Dear Bintangku yang Paling Redup

Kau tahu mengapa Tenzin lebih memilih Pama dan bukan Lin?
Aku memiliki spekulasi seperti ini: Mungkin karena Pama itu wujud yang normal dan Lin terlalu hebat.
Apakah aku terlalu hebat atau biasa-biasa saja?

Aku pernah bilang padamu aku sedang belajar menggambar.
Ya, aku sedang belajar menggambar kaki-kaki yang kuat, yang nantinya akan berdiri tegar.
Seperti bulan tanpa siang pada akhirnya.

Mungkin tulisan ini terlalu abstrak pada sepersekian detik pertama saat tanah, air, udara dan api berharmoni.
Namun pada akhirnya perasaan paling nyata adalah kerinduan akan tawa di antara piring-piring kosong di depan mata.
Apakah kegembiraan selalu terbentuk pada gelas yang mengembun?

Jangan pernah bertanya mengapa ada pagi setelah malam. Itu konyol. Memang semuanya seperti itu seharusnya.
Aku tak bisa lagi menelan es. Jangan tawari lagi aku sekotak eskrim. Tenggorokan perih. Perih sekali.

9 thoughts on “Dear Bintangku yang Paling Redup

      1. kupikir si masya sedang radang tenggorokan mama, jadi jangan kasih ida eskrim bawa saja ke dokter ganteng nanti sakit tenggorokannya pasti hilang, dijamin😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s