Setting dalam Cerita

Dalam sebuah karya sastra, setting yang dalam Bahasa Indonesia dipadankan dengan ‘latar’ merupakan bagian yang tak dapat terpisahkan. Setting berguna untuk memperkuat tema, menuntun watak tokoh, dan membangun suasana cerita. Setting yang dibangun dapat berhubungan dengan ‘tempat’ (setting fisik) ataupun berhubungan dengan ‘waktu’ (setting kronologis). Setting secara fisik berbicara mengenai tempat di mana suatu cerita berlangsung. Di mana (where) ini dapat terjadi di mana saja, misalnya, di dalam hutan, ataupun juga lebih spesifik, misalnya Bundaran HI di tahun 2004. Sedangkan setting secara kronologis atau kapan (when) dapat saja dikatakan misalnya disuatu malam natal yang hangat beberapa tahun silam mereka bertemu secara tidak sengaja.

Membangun setting  dalam sebuah karya dapat dimulai dengan langkah sederhana yakni eksplorasi terhadap penginderaan yang kita miliki, yakni indera pendengaran, penglihatan dan penciuman kita.  Setting diharapkan tergambarkan secara spesifik untuk membuat pembaca cerita seolah-olah berada dalam tempat kejadian, melihat, mendengar serta merasakan suasana disana. Misalnya saja:

“Steve sedang duduk menghadap layar datar berbentuk kotak persegi. Di dalamnya ia sedang melihat dengan seksama sebuah halaman penuh deretan huruf rapi. Ia tersenyum. Ada perasaan hangat yang mejalarinya. Sayup-sayup diluar didengarnya kakak perempuannya sedang bersenandung lagu-lagu yang dulu ia pernah dengar saat masih kecil, saat dia masih sering bersekolah minggu. Akh, masa sekolah minggu itu sudah lama sekali ia tinggalkan. Perutnya semakin lapar kini, Ada bau sedap dari semur ayam kecap yang sedang dimasak ibu dibelakang. Bau yang sudah lama tidak diciumnya semenjak tujuh tahun lalu. “

Tidak jarang setting menjadi sumber konflik dalam cerita, misalnya cerita tentang peperangan atau bencana alam. Untuk lebih menghidupkan setting, riset awal terhadap suatu tempat yang akan kita tuliskan. Sangat disayangkan jika dalam cerita yang kita sampaikan keadaan sebenarnya justru berbeda jauh.

Penggunaan jenis setting dalam sangat penting dicermati oleh seorang pengarang. Penggarang dapat saja tidak mempergunakan setting yang spesifik agar ceritanya menjadi lebih universal dan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Kemungkinan lain adalah pengarang secara sengaja mempergunakan setting yang spesifik karena cerita menuntut demikian.

-Tulisan ini dibuat sebagai rangkuman materi mengenai setting (latar) pada pertemuan kelas Poetica tanggal 22 Maret 2013-

11 thoughts on “Setting dalam Cerita

  1. sudah keren cerpennya trus bahas setting pula. nambah lagi nie pengetahuan asmie tentang setting dng arti yang lain [sdh baca punya mas dyaz soalnya], jadi ada sudut pandang baru. tq ya mbak..
    nice post sis..😀

  2. setting adalah rekayasa lokasi, pelaku, waktu kejadian dan sebab terjadinya untuk sebuah alur cerita menjadi lebih nyata dan bermakna (definisi by katacamar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s