Maaf yang Tertunda

Terselip keenganan di hatiku sebenarnya untuk hadir di acara seperti ini. Lelah tubuhnya sehabis sesi pemotretan semalam belum sepenuhnya hilang.Ia memantapkan langkah menapaki tangga utama gedung berwarna hijau kebiruan, yang biasanya dijadikan sebagai tempat pameran lukisan.

Namun perasaan lelah itu seolah-olah hilang secara menyeluruh ketika ia melihat seorang perempuan di dalam gedung itu. Perempuan bergaun merah, berperawakan sedang dengan bola mata bulat yang menawan.
Hidungnya yang mancung berpadu sempurna dengan lesung pipi yang sesekali muncul saat berbicara.

Wanita itu, Jia, adalah seorang kurator lukisan terkenal yang sudah banyak berkolaborasi dengan berbagai seniman terkenal.
Ia, adalah satu-satu alasanku  merelakan waktu istirahat panjang di tempat tidur nyamannya.

“Beib, kok lama sih nyampenya? Hayoo, mampir ke mana dulu?” Jia segera menghambur ke arahku dan menghujaniku dengan ciuman di pipi dan sekilas di bibir.

“Biasa, Bieb, Jumat malam begini jalanan Jakarta kan memang jadi seperti tempat parkir. Mobil di jalanan tapi seperti parkir”.

Aku melingkarkan tangan di pinggang Jia dan mengikuti panduannya memasuki gedung pameran. Jia bilang, 10 menit lagi acara akan segera dimulai.
Para tamu undangan dan 4 pelukis yang karyanya dipamerkan sudah hadir di sana.

Benar saja. Sepuluh menit kemudian acara dibuka dengan Jia yang merupakan kurator, pemilik galeri, sekaligus penggagas acara ini memberikan pidato pembukaan yang disambut degan tepuk tangan meriah. Aku tersenyum miring melihat Jia berdiri anggun di podium. Ia laksana dewi.Semua mata tak lepas memandang sosoknya. Rasa bangga merasuki sanubariku.

Aku, Indra Bagaskoro, adalah lelaki beruntung yang bisa mengambil hati sang dewi. Aku, model yang tak sengaja ditemukan seorang pencari bakat ketika aku berprofesi menjadi pelayan di sebuah warung soto kaki lima, kini menjadi lelaki paling beruntung di dunia.

Tepuk tangan masih membahana ketika secara tak sengaja mataku bersirobok dengan sepasang mata sayu milik perempuan bergaun putih di seberang ruangan.
Seolah sebuah truk melaju kencang menabrakku lalu melindas kepalaku demi mendapai kenangan bahwa perempuan itu adalah perempuan yang menorehkan luka di hatiku, sepuluh tahun silam.
Agatha.

Agatha, sebuah kenangan yang tak ingin lagi ku bangkitkan.  Sungguh, tak pernah ingin lagi. Sial! Mengapa sosok itu harus hadir lagi di sini. Hadir dalam ruang dimana hatiku telah ku tata supaya semuanya kembali baik-baik saja. Dia, wanita yang pernah hadir meledakan kebahagian sempurna di hidupku lalu akhirnya pergi menguburku dalam lembah kekecewaan teramat dalam. Aku tidak pernah menyangka gadis yang sepertinya mencintaiku sepenuh hati itu pada suatu waktu akhirnya meledak tanpa bisa ku bendung.

“Sudahlah Ndra, jangan paksa aku lagi. Kamu pikir aku bisa hidup apa dengan gajimu sebulan?? Mau makan apa kita nanti? Aku bahkan sudah muak dengan bau soto yang datang bersamaan denganmu. Cinta saja itu tak pernah cukup!!”

Keterkejutan seakan memerangkap lidahku. Aku tak bisa lagi berbicara. Memegang tangannya saja aku sudah tak lagi mampu. Aku hanya bisa memandangi pungungnya yang berjalan meninggalkan aku dengan sejuta tanya mengapa. Punggung yang meninggalkan ku dalam sebuah tangis paling haru seumur hidupku.

Aku marah, marah sejadi-jadinya hingga menanggis adalah ritual yang harus ku jalani setiap hari. Pernah aku berpikir untuk mengakhiri hidupku suatu waktu, supaya tak ada lagi ada air mata dan kesedihan. Itu adalah hal paling bodoh, jika ku pikir lagi sekarang. Aku mencoba bangkit lagi menyusun jiwaku yang telah berhamburan tak teratur. Tuhan memang Maha Pengasih, Ia menyediaakan kejutan-kejutan indah yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, termasuk pekerjaan dan Jia.

Oh Tuhan, lalu hari ini mengapa dia hadir lagi? Aku merasa alam semesta berkonspirasi dengan neuron-neuron diotak ku. Aku marah dan mataku memanas lebih cepat dari biasanya. Aku benci hari ini.

Seharusnya aku memang tak perlu datang ke acara ini. Aku bukan pencinta lukisan.
Hanya karena Jia, kupaksakan diri hadir di sini. Sekarang aku tahu firasatku benar.

Semakin malam, acara semakin meriah. Setelah tiga puluh menit acara lelang lukisan yang heboh bak pasar tumpah, kini para tamu undangan dipersilakan menikmati after party yang diselenggarakan di ruangan bernuansa bar cowboy yang berada persis di sebelah galeri.

Aku tak begitu menyukai after party, namun Jia sudah barang tentu wajib menemani para tamunya. Aku menolak dengan halus ajakan Jia, dan kukatakan aku akan menunggu saja di lobby galeri sampai after party selesai. Tentu saja Jia keberatan tapi dia sudah lebih dari memahamiku. Percuma saja memaksaku ikut after party.

Aku menyesap koktil yang tersaji di lobby sambil menyalakan iPad miniku. Daripada bengong, lebih baik membaur dulu dengan para penggemarku di dunia twitter.A ku ingin tahu apakah gosip tentangku yang katanya menjadi model bisa dipakai yang merebak seminggu lalu masih ramai.

Kamu…Indra, kan?”

Belum juga aku sempat menghubungkan koneksi iPad ke wifi gallery, kudengar suara merdu menyapaku. Seketika aku mendongak ke arah sumber suara, dan sebentuk wajah Agatha memenuhi pandanganku. Sontak darahku menggelegak. Spontan aku hendak berdiri, namun Agatha mencegahku.

“Ndra, please. Aku cuman pengen ngomong sebentar sama kamu. Mohon berikan aku satu kesempatan ini”.

Aku tertegun sesaat demi mendengar kalimatnya yang penuh dengan nada permohonan itu. Selirik pandang kulihat sebercik air tampak berkilau di sudut matanya. Aku duduk kembali dengan gelisah.

“Apa maumu?”

“Aku ingin minta maaf padamu, Ndra.”

“Kenapa?”

“Aku sadar, aku telah menyakitimu. 10 tahun lalu, umurku belum genap 17, Ndra. Tak banyak yang bisa kupikirkan kecuali kepastian akan masa depan”.

Aku tak bersuara merespons kalimatnya. Aku tahu arah pembicaraan Agatha tapi aku malas menggali ingatan. Aku ingin sepenuhnya melupakan segalanya. Namun, semakin kuat penyangkalanku, semakin mendesak juga keraguanku. Mengapa masih ada setitik nyeri di ulu hatiku?

“Orangtuaku mengharapkan yang lebih dari calon suamiku. Mereka tak mau jika aku harus menikah dengan lelaki yang tak sepadan denganku. Maafkanlah aku. Aku tak sanggup melawan kehendak mereka kala itu. Kamu tahu, kan, Ndra?”

Kali ini kukuatkan diri untuk menatap matanya secara langsung. Semburat kesedihan mengobar di sana. Apakah ia sedang bersandiwara? Apakah ia berniat menipuku? Mempermainkanku? Mengapa tiba-tiba ia datang dan meminta maafku? Oh, dan di mana suaminya? Suami yang dibanggakan keluarganya itu. Pembalap muda berdarah biru itu.

“Mengapa baru meminta maaf setelah sekian tahun berlalu? Mengapa tidak dari dulu?” Kudengar lemparan pertanyaanku yang bertubi-tubi.

“Aku sudah berusaha mencarimu sejak beberapa tahun lalu. Tapi sia-sia saja tak ada yang mau memberitahu ku. Mereka di sana, mereka yang mengenalimu, semua membenciku. Aku tak tahu harus mencari kemana lagi. Hingga suatu kali gambarmu terpampang di sebuah majalah. Aku, aku merasa malu Indra. Aku tidak berani lagi mencarimu. Aku bahkan tak pernah tahu kita akan dipertemukan di sini” Agatha mulai serak berujar

Aku menyesap udara begitu dalam. Apa yang harus aku jawab pada wanita yang pernah menyakitiku ini. Sesak. Hanya itu yang bisa ku rasa.

Aku membuang muka dan pura-pura tertarik mengamati lukisan seorang anak kecil yang tertawa geli karena kakinya terperosok ke lumpur di sawah.

Aku tahu, menyimpan dendam hanya akan menyiksaku. Tapi, dosa Agatha dan segenap keluarga besarnya begitu besar. Bagaiku, merekalah penyebab Bapak terserang stroke dan akhirnya meninggal. Bekas penghinaan itu masih membiru di hatiku.

“Aku benar-benar menyesal atas semua yang aku dan keluargaku lakukan, Ndra. Sungguh.”

Aku bergeming. Pandanganku masih terfokus pada gigi-gigi tak beraturan gadis cilik di lukisan itu. Andai saja bisa kuabaikan semuanya. Andai saja.

“Ndra…”

“Sudahlah, Tha. Tak perlulah kau merengek-rengek begitu. Sebaiknya kau pulang saja. Kembalilah pada suami pembalapmu yang sempurna itu.”

Hening. Untuk beberapa saat tak kudengar Agatha berbicara. Bahkan, desah napasnya pun tak terdengar olehku. Perlahan, aku menoleh ke arahnya. Betapa terkejutnya aku ketika kudapati Agatha sudah berurai airmata. Pipinya basah. Sia-sia ia menyapunya dengan selempar tisu.

“Rifano…dia…tak jadi pembalap lagi, Ndra. Dia lumpuh saat ini.”

Aku terhenyak.

Agatha masih dengan nada terisak mencoba melanjutkan bicaranya.

“Aku mencintainya, tapi aku juga membencinya Indra. Dia dengan gejolak emosi yang tak pernah bisa kuduga itu, membuatku begitu marah. Aku benci diriku sendiri. Aku benci meninggalkan kamu benci dengan semua yang terjadi sepuluh tahun ini Indra!”

Tanpa ku sadari tanganku meraihnya kearah dadaku. Tak ada lagi kebencian yang merajala begitu hebat selama sepuluh tahun terakhir. Mereka luruh begitu saja hanya dengan sebuah pelukan. Memang sebuah hati selalu punya cara yang luar biasa untuk memadat setelah hancur berkeping-keping.
Kami larut dalam sebuah pelukan, namun pelukan yang bukan lagi sebagai sepasang kekasih. Ini sebuah pelukan perdamaian yang ku nanti bertahun-tahun.

Aku melepas pelukan seraya memegang pundaknya lalu dan berbicara.

“Kau mungkin sudah tahu, Aku sudah punya Jia dan aku bersyukur punya dia. Aku sudah bercerita tentangmu padanya dan dia yang mengajariku arti sebuah kata maaf.
Hari ini adalah hari yang tepat untuk bilang, aku memafkanmu Agatha.
Aku memang marah namun sampai detik ini, aku masih mencintaimu.
Tapi cintaku bukan lagi dengan cara sepuluh tahun silam. Cinta ini berbeda. Kau harus paham itu. Jangan pernah menyesali setiap keputusan yang telah kau buat, apapun yang menjadi konsekuensinya kelak. Dan soal suamimu, Agatha kembali lah padanya. Dia menantimu. Perdamaikanlah dirimu dengannya layaknya aku kini dengan mu”.

Agatha meliriku dengan mata masih sembab namun ada senyum yang mekar di bibirnya.

“Terimakasih Indra. Terimakasih sudah memaafkanku”.

Kulihat dari jauh wanitaku sedang tersenyum padaku. Aku tahu dia membiarkan ku untuk tetap kuat berdiri berdamai dengan masa laluku.

Ah, Jia. Aku mencintaimu sayang!

Tulisan kolaborasi  Masya Ruhulessin dengan Yuliono

34 thoughts on “Maaf yang Tertunda

  1. Maaf ada baiknya memang tak ditunda, selagi ada kesempatan untuk menuntaskannya, pasti akan membawa lebih banyak kebaikan dan rasa lapang dalam dada.😉

    Senang sekali bisa terus membaca. Semangat terus ya Cha!😉

      1. Senang bisa membaca banyak cerita dan sudut pandang baru cha. Jadi, maaf ya kalau masih akan sering “mengganggu” di sini. Hihi.😀

  2. mantaph euy. memaafkan. semoga aku bisa:mrgreen:
    saran dikit mba, untuk sudut pandangnya, kadang pov 1, kadang pov 3. mungkin karena kolaborasi ya.
    tapi bagus kok mba, salam buat partnernya😀

    1. bang ijull dapet salam dari Utie nie.. hehehe.. nanti aku sampein.. lgsg aku mention nanti di twitter ..😛
      thanks buat sarannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s