Awal Sebuah Akhir

Semua orang pasti melakukan sebuah perjalanan. Dan Sebuah perjalanan itu memakan waktu yang tidak pernah singkat.
Setiap perjalanan itu akan punya tujuan walaupun sesederhana mungkin.
Beberapa hal akan hadir dalam sebuah perjalanan. Rasa sedih, bahagia, suka, duka, susah, serta senang datang silih berganti.
Terkadang hal-hal yang tak pernah kita duga pun bisa hadir.

Siang ini masih terasa dingin, salju masih turun perlahan menemani setiap waktu yang berjalan.
Aku masih berada di meja kerjaku sendiri, di depan laptop dan sesekali aku memandang foto kita berdua yang ada di atas meja.
Kita berada di dua kota yang berbeda, pada benua yang berbeda, dan juga dalam selang waktu yang berbeda.

Sedang apa kamu Khai disana” kataku dalam hati.. “Emailku belum kamu baca ya?”
Sabar ya, aku pasti pulang, aku sudah berjanji padamu kalau akhir dari perjalanan ku disini adalah pulang, kembali kerumah dan juga padamu“.
Aku mengambil foto itu dan menciumnya.
Betapa rindu ini sudah berada pada puncak tertingginya.

***

Khaila sedang sibuk melihat layar komputer mengoreksi draft naskah didepannya.
Panduannya adalah lembaran-lembaran kertas berisi begitu banyak coretan merah ada dipangkuannya.
Waktu dikantor pun tak bisa disisipkan untuk menyelesaikan pekerjaan pribadinya ini.
Di kantor selalu ada rapat ini dan itu, bagaimana bisa dia melarikan diri?
Akhirnya waktu istirahat di rumahlah yang akhirnya Khaila korbankan.
Sudah seminggu belakangan ia menjalani ritual yang sama setelah pulang kerja.
Mandi, makan, masuk kamar dan berkutat dengan dateline yang sekarang tinggal sehari lagi.
Diabaikannya semua undangan hangout teman-temannya, acara-acara TV dan komik-komik favoritnya.
Ini merupakan minggu yang benar-benar gila.
Khaila sudah menghabiskan entah berapa puluh cangkir kopi untuk membuatnya tetap terjaga.
Naskah yang dikerjakannya hampir enam bulan, diminta untuk diperbaiki hanya dalam satu minggu.
Editor di penerbit itu memang benar-bener teliti dan memang mungkin dia seharusnya begitu karena Khaila adalah pendatang baru dalam jagat kata-kata ini.
Khaila menarik napas panjang. Mengusap-usap pipinya berulang-ulang.

Akh, kalau saja ada Rhadika di sini, pasti dia akan datang membawa sekotak es krim cokelat” batin Khaila.
Ia membenamkan wajah nya kedalam tangan. Tak terasa ada buliran hangat hingga dipipinya.
Khaila benci saat-saat seperti ini. Saat rindunya membuncah tak mau padam.
Dia rindu Rhadika tapi dia sengaja mengontrol dirinya sendiri.
Khaila sudah berjanji sebelum menyelesaikan datelinenya ia tidak akan membalas email dari lelaki penguasa hatinya yang kini berjarak ratusan kilometer dengannya.

Ini semua untukmu dan semoga kamu baik-baik saja di sana sayang!” Ujar khaila sambil tersenyum memandangi foto di atas meja kerjanya.

****

Dua tahun sudah perjalanan ini aku jalani.
Berada jauh dari rumah berada jauh dari seseorang yang aku cinta.
Perempuan berlesung pipit disebelah kiri itu selalu membuat sebuah rindu yang tinggi menjulang.
Rindu yang tak pernah bisa habis.
Beberapa bulan ini Khai jarang sekali bahkan nggak pernah membalas pesanku di email, skype juga tidak pernah aktif.
Mungkin dia sedang sangat sibuk menyelesaikan dateline tulisannya seperti yang ia bicarakan saat terakhir kami bisa berbincang.

Aku telah menyelesaikan semua pekerjaan disini dan pulang adalah keinginanku.
Khai tunggu aku ya, minggu depan aku pulang” kataku dengan bersemangat.
Kita akan melepas rindu ini, dan aku akan berencana melamarmu nanti, itulah tujuan akhir hubungan kita.
Hubungan yang telah lama kita jalani“.
Rhadika kemudian membuka laptopnya dan menulis email untuk Khai.

Khai, minggu depan aku pulang!! Kita bisa ketemu lagi. Tunggu aku ya.Aku kangen berat dengan kamu. Aku punya banyak oleh-oleh🙂.  I Love you khai, I can’t wait the day“.

Tiba-tiba terpikir oleh Rhadika akan sesuatu hal.

Atau aku kasih surprise aja ya, tiba2 ada didepan pintu rumahnya“.

Rhadika tersenyum lebar akan rencananya itu lalu menyimpan pesan itu di draft emailnya.
Rhadika mengambil foto mereka dari atas meja dan membawanya ke tempat tidurnya.

Aku kangen banget sama kamu khai” ucapnya lirih.

****

Dekorasi kuning gading itu terlihat sederhana namun memesona.
Ada banyak kursi kosong, makanan dan bunga yang tertata rapi.
Sebentar lagi mentari akan meyempurnakan tugas nya bersama Rhadika.
Kini ia sudah tak bisa lagi membendung perasaan deg-degan.
Ia meremas tangannya yang kini dibaluti sarung tangan itu dengan keras.

Sial-sial-sial – ” rutuk Rhadika dalam hati.
Mengapa aku begitu gugup. Aku sudah mengenal Khaila begitu lama dan ini yang ku inginkan. Lalu mengapa?”
Rhadika sampai loncat-loncat supaya gugupnya berkurang.
Masih hangat dalam ingatan Rhadika bagaimana wajah kagetnya Khaila saat mendapatinya berdiri di depan pintu pada penghujung Desember lalu.
Lalu bagaimana Khaila yang akhirnya menanggis waktu ia meminta ijin untuk memperistri wanita itu.

Wanitaku itu memang terlampau manis” Batin Rhadika

Ia mengintip dari sudut jendela. Kursi-kursi kosong itu kini telah banyak diisi.
Matahari semakin memerah dan berangsur turun.
Musik lembut mengalun memenuhi lapangan hijau ini. Rhadika semakin cemas.
Semoga senja menyuntikkan keberanian tiada tara pada Rhadika di saat seperti ini.

***

Dekorasi pernikahan ini adalah yang diidamkan Khai.
Pernikahan outdoor dengan lampu taman yang indah, disertai lambaian senja yang beriring pulang.

Tamu diharapkan berdiri, pasangan mempelai akan hadir dan menaiki altar pernikahanya” ucap MC acara.
Kamu siap khai?”kata Rhadika
Sudah dari dulu. Dan lebih siap dari yang kamu kira” kata Khai memecah ketegangan yang ada

-musik mengalun-

Khai dan Rhadika diikuti rombongan keluarga besar berjalan perlahan menuju singgasana pengantin.
Mereka diiringi decak kagum, kilatan blitz foto, dan tepuk tangan para tamu.
Khai dan Rhadika saling memandang dikala berjalan, kemudian tersenyum.

Mereka tiba di singasana yang di kelilingi oleh hiasan bunga warna putih, merah dan kuning yang indah serta rasa bahagia.
Mata Rhadika tertuju ke depan kepada para tamu-tamu yang hadir dan tersenyum bahagia melihat dia dan Khaila.
Sekejap perasaan deg-degannya telah hilang terkalahkan rasa bahagianya senja ini.

Para hadirin sekalian, mari kita dengarkan sepatah dua kata dari mempelai pria kita, Rhadika!
Beri tepuk tangan buat Rhadika” ucap MC dan disertai tepuk tangan para tamu.

Rhadika terkejut mendengarnya, dia tidak tahu kalau harus memberikan kata sambutan.

Ayo Rhadika, silahkan” MC kembali bersuara.

Rhadika beranjak dari tempat duduknya dan mendekati mic yang berdiri didepannya.
Dia mengetuk-ngetuk mic tersebut dan mulai berbicara.

Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua yang telah hadir. Saya tidak akan banyak berbicara. Kalian lihat wanita yang duduk itu?” Rhadika mengarahkan tanganya kepada khai.

Dia adalah wanita yang paling berharga dari apapun. Sebuah kedamaian dan kebahagiaan bagi saya.
Setelah menjalani hubungan yang cukup lama, dan berpisah selama dua tahun, Inilah akhirnya.
Saya kembali pulang dan mengikat sebuah janji.
Akhir dari sebuah kisah perjalanan cinta yang telah dibina untuk memulai sesuatu yang baru bersama yaitu Keluarga.
Sebuah akhir untuk sesuatu yang baru.  Terima kasih

Para tamu bertepuk tangandan Rhadika kembali ke singgasananya.
Lalu Rhadika menggenggam tangan khai melihatnya dan berkata,

Aku cinta kamu dan cinta akan selalu ada buat kita. Kau keabadiannku

Tulisan kolaborasi Masya Ruhulessin dan Dyaz Afryanto

12 thoughts on “Awal Sebuah Akhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s