Kejutan

Ada ratusan kupu-kupu yang berterbangan di perutku saat ini, setelah sekian lama tidak aku rasakan lagi gelitikan mereka. Pertahanan diri yang kusulam bertahun-tahun lamanya seakan tak punya arti apa-apa. Mereka pecah, koyak, melebur bersama gelap malam ini saat mata kita saling bertemu. Mengapa kamu harus hadir tiba-tiba di malam ini? Saat kedinginan sedang bersemangat meremas sekujur tubuhku, senyummu yang entah bagaimana caranya bisa seajaib itu menghangatiku kembali.

Aku sungguh terkaget-kaget, tak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini. Sekali pun tak pernah aku bayangkan akan ada perasaan canggung yang membuncah dalam ramai di tengah-tengah orang yang kini ada di sekeliling kita. Ah, entah kenapa, matamu membawa kehangatan yang sudah lama tak pernah kutemukan di mata-mata keturunan Adam lainnya. Ada teduh dan perasaan hangat yang dengan mudah kamu pancarkan dari kedua matamu. Aku tergugu. Kamu membuatku begitu.

Aku bahkan tak berhasil mengalihkan diriku dari padamu. Aku telah mencoba menaruh perhatian seutuhnya kepada pidato ayah sang mempelai wanita, menatap deretan makanan yang beraneka ragam, lalu terlibat dalam perbincangan dengan kawan-kawan sekitar. Tapi sia-sia. Pada akhirnya kudapati diriku tetap lingkaran yang sama : kamu. Kamu yang terlalu sibuk berbincang dengan para gadis dihadapanmu, lalu sesekali melemparkan senyuman paling aduhai itu. Akh, kamu punya lesung pipit. Manis. Otakku semakin hebat berspekulasi tentang kamu. Adakah kau telah dimiliki salah seorang dari gadis-gadis itu?

Perlahan aku tepiskan pikiran itu, aku tidak mau terus-menerus memikirkanmu. Maksud kedatanganku di sini bukan untuk menemuimu. Kedatanganku untuk berjumpa dengan sahabatku yang melangsungkan pernikahannya sekarang. Di usianya yang masih cukup muda, ternyata ia sudah mendapatkan pasangan yang akan menjadi teman hidupnya. Ah, betapa beruntungnya. Aku juga ingin bisa segera menyusulnya. Mendapat kecup di dahi dan memakai cincin pernikahan. Rasanya tentu membahagiakan bisa duduk bersama seorang yang kudambakan. Mukaku memerah begitu saja, entah mengapa. Aku benar-benar harus tepiskan bayangmu dari dalam pikiranku.

Perlahan namun pasti aku berjalan keluar dari keramaian. Sepertinya mungkin akan lebih baik untuk mengambil jeda terlebih dahulu di luar ruang pesta ini. Itu pasti akan lebih baik, agar aku bisa berusaha mendamaikan degup jantung yang berdetak begitu cepat ini semenjak memandangmu.

Aku berdiri di tepi teras bangunan putih gading ini. Mulai kuatur napasku perlahan dan menutup mata, berharap bayangmu segera hilang. Satu, dua, tiga, Arghh, percuma. Kau masih duduk manis di dalam anganku, enggan beranjak. Aku mendesah panjang lalu mendongak menatap langit. Di sana ada gugusan andromeda indah sedang bermain. Aku melempar senyum kekaguman pada mereka tetapi mereka mencibir dan berseru aku penakut.
Ya. Ya, Ya. Aku penakut ulung. Aku takut kasmaran lagi. Gugusan andromeda itu tak tahu apa, kasmaran bisa begitu menyakitkan? Sesak napas tiba-tiba ketika yang digilai datang lalu sesak napas lagi ketika yang digilai pergi dan rindu datang menyiksa. Sakit, pokoknya sakit.

Apalagi jika kasmarannya tidak dua arah, mengerikan rasanya. Aku sudah pernah mengalami hal demikian, makanya kuputuskan untuk menyimpan rapat segala gejolak aneh itu. Hingga malam ini mereka benar pecah tak terkendali.

“Jangan cuma habiskan waktu kamu untuk sekadar melamun, Putri. Masih ada hal lain yang pasti lebih menyenangkan dibanding melamun sendiri saja kan?”

Suaramu benar-benar membuatku terkejut. Tak pernah kubayangkan kamu akan ikut keluar juga dan akhirnya menyapaku. Canggung. Aku sangat canggung.

Ada yang kamu cari di luar?”

“Udara segar. Didalam terlalu pengap” kudengar suaraku berujar

“Orang didalam memang begitu penuh sesak. Aku juga membutuhkan udara segar sepertimu” ujarmu sambil tersenyum. Mengapa kamu harus tersenyum? Kau semakin mempesona ketika sedekat ini. Jantungkku berdetak semakin tak tentu rimanya.

“Aku, Randy,” ujarmu mengulurkan tangan

“Aku, Kirana.” Kusambut uluran tanganmu dan berusaha tersenyum sewajar mungkin.

Meski sesungguhnya isi pikiranku sudah mulai dipenuhi dengan bayangmu dan semakin lama semakin dengan jelas kurasakan tanganmu yang terasa sangat hangat. Batinku berteriak kegirangan. Aku tak yakin bisa bertahan lebih lama lagi di sisimu dengan keadaan yang penuh dengan kejutan seperti saat ini.

Malam semakin tua dan kita berdua semakin larut dalam percakapan. Ada alis-alis mengerut yang diselingi dengan tawa-tawa kecil. Ada tatapan mata yang sering sekali bertemu. Kita lalu saling membuka cerita bahkan dalam batasan-batasan yang tak kuduga sebelumnya. Pesta pernikahan yang harusnya menjadi tujuan utama kita berada disini sudah tak lagi kita pedulikan. Kita benar-benar seperti dua mahluk asing yang dikirim ke negeri antah berantah. Menikmati dunia baru kita tanpa menghiraukan penduduk asli yang sedari tadi berlalu-lalang.
Entah apa yang mereka lakukan. Aku benar-benar tidak peduli.

“Aku sering melihatmu sebelum ini, Kirana. Di beberapa kali acara pernikahan teman-teman kita. Hanya saja aku memang tak pernah punya cukup waktu untuk menyapamu”.

“Oh ya?” jawabanku menggantung di udara, rasanya aneh dan juga menyenangkan di waktu bersamaan. Aku tak pernah menyangka kamu telah memerhatikanku sejak lama. Lalu, apa yang membuatmu tertahan? Ah, aku ingin tahu.

“Kamu mempesona. Selalu seperti itu, Kirana. Dan aku sejujurnya sangat malu mendekatimu.”

Tenggorokanku tercekat. Aku tak bisa lagi berkata apa-apa. Aku hanya tersenyum sekilas padamu dan berpura-pura membenarkan rambutku yang sebenarnya masih di tempatnya sedari tadi. Aku tahu pasti saat ini merah di pipiku telah mencapai warna sempurnanya.

“Kirana, maaf, jika ucapanku tadi menggangumu. Namun, itulah yang terjadi. Kehadiranku di pesta pernikahan teman-teman kita sebenarnya untuk berjumpa denganmu.”

Aku menyesap udara perlahan. Lalu aku kumpulkan kekuatan dan memberanikan diri menatap matamu dalam-dalam. Ada sebuah kesungguhan terseduh di sana. Rasanya seperti mimpi saja. Kamu, laki-laki yang selama ini kunanti. Kamu, laki-laki yang selama ini kudamba. Ternyata telah jauh mengambil posisi yang sama selama ini. Aku tergugu. Kakiku sepertinya tak lagi bisa memaku bumi, goyah. Kakiku bergemetar hebat.

“Sejak kapan?” Aku mencoba memandangmu dengan lebih berani.

“Aku tidak tahu tepatnya. Tapi, aku sudah memerhatikanmu sedari awal kita bertemu. Dan, ya, kuakui aku tidak pernah cukup berani menyapamu terlebih dahulu.”

“Ah, sepertinya kita telah sama-sama menahan diri ya selama ini.”

Kamu tersenyum, mencoba membagi kehangatan yang sedari awal kurasa darimu.
“Iya, dan sudah saatnya untuk tidak lagi menahan diri bukan? Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Itu pun kalau akhirnya kamu anggap ini sebuah perkenalan yang baik untuk kita berdua.”

“Fair deal, I guess.”

“Itu yang kumaksudkan. Terima kasih, Nona Kirana.”

Aku menggangguk tenang, badanku sudah mulai terbiasa menyikapi keterkejutanku semalaman ini. Dan aku mulai menikmati hadirmu dengan lapang di sini, di hatiku.

“Maukah kamu berdansa denganku? Musik pengiring sepertinya sebentar lagi dimainkan.” Pintamu manis sekali. Aku tentu tak akan sanggup menolaknya.

Gugusan andormeda itu semakin terang diatas sana seakan ikut sumringah melihat kita. Aku menggengam erat tanganmu, membiarkanmu membawaku bersama alunan musik di lantai dansa. Indah dan manis sekali malam yang tersisa.
Masih ada ribuan kupu-kupu di perutku. Kubiarkan mereka sekali berdansa merajai perutku. Kali ini mereka tak sendirian. Ada kamu yang ikut berdansa bersama mereka. Perasaan kasmaran kali ini tak lagi berjalan satu arah.

Ada balasan setimpal yang sedari dulu kuharapkan.

Dan malam ini kamu membuatnya nyata, Randy.

Tulisan Kolaborasi: Teguh Puja dan Masya Ruhulessin

18 thoughts on “Kejutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s