Setengah Lusin Rindu

Capture_29

Kenapa kita berdiri di sini seolah tak pernah saling mengenal?  Padahal banyak hal yang semestinya kita bicarakan.

Aku masih ingat ketika kita saling menatap pertama kali aku melihat dunia ini.
Kau tersenyum begitu lebar ~ seingatku~.

Ada sepeda dengan dua tambahan roda kecil di bagian belakang, luka-luka yang selalu hinggap di lututku, lalu meningkat menjadi sepeda baru yang agak tinggi dari badanku. Kenapa kau selalu membiarkan aku bangun sendiri?

Kita pernah menghabiskan waktu yang panjang ditengah lautan. Aku selalu saja berisik dan berimajinasi ada hiu ganas yang akan muncul tiba-tiba menghantam perahu kecil kita. Kau hanya menatap dan meletakan tangan dibibirmu, tanda menyuruh aku diam. Katamu nanti ikan itu berlari . Akh, ikan itu berenang bukan berlari.

Suatu ketika kita kecanduan kepada berbungkus – bungkus cokelat yang biasanya kita habiskan di teras depan rumah berdua. Kita makan dengan cepat takut ketahuan ibu! Kau dan aku layaknya dua anak kecil yang mendapat harta karun.

Tiba-tiba kau mulai mengamat-amati kalau ada teman-teman lelaki ku yang berkunjung ke rumah, mewanti-wanti ku agar tak pulang terlalu larut. Tenang- tenang aku masih  tahu tempat dimana menyembunyikan kuncinya.

Kau dan aku pernah tak saling bicara lama sekali. Tak ada masalah apa-apa, kita hanya terlalu takut saling merindukan. Karena jarak memang kejam. Ada deringan telepon satu jam sekali lalu kemudian berubah menjadi kepercayaan yang begitu besar. Aku lebih mencintaimu yang begini ini- lebih rindu! Sungguh!

Tadi malam kau datang mengunjungiku. Kita tak lagi saling bicara hampir tiga tahun ini.
Tak ada lagi deringan telepon yang khas dengan canda konyolmu.
Lalu mengapa kau tak berucap apa-apa? Aku bahkan sempat menanggis.
Kau hanya tersenyum lalu menghilang di balik awan gelap. Matahari tiba-tiba menusuk mataku. Perih.

Jika hujan adalah air abadi dari surga, ada kah disana kau titip rindu untukku???

Ayah, setengah lusin rindu telah ku rapalkan setiap malam saat langit cerah.
Aku percaya kau itu bintang yang paling terang di pojok langit.

Semoga kau membaca rinduku. Ibu dan semuanya yang rindu juga titip salam buatmu. 

Aku sudah baik-baik saja sekarang, sering-seringlah melukis bintang papah:)

23 thoughts on “Setengah Lusin Rindu

  1. boleh aku bilang kalau aku iri? aku iri pada “kedekatan”mu dengan ayah🙂 aku tidak merasakannya, hubungan kami biasa saja, tidak jauh tapi juga tidak terlalu dekat… aku mencintainya sebagai ayahku tapi hampir tak pernah merindukannya😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s