Dear Hujan (#surat satu)

Kepada rintik yang mengagumkan.

Dalam ketakutan dan kebencian, Aku masih tetap saja memujamu
Entah berapa kali aku menunda jadwal kepulangan dan janji-janji karenamu
Membatalkan pertemuan-pertemuan paling berharga yang diimaji
Lalu dengan kebulatan tekad yang semakin menjadi-jadi
Mencoba membencimu dengan sangat penuh
Dimulai dengan tatapan mata jingga
Disusul kata-kata umpatan yang menggema  menggerikan diudara
Tapi aku tak pernah bisa benar-benar membencimu
Adakah kau terluka dan lebam?
Maafkan aku, aku yang berpura-pura berlari mengingkari perasaan

Setiap kebencian yang hadir tak pernah sebanding dengan hal-hal luar biasa yang hadir karena engkau
Kau membasahiku dengan kenangan
Derai-deraimu melukiskan pesan keikhlasan
Kaki-kaki kecilmu menyentuh bumi, mendewasakan setiap wadah gersang
Seharusnya aku harus selalu lupa membawa payung
Tidak berlari saat menjumpaimu
Dan embiarkan tubuhku dibasuh guguran maha mulia itu
Menghanyutkan setiap ketakutan tak beralasan. Dingin, kotor, beku tak terlalu berarti bukan?

Engkau mahkluk  paling paradoks yang kujumpai
Tak ada lagi kata-kata selain pengakuan
Beginilah aku di kekinianku
Yang tetap mengagumimu

-Salatiga 16 Januari 2013penikmat hujan

19 thoughts on “Dear Hujan (#surat satu)

  1. hehe pemuja hujan nih ceritanya😀

    wah ngebut bikin 3 surat sekaligus donk ya..
    kalau yang surat ini memang acara tahunan dan jadwalnya serentak😀

    semangaat!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s