Dear bintang (yang paling redup semalam)

Teruntuk dirimu yang menyebut aku ibu

Kenapa diantara sekian banyak kata sapaan kau memilih kata itu?
Aku jelas bukan ibumu dan belum menyandang status itu. Aku juga bukan dosen atau gurumu.
Lalu pada suatu malam kau bilang mengapa demikian.
Benarkah? Kalau iya, sepertinya kau harus sering-sering membaca KBBI.

Aku sebenarnya tak ingin mempermasalahkan hal diatas, tapi nampaknya aku sedikit gugup memulai dari mana.
Kau tahu aku belum terlalu mengenalmu. Hanya bisa mereka-reka lewat komunikasi yang sangat singkat.
Kau layaknya bakteri laut dalam yang sulit sekali dikulturkan.
Tak pernah pasti dan penuh misteri.
Kadang membuat hati berontak tapi tak pernah bisa kutinggalkan begitu saja.

Senja ini aku ingin bekesah kepadamu untuk menebus semua pertemuan-pertemuan yang tak kunjung terjadi.
Sejak berjumpa denganmu, aku merasa alam semesta mempermainkanku dengan sangat-sangat sengaja.
Mengapa aku melihat, membaca dan mendengarmu dimana-mana?
Mengapa kita sama-sama tergila-gila pada sesuatu yang mungkin orang dewasa anggap konyol?
Mengapa kau bisa membuatku tertawa dengan hal-hal paling sederhana?
Mengapa ada emot icon di dunia ini dan yang kau kirimkan selalu ambigu wajahnya. #aku tak mengerti
Ditambah lagi kerancuan mengapa kita selalu lapar bersamaan saat tengah malam?
Aku hampir gila dengan semua ini.

Yang paling gila adalah ketika mulai muncul desir-desir mirip kupu-kupu beterbagan diperutku saat memikirkanmu.
Itu sesuatu yang ku panggil namanya… oh, aku takut mengucapnya.

Dan malam kemarin aku menatap bintang, yang paling redup di pojokan langit.
Aku masih percaya itu adalah kamu, karena sekarang kita terpisah jutaan sentimeter.
Kau akan tertawa membaca ini, pasti!
Oke Aku marah:/
Janganlah tertawa terlalu keras dan bawakanlah sekotak es krim seperti janjimu.
Maukah kita berdua serempak lapar di siang hari lalu dengan sadarnya pergi makan?

Semoga kali ini alam semesesta mendengar pintaku dan mempertemukan kita dalam satu ruang dan waktu yang tak tergugat keadaan. Hanya kamu dan Aku saja.
Hei,, aku masih percaya tak ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk kita.

Salatiga 16 Januari 2013  #surat ke tiga – dari seseorang yang kadang memanggilmu Om *waktu itu terjadi aku sedang malas menggunakan sapaan yang benar*

2 thoughts on “Dear bintang (yang paling redup semalam)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s