Pulang

Pagi ini dingin menyergapnya dengan begitu hebat. Berlapis-lapis baju yang Yana kenakan tidak lagi mempan. Entah mengapa bisa jadi seperti itu. Padahal tanah ini adalah tanah ia dilahirkan, tanah ia dibesarkan. Hingga suatu hari Ia harus pergi untuk menyembuhkan hatinya yang telah terluka begitu dalam. Ia tak pernah menyangka takdir akan membawanya kembali ke kota yang sudah tak ingin lagi di kunjunginya ; Salatiga.

Ia memandang kebun jati dibelakang rumah dengan pandangan nanar. Bayangan yang tidak ingin ia ingat pun seakan meyeruak menembus dinding tebal yang ia bangun dulu. Kesedihan yang membuatnya berlari kini seakan hadir untuk dikenang. Hawa dingin menambah suasana hati seakan membuatnya beku. Ia terduduk dibahah bohon yang sedikit basah terkena embun.

Hawa dingin membuat badannya menggil namun memberikan kesejukan yang ia butuhkan kini. Masih ada waktu untuk menghadapai segalanya.

Tante…

Yana terkejut mendengar teriakan keponakan semata wayang nya ~ David, yang kini telah menghambur ke pelukannya.

Kamu sudah tinggi ya dek” ujar Yana sambil mengusap lembut rambut David.

Iya donk tante, masa mau kecil terus? ” Ujar David manja.

“Akhirnya kamu pulang Yana.” Yana berbalik mencari sang empunya suara. Mereka berdua saling melempar senyum lalu kemudian larut dalam sebuah pelukan.

Iya mbak. Ini mungkin telah waktunya utuk kembali.” Rani, kakak semata wayang Yana hanya mengangguk pelan.

David sudah gede ya mbak. Tambah pinter saja nih anak.” Yana memuji keponakannya lagi.
Rani hanya tersenyum bangga.

Bagaimana perasaanmu? Sudah enakkan toh? Sudah siap ?” Yana mengangguk membenarkan,meskipun hatinya tetap belumlah tenang. Rani menggandeng Yana dengan mesra.

Kamu kedinginan,memangnya disana panas ya?” Rani melihat Yana menggigil untuk kesekian kalinya.

Mbak..kalau boleh aku ingin sendirian dulu,sepuluh menit saja mbak.”

Rani mengangguk dan menggandeng tangan David untuk berlalu.

“Jangan lama-lama ya, semua menunggu kamu.”

Yana mendengus napas panjang. Menginjakan kaki di kota ini berhasil membangkitkan memory yang tak ingin dia ingat.
Terlihat dalam angannya, Stevan lelaki yang pernah dipacarinya. Selama dua tahun melempar senyum sendu.
Stevan berlalu begitu saja meninggalkan Yana di atas altar dengan sejuta tanda tanya di kepalanya.
Bahkan hingga saat ini dia terlalu khawatir untuk tahu apa alasan Stevan pergi. Ada yang mengatakan Stevan sudah punya kekasih baru. Ada yang bilang dia masih belum siap. Tak ada yang benar-benar tahu. Stevan tak punya keluarga .
Ia telah hidup sebatang kara sejak berusia 8 tahun. Bahkan teman-temannya hanya bisa menduga.
Semenjak hari itu Stevan hilang, tak meninggalkan jejak

Yana yang merasa dipermalukan memilih menutup diri. Tapi sampai saat ini tidak ada kebencian dihatinya, hanya ada duka,kemarahan dan kekecewaan.
Stevan tidak akan melalukan hal seperti ini kalau tidak mempunyai alasan yang sangat kuat. Yana mengenalnya betul.
Bapak memaki Yana yang dianggap ikut andil dalam kepergian Stevan ,bapak hanya bisa menyalahkan Yana bahkan menganggap Yana tidak bisa menjaga Stevan.
Yana meninggalkan rumah untuk menyembuhkan luka dan melupakan semua noda yang tercoreng dimuka dan keluarganya. Sakit rasanya mendengar bisik bisik para tetangga yang selalu lolos terdengar ditelinganya bahkan saat pendeta memberi ceramah di mimbar pun Yana tetap mendengar nama dia disebut orang disebelahnya.

Yana menarik napas lagi untuk kesekian kalinya. Sudah sepuluh menit waktu yang diminta dari kakaknya. Yana bangkit dan berjalan menuju rumahnya . Dirinya sudah siap menerima apapun kejutan yang akan dihadapi. Tidak akan ada hal yang mengejutkan lagi setelah apa yang terjadi padanya .

“Ini anak saya, yang saya ceritakan itu. Yana namanya“.

Yana  bangkit dari kursi dengan malas. Ternyata ini adalah kejutan yang tak menyenangkan di pagi yang dingin ini. Sebuah usaha yang menggelikan.

Aku menyambut tangan lelaki berhidung bangir itu dengan enggan.

Ferdy“. Terdengar pria itu berujar

Yana menarik tangan tanpa menyebut nama lagi, toh ia pikir tadi sudah dengan jelas nama disebutkan dengan lantang dan bangganya.

Ia kembali duduk dan Ferdy tak berhenti menatapnya.
Ada ketertarikan yang tidak disembunyikan dan membuat Yana muak.
Bukan tatapan kekurangajaran,hanya saja aku merasa jengah dan merasa seperti barang dagangan yang akan ditawar.

Apa Ferdy tidak mendengar kisahku?” Pertanyaan yang hanya bisa Yana pendam dalam hati.

Ini anak saya ,sudah sukses, kalian pasti akan cocok dan bla bla bla .” Yana muak mendengar kata-kata bapak yang membangga banggakan diriku.

Ferdy mengangguk dan tersenyum simpul. Senyum yang menurutku senyum angkuh karena keinginannya tercapai. Yna memandangya dan membuat Yana penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan.
Yana membandingkan wajah Ferdy dengan Stevan yang mulai memudar.

Apa sebenarnya yang bapak inginkan dariku? Apakah bapak tidak memikirkan perasaanku yang terluka? Bapak menyuruhku pulang dengan membawa bawa ibu yang sakit. Ah rupanya bapak tidak pernah berubah. Kepergianku tidak membuat bapak menyesali semuanya” Yana lagi-lagi hanya  membatin.

Kala menunduk dan Ia mendapati tangan mbak Rani menggemnya erat.

***

Yana membetulkan letak kalungnya. Sesekali dia melirik ke cermin lalu tersenyum.
Hari seperti ini terulang lagi. Hari yang pernah dia jalani beberapa tahun lalu dan diakhiri dengan rasa malu dan bekas dihati yang begitu mendalam.
Namun kali ini entah kenapa Yana begitu yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski banyak orang berkasak-kusuk dibelakang, Yana tetap tak peduli! Toh ini hidup nya Dia.

Yana sesekali menengok keluar. Disana bisa dia lihat ayah, ibu, mbak Rani dan David begitu ceria. Itu semua karena hari ini.
Ibu yang semenjak kejadian dulu menjadi murung sekarang kelihatan sangat bahagia.
Yana mengenang surat mbak Rani yang membuatnya kembali kerumah. Surat,iya mbak nya itu mengirim surat,bukan email atau sms ataupun bbm seperti biasanya.
Mbak Rani menjelaskan semuanya,semua yang terjadi bukan kesalahan bapak.
Mbak Rani mengerti bahwa dalam hati kecil Yana terselip kekecewaan kepada bapak,hanya saja Yana tidak ingin mengungkapkan.
Meskipun mbak Rani meminta Yana kembali karena ibu sakit dan bapak pun meminta Yana kembali.
Bapak memang melunak,tapi bapak masih tetaplah bapak yang otorier terhadap anaknya.
Yana tersenyum untuk kesekian kalinya dan memandang kecermin.
Yana tak pernah tahu mengapa Stevan meninggalkannya dialtar dan buat Yana biarlah itu terus menjadi sebuah rahasia yang tak usah dipecahkan.

Yana berjalan di altar, semua mata memandangnya. Entah harapan apa yang mereka panjatkan.
Dikejauhan Yana melihat Ferdy menunggunya, menunggu dengan gagahnya, tidak tergoyahkan, tidak ada tanda tanda kegelisahan seperti Stevan dulu.
Perkenalan dengan Ferdy yang singkat membuat Yana belum mengenal Ferdy secara utuh. Hanya saja dia menyerah memberontak. Biarkan saja air mengalir seperti aliran sungai,Yana hanya mengikuti arus saja, biarkan sang waktu yang menentukan.

Didepan altar, Yana dan Ferdy saling mengikat janji dihadapan ratusan pasang mata dan Sang empunya hidup.
Mereka saling memandang. Ada sinar bahagia meledak diwajah semua orang.
Yana tersenyum begitu lebar. Perasaan hangat itu kembali merajai hatinya kini saat menatap ferdy. Hangat dan menenangkan. Namun ini semua bukan akhir dari perjalanan. Ini adalah awal dari segalanya. Awal dari kecupan mentari yang pernah tertahan di sudut pagi. Hidup memang penuh sejuta kejutan.
Yana bahkan tak pernah menyangka akan kembali lagi berdiri di hadapan altar mengucap janji sehidup semati dengan lelaki yang baru saja dikenalnya. Memang cinta saja tidak pernah cukup.
Kepercayaanlah yang membuat Yana berkata “iya” saat diajak menikah.
Menikah memang gampang, berumah tangga yang sulit. Dan Yana berharap disudut hatinya, Ferdy adalah pilihan yang tepat untuk membantunya menghadapi tiap kesulitan yang akan datang.

Tulisan kolaborasi Masya Ruhulessin dengan Aini

4 thoughts on “Pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s