Kisah secangkir kopi

secangkir kopi

Malam ini secangkir kopi duduk berdiskusi dengam kesunyian.
Ia sudah tak mengerti lagi caranya berkelakar dengan bintang, yang kebetulan malam ini menghilang dibalik badai.
Hanya sedikit waktu saja yang tersisa sebelum menerima hadirnya besok.
Dan aku tiba-tiba tersodok perasaan paling murni, seperti cahaya purnama dalam remah-remah kota ini.
Malam ini semuanya terasa lebih  ringkas.
Seringkas cara menyeduh secangkir kopi.
Seringkas dengan arah perasaanku saat ini.

Kuraih jemariku dan mengelusnya dengan ringkih.
Aku merindukanmu.
Namun rindu selalu terasa tak pernah cukup.
Jika romansa menjadi ruam pada kalimat yang diucap bertele-tele, mengapa kau memulai dengan ucapan selamat malam yang manis?
Aku marah, karena terus menanti kau berucap selamat malam.
Aku marah melihat diriku yang menyalahkan dirinya.
Betapa ironisnya hal itu karena kami belum saling berkenalan.
Mengapa aku terjebak dalam kebodohan imaji ini? Entahlah.

Kopi ini terasa semakin pahit disesap.
Menjengkelkan karena kadang berampas.
Seperti jarum yang tersembunyi dalam sekat-sekat baju, demikianlah sembilu rindu yang tersimpan.
Terus menyalahkan keadaan dan waktu rasanya sudah tak berbanding lurus dengan berkat-berkat yang dicurahkan kepadaku.

Udara malam yang kian menusuk, mewaraskan cita-cita hati bahwa berhenti adalah jalan terbaik.
Kekecewaan adalah manifestasi atas perasaan marah yang kali ini tidak bisa tepat sasaran.
Konon, memaafkan membuat hati lebih lega.
Lalu aku memilih jalan itu saat ini, tanpa makna berarti.

Aku memaafkan diriku yang masih berdiri di sini dan menanti.
Memaafkan dirimu yang terus berlari menjauh.
Memaafkan alam semesta yang merengkuh perjumpaan tak terencana.
Aku juga memaafkan dirinya yang sukses menyalakan kehangatan dihatimu dingin.
Aku bahkan belum sempat berpelukan dan menyapanya.
Mungkin suatu saat nanti kita semua bisa duduk minum kopi bersama, tanpa prasangka.
Alam semesta entah akan tersenyum atau menangis.

 23 Desember, 23.50 WIB-tidak ingin kucetak miring seperti biasanya

7 thoughts on “Kisah secangkir kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s