Analogi

Red Kite
Red Kite

Pada akhirnya hal yang semestinya aku sampaikan ku bungkus dalam sebuah analogi.
Karena untuk berbicara lantang rasanya terlalu vulgar.
Dalam permainan ini sungguh aku sangat menikmati bagaimana menukik bebas di angkasa sana.
Hembusan udara yang segar mengarah ke membeku sepertinya tidak lagi merugikan bagiku.
Aku menikmati keindahan yang telah lama ku lupa rasanya.

Diatas sini aku bahkan dapat melihat keseluruhan dunia.
Aku melihat segala sesuatu lebih holistik dalam pandanganku.
Menarik ulurku dengan cara-cara yang tak lagi biasa.
Terimakasih telah menjadikanku layang -layang. Ah, mana mungkin aku bisa marah padamu?

Kau pernah bilang, cuaca sedang bagus untuk bermain. Padahal cuaca di luar sana penuh kutukan-kutukan pemanggil matahari.
Hujan badai hebat!
Tapi kau tak pernah datang untuk bermain. Takut kah?
Aku sih bersedia bermain disana asal bersamamu. Sungguh tak ada perasaan takut sedikitpun.

Aku sungguh-sungguh menanti kita berdua di hantam cuaca paling buruk yang pernah ada dalam sejarah.
Karena dalam keadaan begitulah sebuah layang-layang akan putus dan hilang atau ditarik dan diselamatkan oleh sang pemain.

Sesekali kau perlu ada diatas ini. Menjadi layang-layang.
Hambatan udara di sini memang semakin berat tapi pemandangannya indah.

MAU AKU MAINKAN???

11 thoughts on “Analogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s