Kepergian

Yang paling ku ingat dari dirimu adalah lekung indah dipipimu saat engkau tersenyum. Belasan tahun saling mengenal sepertinya tak pernah cukup untuk memaksa kita berujung pada sebuah keputusan yang bulat. Kita berjumpa saat masih anak-anak. Tak pernah ku sangka nantinya akan ada sebuah perasaan yang muncul saat kita menginjak usia remaja. Akh, waktu itu kita selalu saja sering bertengkar tidak penting. Kalau mengingatnya aku merasa lucu sendiri. Bagaimana merahnya wajahmu saat menahan kejengkelan luar biasa terhadap tingkahku yang memang kadang menyebalkan. Mungkin tak pernah kau sadari aku berlaku seperti itu karena aku jatuh cinta padamu. Tak ada cara lain lagi. Semua orang mencintaimu. Salah satu cara untuk menarik perhatianmu adalah dengan berpura-pura membencimu. Aku menikmati semua itu, tahun-tahun pertengakaran kita, mengamati senyum mu diam-diam sampai perasaan sakit saat kau bergandengan mesra dengan wanita lain. Sungguh aku menikmatinya.

Setelah terpisahkan oleh jarak dan waktu yang panjang, kau datang di suatu malam, membangkitkan lagi rasa yang sudah berhasil ku kubur dalam-dalam. Aku membuka diriku untuk kau rasuki dan sejujurnya tiada yang lebih membahagiakan karena perasaan yang dulu pernah ada kini bersambut. Kita akhirnya menjalani semuanya dalam kurun waktu yang tidak sebentar, bertahun-tahun, ada pergi dan kembali lagi saling merindukan, saling mengkhawatirkan, tanpa berada dalam sebuah ikatan. Pada awalnya semua terlihat baik-baik saja, aku menikamti semuanya.
Hingga pada suatu titik batin ini mulai mempertanyakan tentang kita.

Sebenarnya aku merasa sedikit melankolis saat bertanya “mau dibawa kemana semua ini??”. Namun aku sudah tak bisa hidup lagi dalam cinta yang mendayu-dayu dan tak tahu apa yang akan dihadapi besok hari.Aku butuh jawaban yang rasional, Ya atau Tidak!

Kadang rasa bersalahku sangat besar. Apakah memang cintaku selalu tak pernah cukup untukmu?  Apakah jarak lebih berarti dari setiap pengorbanan, air mata dan pelukan?  Setelah sekian lama kita bersama kau bahkan tidak bisa bilang apa-apa. Kau hanya diam, mematung dan berkata “Biarlah semua mengalir apa adanya”.

Pada suatu pagi, aku akhirnya memutuskan untuk pergi. Aku pergi untuk memaafkan diriku sendiri yang mungkin terlalu memaksamu untuk membuat hal yang tak pernah bisa kau lakukan. Aku pergi mengumpulkan kembali kekuatan untuk kembali berbicara denganmu tanpa ada lagi pembicaraan tentang kita.  Aku pergi karena terlampau lelah sendiri menghitung spektrum warna pada sebuah bianglala. Aku bukan lagi aliran sungai yang dapat kau jejali.

Semoga kita segera bertemu secepatnya. Aku rasa aku sudah siap bercerita yang bukan lagi tentang kita.

 

2 thoughts on “Kepergian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s