Gelap yang Menggantung

Aku tidak pernah absen berdialog dengan Tuhan.
Jalan hidupku selalu terang, aku bisa merasakan tangan Tuhan yang membelai kepalaku, menenangkan, setiap kali masalah dan kesulitan hidup memaksa memborgol tangan dan kakiku hingga aku tak dapat bergerak dan mati rasa.
Setidaknya, selama dua puluh lima tahun hidupku, aku tidak pernah merasa meninggalkan-Nya, dan Dia pun tak pernah beranjak dari sisiku.

Orang bilang tidak ada yang abadi di dunia ini.
Semua kesedihan, kebahagiaan, bahkan kejayaan tidak pernah langgeng sepanjang waktu berlari.
Aku menyadarinya dengan kesadaran penuh.
Sejak aku bertemu Faisal aku mulai memiliki tandingan kekasih.
Kini Tuhan bukan lagi ‘si nomor satu’. Faisal datang menyedot perhatianku, jiwa dan raga.
Seluruhnya. Bukankah cinta juga karunia dari-Nya? Aku menganggap ini cara Dia membuatku bahagia.

Semakin panjang waktu yang ku lalui bersama Faisal, semakin memperpanjang jarak ku dengan ‘Si Nomor Satu’ ku terdahulu. Aku seakan mulai lupa bagaimana caranya berdoa.
Sajadah pink fuscia disudut kamar yang kini ramai digerayangi debu tak pernah lagi aku pedulihkan.
Aku bahkan pulang ke kos kalau ingin mengambil persedian baju saja.
Waktu bersama teman-teman pun sudah tak berarti lagi  seperti dahulu.
Bahkan kini aku pun lebih sering melakukan hal yang ku benci pada awalnya, berbohong.

“Maaf ya, aku banyak kerjaan dari kantor yang harus diselesaikan”. Atau “Aku capek sekali, pengennya istirahat aja dikos”.

 Begitulah kilahku setiap kali diajak keluar dengan teman-teman. Padahal nyatanya aku sedang di rumah kontrakan Faisal.
Aku lebih menikmati malam-malam bercengkrama dengan Faisal, lelah lalu akhirnya tertidur dalam pelukannya.
Faisal seolah menyedotku kedalam dunianya. Aku benar-benar dirasuki roh ‘Faisal addicted’.
Pernah satu kali aku ditinggal kerja ke Surabaya. Aku sepanjang hari tidak bisa tenang.
Rinduku muntah dimana-mana. Tak bersamanya satu hari saja aku sudah mau seperti orang gila.

Ah, aku memang sudah gila. Gila dengan cintaku yang mengebu-gebu pada Faisalku.
Tapi aku tak pernah merasa bersalah atau terbeban.
Aku sangat-sangat menikmati kegilaan ini!

***

Malam ini ulang tahunku. Faisal berjanji memberiku hadiah istimewa.
Dari bangun tidur pagi tadi hingga senja menutup hari, aku tak dapat berkonsentrasi.
Adrenalinku berpacu kuat memikirkan hadiah apa yang sudah dipersiapkan untuk ulang tahunku.

Jam 6 sore Faisal menjemputku di kantor.
Hari ini ia tampan sekali, kemeja coklat susu dan sepasang tangan yang sengaja disembunyikan di belakang punggung telah menyambutku.
“Halo Nona cantik, ini untuk menemani detik-detik pergantian umurmu“, sapanya sambil menyodorkan sekotak cokelat yang kelihatan sangat mahal.
Aku pun menerima dengan senang hati sambil mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan Faisal yang masih bertekstur kasar hasil cukur paginya yang tidak rapi.
Faisal rupanya telah memesankan satu meja di restoran eksklusif di hotel mewah yang menyajikan makanan kesukaanku sepanjang masa, fettucini carbonara.
Aku dapat merasakan makan malam ini sebagai anugerah terindah dari Tuhan melalui lelaki yang kini duduk di hadapanku.
Oh iya, Tuhan! aku hampir lupa dengan-Mu.
Nanti setelah ini aku akan mengingat-Mu lagi.
Untuk sekarang izinkanlah aku berdua dahulu dengan lelaki yang paling kusayangi ini ya.
***
Jam 10 malam, Faisal menggenggam tanganku ke arah lobby.
Ayo kita rayakan malam berdua, Honey. Aku harus memberikan hadiah ulang tahunmu di tempat yang hanya dapat dinikmati oleh kita berdua, tak ada jeda, bahkan udara di sekitar kita tak akan bisa memisahkan eksistensi kebersamaan kita“. Faisal mulai merayuku sambil mengerlingkan mata.
Adrenalinku berpacu mengalahkan kecepatan smash Serena dan Venus William di arena Wimbledon.
Udara semakin membuat tanganku dingin, tanda semangat tengah menguasai atmosfer lobby megah ini.
Faisal menggenggam pinggulku erat lalu membawaku masuk ke sebuah kamar indah.
Kamar itu bercat kuning gading itu berhiaskan lilin di mana-mana. Aroma patchouli menyeruak di udara berpadu romantis dengan musik lembut. Aku takjub.
Ditambah lagi pemandangan di luar, lampu-lampu malam yang begitu menggoda.
Semua ini untuk aku sayang?” ujarku sambil membenamkan wajah ke dadanya.
Faisal tak menjawab, Ia memandang mataku tajam lalu melumat bibirku cepat.
Aku cinta kamu Kirana. Aku tak ingin lagi berpisah dengan mu. Biarlah malam ini kita menjadi satu“Napasku memburu tak beraturan.
Berbagai rekaan bergejolak hebat di pikiranku.
Aku dan dia bukan anak kecil lagi memang, dan aku tahu malam ini dia ingin sesuatu yang lebih dari biasanya.
Dia ingin sesuatu yang lebih dari sekedar pelukan dan ciuman.Aku memperat pelukan ku padanya.
Oh, aroma tubuhnya  begitu menggoda.  Rambutnya, matanya, alisnya, semuanya.
Malam ini seolah dia terlihat lebih keren dari biasanya.
Aku mengigit bibirku lalu menatap matanya yang sedari tadi tak bisa lepas dariku.“Sayang, apa semua ini akan baik-baik saja?” sergahku seraya mencoba meregangakan pelukannya
Apakah kamu tidak mencintai ku Kirana?”
Kau tahu tak pernah ada yang ku cintai lebih besar selain dirimu“Ia tersenyum, lalu mendekap tubuhku lebih erat. Setelah itu hanya sebuah kenikmatan yang ku rasakan.
Aku tak lagi ingat semua orang bahkan pekerjaanku yang semakin menumpuk.
Aku benar-benar tenggelam dalam semua keindahan ini. Semua keindahan yang katanya atas nama cinta ini.

***

Aku duduk di depan bangku taman di seberang bangunan pusat rehabilitasi tempatku bernaung saat ini.
Pikiranku menerawang ke hari ulang tahun paling gelap setahun lalu.
Betapa bodohnya aku yang membungkam paksa suara hati yang berusaha mengingatkan keberadaan Tuhan.
Aku telah memberikan satu-satunya harga diri kepada seseorang yang kupercaya, orang yang sama dengan yang baru saja meninggal kemarin sore karena virus HIV.
Faisal telah bertekuk lutut di hadapan maut dengan satu warisan yang mesti kutanggung, virus yang sama yang menjalarinya kini juga berkembang biak dengan cepat di dalam tubuhku.

Aku tak tahu hingga berapa lama aku bertahan, tetapi jiwaku sudah terkoyak.
Tubuhku terlalu lunglai menerima berbagai kejutan yang membuat hariku menjadi begitu mendung.
Janin yang gugur dan hati yang hancur begitu juga pekerjaan yang sudah tak lagi dapat kujalani.
Hanya tinggal sedikit sisa kewarasanku sekarang.
Bahkan obat-obatan yang diberikan oleh dokter tidak dapat meredam goncangan hebat di dalam hati sudah sangat remuk redam tidak karuan.
Dan virus HIV ini adalah sebuah manifestasi kekecewaan ‘Si Nomor Satu’ yang suaranya kubuat bisu.
Pendulum waktu terus berdetak, jantungku seakan ingin menyerahkan diri,mengaku bersalah dan menyandarkan satu-satunya sisa kesadaran kembali pada-Nya, ‘Si Nomor Satu’.
Gelap, pengap, lemah, pasrah. Curahkan cinta-Mu, kumohon, Sang Nomor Satu.Senja ini terasa lebih suram dari biasanya.
Aku merasa kini diriku sempurna menyatu dengan kegelapan disekitar.
Rintik hujan mulai bercengkarama dengan tanah gersang itu. Lalu dengan lembutnya juga menyentuh wajahku.
Kurasakan sesuatu yang telah lama terlupa, ya bibirku kembali mengembang sempurna
Lalu aku manusia yang berdosa ini bergunggam, ‘Tuhan, Tuhan, itukah Engkau yang menyapa?”

#AWeekofCollaboration hari – 3 | Tulisan Kolaborasi Masya Ruhulessin dan Nurhadianty Rahayu

15 thoughts on “Gelap yang Menggantung

  1. Kalau masih bisa mencegah segala sesuatunya sedari awal, mungkin memang akan lebih baik seperti itu.

    Terima kasih ya Cha, tulisan kolaborasi kamu kali ini sangat ‘bermakna’ dan membawa banyak pelajaran.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s