Silence Letters

Kita sudah lama tidak pernah lagi saling bertukar cerita atau hanya sekedar saling menyapa.
Aku bertanya-tanya mengapa tapi kau tak pernah memberi jawaban.
Lalu ku putuskan untuk menulis sepucuk surat. Mungkin saja hatimu akan luluh sutu waktu nanti.

Hari ini tepat hari ke seratus aku mengirim lembaran -lembaran kertas kepadamu.
Setiap lembaran yang kuisi penuh dengan ribuan huruf sampai benar-benar penuh.
Aku sudah pastikan tak ada lagi sudut yang kosong pada mereka.
Huruf-huruf itu sudah ku lumuri dengan cinta dan rindu yang berlebih.
Aku yakin kau pasti akan senyum-senyum sendiri lalu loncat-loncat kegirangan saat menerimanya.
Disetiap surat itu juga kuselipkan aroma kopi kesukaanmu.
Ah, mengapa kau suka sekali barang yang bisa membuatku terjaga sepanjang malam?
Kubungkusi surat itu dengan amplop biru, biru langit, warna favoritmu.

Tapi sampai detik ini, tak satu pun surat balasan yang kuterima darimu.
Padahal disetiap akhir surat aku telah menulis pesan “P.S: Kunanti balasan darimu”
Tidak, surat ini tidak salah alamat. Aku sendiri yang meletakkan nya di kotak pos depan rumahmu.
Apakah kamu terlampau marah padaku hingga tak pernah membalas surat ini?

Aku tahu, cepat atau lambat kau akan mengetahui semua hal yang aku sembunyikan darimu.
Dan aku pun sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi reaksimu yang pasti tak  terima akan kenyataan itu.
Namun, mau bagaimana lagi? Ayah dan ibu tak memberiku pilihan.
Pria itu telah menjadi jodohku bahkan sebelum aku mampu berbicara.
Tak pernah ada paksaan dalam perjodohan ini; tak pernah ada ketidakrelaan.
Aku sudah tahu dari dulu bahwa pria itulah yang akan menjadi jodohku pada akhirnya.
Tapi, mengenalmu adalah sebuah ketidaksengajaan yang tak pernah kuduga.
Sebuah simpangan yang kuambil di jalan yang telah orangtuaku bangun untukku.
Aku masih ingat dengan jelas kala itu, di halte bus yang menjadi saksi bisu pertemuan kita.
Tanpa sapa atau interaksi, kita mengenal dalam keheningan.
Saling melirik, tersenyum diam-diam, namun tetap bertahan dalam hening.

Sampai satu ketika alam semesta berkonspirasi menumpahkan rintik tanpa jeda yang menjebak.
Akhirnya kita mulai bicara panjang lebar, menghabiskan waktu dan kedaan yang benar-benar sepeti disengaja itu.
Setelah insiden itu, selalu hadir pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Pertemuan-pertemuan yang berhasil menguliti satu persatu rahasia masing-masing.
Semakin sering berjumpa ada rasa aneh yang muncul kemudian.
Akh. Kita jatuh pada kubangan yang tak semestinya.
Kubangan kenikmatan yang semua orang agung-agungkan. CINTA.
Aku tahu aku telah mengambil jalan yang salah.
Namun aku benar-benar tak bisa membatasi langkah kakiku untuk berlari padamu.
Yang lebih salah adalah ketika aku tak pernah bisa membuka mulutku didepan mu untuk sebuah kejujuran.
Kejujuran bahwa aku sudah tak akan pernah merajut masa depan bersama mu.

Hah…” Aku mendesah, menatap amplop biru berisi surat untukmu.
Dengan keyakinan yang sama yang selalu aku tanamkan setiap kali aku menyelesaikan surat-suratku.
Kali ini kamu akan membalasnya. Pasti.

Mama! Ayu keluar bentar ya! Mau beli cokelat di supermarket!”.
Aku berseru sebelum benar-benar menghilang di balik pintu rumahku.
Sembari tersenyum singkat pada Mang Ujang—supir keluargaku, aku melangkah menuju rumahmu.
Rumah sederhana yang hanya berjarak beberapa blok saja dari rumahku.
Baiklah, Dipta Srikusuma.
Kupertaruhkan semuanya pada surat keseratus ini.
Jika kamu masih tak menanggapi, aku akan menyerah; sama sepertimu.

Seharusnya kamu bilang kalau kamu sudah dijodohkan, Yu, jadi aku tak berharap terlalu banyak pada hubungan kita”.

Aku tersenyum miris, udara sore di pemburit Desember sangat lembab, hingga terkesan sendu dan melankolis.
Dan sialnya, suasana seperti ini selalu berhasil memaksaku untuk mengingat kamu dan saat-saat terakhir kita.

Maafkan aku karena menyembunyikannya darimu, tapi tolong mengertilah, satu-satunya orang yang kucintai itu kamu. Aku begini karena aku memikirkan hubungan kita”.

“…”
Hening.
Kala itu hanya hening yang menyapaku, kamu tak menjawab, hanya terduduk lesu di bangku café itu.
Hujan mengguyur deras beriringan dengan petir yang menyambar mengisi keheningan kita.
Pelan tapi pasti, kita kembali terperosok dalam keheningan itu.
Namun saat itu, yang berbeda adalah cinta yang dibawa keheningan terasa begitu menyakitkan.

***

Aku akhirnya tiba di depan rumahmu.
Tepat seperti dugaanku, surat ke-99 yang kuselipkan kemarin di kotak pos sudah lenyap.
Berarti ada kemungkinan kamu membacanya bukan? Atau setidaknya mengetahui bahwa aku mengirimi mu surat.
Aku kali ini tidak ingin cepat-cepat pulang seperti biasanya. Meletakan surat dan berlari pulang ke rumah
Aku penasaran melihat siapa gerangan yang mengambil suratku padamu.
Kamu langsung atau siapakah? Ah, ada rindu yang menyeruak tiba-tiba padamu.

Aku cepat-cepat bersembunyi dibalik pohon besar di depan rumahmu.
Masih ada ketakutan luar biasa jika teringat keheningan yang mencekam kala itu.
Aku masih takut bicara padamu.
Tiba-tiba kudengar pintu depan rumahmu berdecit.
Seorang wanita muda, tinggi semampai keluar lalu berjalan menuju kotak pos dan mengambil surat kepunyaanku.
Sepertinya dia sudah hapal jam berapa suratku akan datang.
Setelah matanya puas menyapu keadaan sekitar, wanita semampai itu masuk kembali lagi.
Banyak praduga menyesakkan dadaku.
Jangan-jangan, perempuan itu.. tidak-tidak. Semoga bukan.

Semoga wanita itu bulan kekasihmu yang baru, semoga wanita itu hanya saudara atau kerabatmu yang kebetulan bertandang. Atau apa pun itu!
Paru-paruku semakin terasa terhimpit di dalam rongga dada.
Air mata pun mulai meleleh di sudut mata, dan aku tak kuasa lagi menahan lebih banyak benda cair itu meleleh.
Tangisan mempengaruhi emosiku hingga tubuhku lemas tak bertenaga.
Aku ambruk ke tanah dan menangis.
Segala prasangka buruk dan dugaan tetang siapa wanita yang mengambil seluruh surat-suratku itu membuat hatiku semakin sakit.
Aku sungguh ingin mengambur masuk ke dalam rumahmu dan mencari-cari keberadaanmu yang telah menghilang selama ini. Atau jika perlu, kudobrak pintu kayu itu. Namun, aku terlalu lemah, aku terlalu lemah bahkan hanya untuk berpikir logis.

“Cekreeeek…”

Pintu rumahmu mengisyaratkan tanda hendak dibuka.
Aku mencoba mengumpulkan kekuatan untuk melihat siapa yang akan hadir kemudian.
Dan ternyata pilihan yang buruk. Kau keluar sambil menggengam erat tangan perempuan tinggi semampai itu.
Semburat bahagia terpancar dari wajah kalian berdua
Langit seakan runtuh dihadapanku. Ternyata perempuan itu penyebab kau tak membalas semua surat-suratku lagi.
Aku segera berlari menghampiri kalian.
Aku benar-benar dirasuki amarah. Aku melupakan bahwa sesungguhnya akulah yang menyebabkan semua hal bodoh ini.
Aku kalut hingga tak melihat sebuah mobil melintas kencang di jalanan depan rumahmu.

*Brukkkkkkk* Tubuhku dihempas keras.

Seketika itu juga rasa sakit yang sungguh luar biasa menerba sekujur tubuhku yang tergeletak tak berdaya di atas aspal.
Bau anyir darah terasa jelas, entah darah dari  bagian mana. Yang pasti, semua sakit, sakit sekali.

AYU!!? AYU!!”
Dalam sisa-sisa kesadaranku kudengar kamu memanggil namaku.
Derap langkah mendekat, satu, dua, tiga, aku mengerjap, wajahmu terlihat.
Aku ingin tersenyum padamu, namun  bibirku namun rahangku terasa remuk.

….!

Ah, kamu berteriak lagi, entah apa. Aku tak dapat lagi mendengarmu, wajahmu pun semakin buram.
Namun kurasakan tetesan air mengenai wajahku.
Menangiskah kamu? Maaf,  sekali lagi aku buat kamu terluka.
Satu, dua, tiga… hening. Wajahmu tinggal berkas-berkas cahaya tak kasat mata.
Pelan tapi pasti kegelapan merasukiku, diiringi rasa sakit yang berangsur-angsur menghilang.
Aku kembali ditenggelamkan dalam keheningan.

***

Tulisan Kolaborasi : Masya Ruhulessin dan Benedikta Sekar

#AWeekofCollaboration day 5

17 thoughts on “Silence Letters

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s