Tertawa Itu, Haruskah?

“Jika ingin bahagia, lepaskanlah tawamu semau yang kau bisa, hembuskanlah bersama angin yang berlalu di padang rumput yang menghijau, dibawah langit yang membiru, pasti kebahagiaan akan bersemayam dalam hatimu”.

Apa kata-kata yang ku baca barusan itu benar? Rasanya sudah terlalu lama aku lupa bagaimana caranya tertawa dalam kebahagiaan. Jangankan tertawa, hal yang lebih kecil saja aku lupa.
Tersenyum contohnya. Aku lupa kapan pertama kali merasakan kebahagian.
Ah, sudahlah aku malas mengingatnya, lagipula memori di otakku sudah terlalu penuh dan tak perlu di tambah lagi oleh hal–hal seperti itu, tidak penting bagiku.
Semuanya omong kosong belaka.
Terlebih lagi, di dekat rumahku tidak ada padang rumput, hanya ada gedung–gedung besar dan tinggi yang seolah–olah ingin menembus langit yang katanya berwarna biru itu.

Aku kadang muak dengan orang-orang yang tertawa lepas dihadapanku. Mereka seperti tak ada cela sedikitpun untuk dirasuki kesedihan. Sungguh, tak ada semburat kekhawatiran diwajah mereka saat tertasa.
Aku kadang monolog dengan alamku sendiri tentang orang-orang itu.
Apakah mereka benar-benar bahagia atau itu hanya topeng belaka? Topeng untuk menutupi bahwa kenyataaan hidup ini memang tak seindah yang kita bayangkan.
Topeng untuk menunjukkan betapa sempurnanya hidup yang diisi tawa itu?
Apakah tawa itu sebuah gambaran kesempurnaan akan hidup ini?

Ya, siapa yang tahu apa yang mereka sembunyikan di benaknya. Aku tak mau mengurusinya, sama sekali tidak penting.
Aku hanya tak habis pikir, apakah kebahagiaan itu hanya terbatas di lihat dari tawa saja?
Dan apa kebahagiaan itu sebegitu pentingnya kah?
Aku bukan orang yang “berbahagia” juga bukan orang yang “tidak berbahagia”, aku biasa-biasa saja.
Aku adalah orang yang memandang hidup secara realistis, aku tak suka bermimpi, berandai-andai, apalagi menghabiskan waktu hanya untuk melamunkan hal-hal konyol serupa “tawa kebahagiaan”.

Aku memang orang yang terlampau biasa saja.
Bangun tidur, berangkat kerja, pulang lalu tidur lagi semua dalam perasaan yang biasa saja.
Orang bilang aku jarang tersenyum. Memang aku seperti itu.
Sudah berkali-kali aku coba tersenyum bahagia, tapi aku merasakan sebuah kehampaan.
Dan aku tak ingin lagi berpura-pura lagi, untuk apa?
Jika tawa kebahagian menjadi ukuran hidup ini, mungkin aku dan sebagian orang yang alergi dengan kata bahagia pasti sudah tak ada lagi didunia.
Kami sudah dilempar jauh-jauh entah kemana sedari dulu.
Namun dunia ini begitu ramah masih mau menampung mahkluk-mahkluk seperti kami yang mungkin dipandang sebelah mata oleh sebagian orang.

Jadi, apa kata–kata yang ku baca tadi itu benar adanya? Juga apa perlu setiap orang merasakan kebahagiaan?
Apa harus aku mencari padang rumput dan langit  agar aku bisa merasakan tawa kebahagiaan? Kurasa tidak.
Tidak semua orang mesti melakukan ritual itu dalam kehidupannya, mereka punya cara sendiri untuk bertahan di bumi yang sudah tak jelas ini, begitupun aku.
Aku bisa menikmati hidupku tanpa perlu melibatkan tawa kebahagiaan di dalamnya.

Kebahagian dan cara menyikapinya adalah kebebasan memilih bagi setiap orang.
Mungkin aku tak perlu tertawa bahagia untuk menunjukan pada dunia ini “Hei, aku tertawa dan aku bahagia”.
Dengan biasa-biasa saja seperti ini nyaman bagiku.
Dan jika aku tak pernah tersenyum, memang seperti itulah aku.
Biarkan aku dengan bebas menjalani hidup ini dengan caraku sendiri.
Tak perlu tertawa sepertinya kita juga semua masih bisa hidup.

#AWeekofCollaboration
Created by : Masya Ruhulessin (@didochacha) dan   Eka Puspa Dewi   (@ekapusp)

10 thoughts on “Tertawa Itu, Haruskah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s