Katanya . . .

Katanya semua manusia bersaudara. Tetapi mengapa masih ada perang sana-sini?

Katanya suara penguasa adalah suara rakyat. Tetapi mengapa pemuasan kepentingan pribadi bagai deretan huruf tanpa titik?

Katanya berbeda itu indah. Lalu mengapa homogenisasi dan monokulturasi semakin gencar diwujudnyatakan?

Katanya diam adalah emas. Namun mengapa aku lebih haus jawaban kepastian?

Katanya selalu ada pelangi sehabis hujan. Namun mengapa langit nampak semakin gelap? Tak ada bulan maupun bintang.

Katanya wajar jika manusia berbuat salah. Lalu mengapa masih ada kesalahpahaman dan dendam?

Katanya kau mencintaiku apa adanya. Lalu mengapa memposisikan diriku berlaku seturur inginmu?

Katanya kau rela melepaskan ku. Namun mengapa masih kau paksakan venus terbit ditengah hari?

Katanya pernikahan itu menyatukan dua pribadi yang berbeda. Lalu mengapa harus ada perceraian sejak kita sadari semakin banyaknya perbedaan?

Katanya anak adalah anugerah Ilahi yang tak ternilai. Tetapi kenapa banyak dari mereka yang tersia-sia?

Katanya kematian adalah awal dari suatu kehidupan kekal. Lalu mengapa kita harus menanggis dan takut menghadapinya?

-Terlalu banyak kata-kata, bantahan dan berpikir! Ya, itulah kita manusia, yang katanya penguasa peradaban ini-

*Yogyakarta, 22-12-2012- dalam sinar matahari pagi dan kata yang menusuk mata-

8 thoughts on “Katanya . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s