang berimigrasi dan lahir di bumi ini.
Haruskah kita bersedih jika harus kembali ke tanah air kita dimana Bapa kita berada?

Mengucap selamat tinggal memang tak pernah mudah.
Akh, lebih baik berucap sampai jumpa saja, tokh kita semua akan berakhir bukan?
Jika tiba waktunya untuk saya berakhir, artinya tak ada satu katapun yang akan terdengar.
Biarlah Westlife dengan riang menyapa (anggap saja saya) dengan irama khas irlandia.
 “We had joy we had fun we had seasons in the sun (on this world), but the hills that we climbed were just seasons out of time (and back to our own nation).🙂

Sebab itu sungguh sayang jika hidup ini kita jalani sekedar sebagai rutin tanpa menikmati kedalaman maknyanya (Andar Ismail – sebuah pengantar dalam ‘Selamat Panjang Umur’)

-Salatiga, 15 Desember 2012 : Dalam sebuah perenungan dalam memasuki Adventus III yang semakin senyap- 

5 thoughts on “#Challenge 24: A Song That I Want to Play at My Funeral

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s