Berhenti Berlari

Aku tak bisa mengingat kapan terakhir kali berhenti berlari mengejar waktu.
Sepertinya memang aku ditakdirkan untuk hidup seperti itu.
Berlari mengejar embun pagi dan terang bintang tak henti.
Pernah aku coba untuk berhenti sesaat, tapi jantungku melemah tak berdaya.
Akhirnya kusepakati dengan logika, berlari satu-satunya cara untuk membuatku tetap hidup normal.
Bunga-bunga di taman berkata waktu tak perlu dikejar, karena mereka ada di mana-mana dan selalu ada.
Namun aku sungguh tak bisa menghentikan langkah kakiku barang sekejap saja. Tidak bisa.

Waktu memang tak berlari. Akulah yang merasa terkejar olehnya.
Jika aku diam, meski barang sekejap, aku merasa sepi dan sunyi menyergap.
Sementara aku membencinya, kesunyian itu.
Meski dalam ukuran sepersekian detik, aku tak suka kekosongan dan kehampaan yang diakibatkannya pada tubuhku.
Semesta mungkin mencerca kebodohanku, yang terus saja melangkahkan kaki mungilku secepat mungkin, sementara jantungku meledak, nafasku sisa sejengkal.
Tapi aku tak mau melihat kanan-kiri. Jika aku berhenti, aku merasa kehilangan eksistensi.
Takkan ada yang mengerti. Aku harus terus lari.

Aku kadang mempertanyakan perasaan ku saat melihat betapa banyaknya orang yang terjebak dalam jeda waktu yang lama.
Mereka hanya mematung, seperti tersihir mantra hebat.
Padahal mereka hanya duduk-duduk ditaman memandang langit.
Akh, apa hebatnya langit? mereka selalu berbentuk serupa tiap hari.
Ya kalau sedang panas mereka berwarna cerah, kalau akan hujan warna mereka berubah kelabu.
Sebagian lagi dari orang-orang itu menutup mata, menarik napas dalam-dalam lalu tersenyum.
Bernapas adalah hal yang terlalu biasa. Apakah mereka sakit jiwa?
Jika benar perasaan itu seperti koin yang punya dua sisi, aku tak bisa mendefinisikan bedanya iri dan kasihan hingga detik ini.

Mungkin aku memang mendengki, pada mereka yang mampu berhenti dan nikmati dunia yang kini sama-sama kita tinggali.
Ah, ataukah aku yang memandang dunia terlalu sempit? Apakah aku yang terlalu sakit?
Apakah aku yang terlalu takut memandang semesta raya? Sebenarnya aku melarikan diri dari apa?
Jika kemudian aku berlari mengisi kekosongan, lalu sampai kapankah aku menemukan kesejatian mengisi kehampaan hatiku?
Air mataku kering sudah karena kedukaan yang kualami. Aku menyadari.
Jika aku melambatkan kecepatan, maka semua hal yang buruk terjadi padaku dulu akan membanjiri ingatan.
Sementara aku terlalu takut akan masa laluku. Mungkin ia yang selama ini mengejarku.
Dan dengan entengnya kusalahkan waktu.

Padahal semestinya waktu terlalu mulia untuk disalahkan. Lalu siapa yang seharusnya di salahkan?
Sang pemberi waktu atau orang-orang yang menikmati kehidupan dalam jeda? Atau jangan-jangan diriku sendiri yang terus berlari mengejar waktu.
Hari semakin larut dan waktuku semakin tipis.
Dalam satu titik pada malam ini, aku ingin menikam diriku sendiri dengan pembunuh waktu yang entah apa itu, supaya aku tak lagi memiliki waktu untuk bermonolog panjang sedari tadi.
Itu memusingkan dan menguras energi terlampau besar karena sedari tadi aku berpikir sambil terus berlari.

Akhirnya kuputuskan melakukan hal yang selama ini kutakuti.
Aku melambatkan kecepatan, membiarkan langkahku tak lagi lebar.
Dan entah di suatu waktu dan tempat bagian mana, aku berhenti. Hening datang. Sepi mengguncang.
Nafasku mulai sesak lagi. Jantungku berdegup justru lebih keras lagi.
Ada adrenalin yang mengucur dalam tubuhku. Aku takut, aku ngeri, dengan datangnya hening ini.
Tapi kemudian kutarik nafas dalam. Aku menenangkan lututku yang bergetar, yang ingin lari dari sini.
Tapi kali ini takkan kubiarkan ketakutanku menggentarkan nyali.
Takkan kubiarkan ketakutan mengkerdilkanku lagi.
Takkan kubiarkan ragaku melarikan diri, sementara jiwaku terperangkap begini.
Aku ingin berhenti.

Kemudian aku duduk di bawah rindangnya pohon bodhi, dan dihujani oleh dedaunan yang berguguran.
Aku menyesap udara yang berseliweran. Semakin lama kusesap rongga dadaku semakin sesak.
Detak jantungku semakin melemah saja.
Sesak, sesak sekali. Tapi ada damai yang sudah lama tak pernah merajai hatiku lagi.
Ada damai yang membuatku tergoda untuk berhenti mengejar waktu.
Aku tahu aku akan segera berjumpa Sang Pemberi Waktu sebentar lagi.
Aku akan benar-benar berhenti berlari selamanya-

Tulisan Kolaborasi Masya Ruhulessin dengan Jusmalia Oktaviani

6 thoughts on “Berhenti Berlari

  1. Senang,
    riang,
    resah,
    dan gelisah
    Hanyalah perputaran kejadian belaka
    Semua tergantung pilihan kita,
    Ikhtiar atau takdir.

    Aku memilih berpikir dan berusaha.
    Aku memilih menulis dan berbicara.
    Aku memilih diam dan bergerak
    Aku memilih hening dan bersuka cita
    Dan aku memilih berlari sampai mati.

  2. Kata orang tua sich iya…:mrgreen:

    tapi sebelum kita mati kita hrus menorehkan kenangan indah kepada semua orang yg mengenal kita….🙂 (jarene mak ku… hihihi :P)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s