Ingatan

Suara musik yang berasal dari sebuah ruangan menghentak kencang dan keras. Kerasnya hentakan lagu ini membuatku terbangun dari tidur. Aku mengusap-usap mataku. Aku bahkan tak mengetahui aku sedang berada di kamar siapa saat ini.Aku mencoba mengingat-ingat semua runutan kejadian. Aku berusaha keras memutar otak agak dapat mengetahui apa yang terjadi sebelumnya. Rasa sakit luar biasa di kepala membuatku tak dapat dengan mudah mengingat apa-apa. Ah, kebodohan apalagi yang telah kulakukan semalam.

Kamar bercat biru pekat ini sebenarnya berukuran cukup besar, namun begitu banyaknya tumpukan barang membuatnya terlihat penuh sesak. Aku menyapukan pandanganku ke seantero ruangan, siapa tahu ada petunjuk yang bisa kutemukan mengenai keberadaanku disini. Namun sia-sia belaka. Tak juga kutemukan benda-benda pribadi yang sering kubawa kemanapun aku berpergian. Telepon seluler, dompet, peralatan make up-ku entah lenyap kemana. Apa yang terjadi padaku? Apa yang aku lakukan? Suasana diluar sana yang begitu riuh sama sekali tidak membantu ingatanku sedikitpun. Otakku sudah tak dapat lagi diajak kompromi.

Kamar ini sama sekali bukan kamarku. Ada sebuah jendela besar tanpa tirai dengan sebuah sofa kecil di bawahnya, dan itu jelas tak pernah ada di kamarku. Disamping sofa terdapat sebuah meja bulat warna oranye yang terlihat sangat kontras dengan warna cat dindingnya. Aku melihat ada sebuah kertas terlipat menjadi dua yang seperti sengaja ditinggalkan untuk seseorang. Mungkin aku coba buka saja kertas apakah itu. Kertas putih yang ditulis dengan huruf yang sangat indah.

“Rea, aku akan ke dermaga. Sudah kusiapkan makan malam untukmu. Silahkan dinikmati.

Aku mencintaimu sayang.”

Surat untuk seseorang bernama Rea dari seseorang yang mencintainya. Romantis. Tapi aku tak mengetahui siapa mereka.

Aku akhirnya mengumpulkan segenap keberanianku untuk keluar dari ruangan ini. Kurapikan lagi rambut dan pakian dibadanku, tentu saja hanya menggunakan feeling. Diruangan ini tak ada satupun cermin yang kujumpai. Setelah yakin dengan diriku sendiri, aku melangkah keluar. Hentakan musik sontak saja menyambut keragu-raguanku kala aku membuka pintu. Aku menarik napas panjang. Suasana di luar lebih ramai dari yang kubayangkan. Banyak sekali orang di luar sana, lelaki dan perempuan dewasa memenuhi ruangan itu. Kulihat ada yang asyik bergoyang ria, ada yang hanya duduk bercerita sambil menyesap minuman ditangan mereka. Sorot lampu berbagai macam warna beradu cepat menjamah lantai. Aku paksakan diriku untuk semakin membaur dalam hiruk pikuk itu.

Mataku sering sekali kukedipkan, sepertinya masih menyesuaikan dengan cahaya di ruangan ini. Orang-orang yang kulewati diruangan ini tersenyum lebar padaku, seolah aku mengenal mereka semua. Tak ada pilihan lain selain membalas senyuman mereka juga.

‘Rea, kamu dari mana saja, hari hampir pagi dan kau baru muncul‘ teriak seorang wanita sambil menarik tanganku.
Aku kaget setengah mati, hampir tak menunjukkan ekspresi apapun. Kenapa ia menyebut ku dengan nama Rea? Nama yang tadi tertulis dalam sepucuk kertas putih yang baru saja ku baca. Apakah itu Rea itu aku?

Keanehan tak juga surut sedari tadi, aku tambah tak mengerti apa yang sedang terjadi. Musik yang sepertinya kudengar di tempat lain ternyata berasal dari ruangan ini. Suasana ramai dan bising sangat beda sekali dengan suasana di dalam kamar. Lalu siapa yang tadi menuliskan surat dan berpesan sudah menyiapkan sarapan untukku.. hmm, maksudku seseorang bernama Rea?
Aku tak menyukai keadaan di ruangan ini, aku merasa pusing dan seperti melayang. Mungkin sebaiknya aku masuk kembali ke dalam kamar, memejamkan mataku yang lelah ini sebentar dan mungkin saja aku akan tertidur dan terbangun dalam keadaan di sekeliling yang normal.

Belum lagi aku menuju masuk kamar yang bukan milikku, ada seorang wanita yang memanggilku kembali.
Rea, kau tidak menyusul Andrean ke dermaga?”

Aku membeku dalam sekejap. Berjuta pertanyaan merayap ramai melilit pikiranku. Siapa Andrean? Kenapa meraka terus menyebutku dengan nama Rea? Siapa Rea? Jika memag benar aku Rea, mengapa aku harus menyusul Andrean ke dermaga? Aku tiba-tiba teringat sepucuk surat untuk Rea, yang kubaca tadi. Rea seseorang yang dipanggil sayang oleh sang penulis catatan, yang mungkin saja bernama Andrean. Aku hanya tersenyum seenaknya. Aku bahkan tidak tahu siapa yang sedari tadi menjadi lawan bicaraku. Dan ngomong-ngomong perutku berbumyi. Aku lapar.

Andrean dalam pesannya tadi berkata sudah membuatkan sarapan untuk Rea atau aku jika aku adalah Rea seperti yang beberapa orang tadi sebutkan padaku. Sebuah dapur bersih dengan nuansa putih di semua perabotannya. Ukiran pada kitchen set yang menempel di dinding dengan kaca yang bening sehingga segala perlengkapan terlihat dengan jelas. Di meja bulat dengan warna yang sama terdapat sebuah piring berbentuk kotak yang di atasnya sudah tertata dengan cantik sepotong roti tanpa kulit di keempat sisinya, telor yang dibentuk seperti bintang dengan matang yang sempurna. Di samping sajian makanan itu ada segelas perasan lemon panas dengan irisan lemon di bibir gelas yang bening itu. Semua sajian ini terlihat sangat cantik dan menarik. Seumur hidupku sepertinya tak pernah ada yang membuatkanku sajian seperti ini.

Sebuah dapur bersih dengan nuansa putih di semua perabotannya. Ukiran pada kitchen set yang menempel di dinding dengan kaca yang bening sehingga segala perlengkapan terlihat dengan jelas. Di meja bulat dengan warna yang sama terdapat sebuah piring berbentuk kotak yang di atasnya sudah tertata dengan cantik sepotong roti tanpa kulit di keempat sisinya, telor yang dibentuk seperti bintang dengan matang yang sempurna. Di samping sajian makanan itu ada segelas perasan lemon panas dengan irisan lemon di bibir gelas yang bening itu. Semua sajian ini terlihat sangat cantik dan menarik. Seumur hidupku sepertinya tak pernah ada yang membuatkanku sajian seperti ini.

Aku menyesap aroma lemon dan membiarkan cairannya menjamah tenggorokanku. Kulahap cepat roti dan telur.Akh, aku benar-benar kenyang. Entah kapan terakhir kali aku makan. Walaupun menikmati makanan dengan lahapnya, pikiranku tak bisa lepas dari Andrean, Rea dan pesan bernada romantis itu. Kulirik jam dinding dipojok ruangan. Waktu telah menunjukkan pukul 23.00 dan suasana diluar makin riuh nampaknya.

Mataku tiba-tiba menangkap ada pigura di sisi kanan ruangan. Aku mendekat. Betapa kagetnya yang kujumpai di sana adalah gambar diriku, mengenakan kemeja kotak-kotak dan jeans setengah lutut. Dan aku tak sendiri. Terlihat aku sedang menyandarkan kepalaku di dada seorang pria tampan. Pria berperawakan tinggi besar, dengan kulit kuning langsat dan mata setengah menyipit. Ada pancaran hangat yang luar biasa dari sana.

Aku semakin gugup, siapakah aku sebenarnya? siapa pula lelaki itu. Aku mengusap mukaku berkali-kali dan berharap semua ini hanya mimpi. Namun tak ada yang berubah dan semua ini nyata adanya. Aku belum juga bisa mengingat apapun.

Sepertinya tak ada yang benar-benar tahu mengapa aku terlihat bingung dan gelisah malam ini. Mereka terlalu sibuk menikmati musik dan menggerakkan badan mereka. Keanehan satu persatu menyusul, bukan hanya foto di pigura besar itu tapi beberapa foto yang diletakkan di atas sebuah lemari buku di ruang baca. Masih foto-foto dengan gambar diriku dan seorang pria yang sangat asing bagiku. Mereka tampak bahagia.

Dia menghentikan langkahnya, melihat ke arahku. Pandangan kami bertemu satu sama lain. Ada kebingungan dan tanda tanya besar yang memenuhi raut wajahnya. Begitupun denganku, aku mencoba mengingat-ingat siapa pria yang saat ini sedang berdiri di hadapanku. Yang pasti pria itu mirip sekali dengan pria yanh ada di foto itu.Seorang pria tinggi besar dengan topi coklat tiba-tiba masuk ke dalam ruang baca, memanggil nama Rea dan terus berjalan kearahku. Aku terdiam masih di tempat semula seolah-olah kedua kaki terpaku di lantai kayu ruangan ini.

Dia menghentikan langkahnya, melihat ke arahku. Pandangan kami bertemu satu sama lain. Ada kebingungan dan tanda tanya besar yang memenuhi raut wajahnya. Begitupun denganku, aku mencoba mengingat-ingat siapa pria yang saat ini sedang berdiri di hadapanku. Yang pasti pria itu mirip sekali dengan pria yanh ada di foto itu.

Kau sudah makan?” tanyanya kemudian mengecup keningku. Aku kaget setengah mati. Tak ada yang bisa kulakukan selain menganggukan kepala pelan.

Dia berlalu ke arah lemari es dan mengambil sebuah apel merah.

Maaf karena pesta ini kau tidak bisa beristirahat dengan baik. Aku tak menyangka Beny mengundang begitu banyak orang untuk menyambut kedatangannya” Ujarnya seraya melempar senyum.

Bagaimana lukamu? sudah sembuh mulai baikkah?” tanyanya lagi

Luka? Aku mempunyai luka? Dimana? Separah apakah itu?
Aku membantu, entah akan menjawab apa. Pria itu kemudian duduk di kursi tempat aku menghabiskan makan malam tadi. Aku mengekor di belakangnya dan mengambil duduk bersebrangan dengannya.

Maaf, aku boleh tanya sesuatu?” tenggorokanku seperti terjepit sesuatu hingga suara yang keluar terdengar parau.

Boleh sayang, kamu mau tanya apa?” pria itu menjawabku dengan tenang.

“Siapa aku?”

Pria itu menatapku heran, dia menghentikan makannya. Apel merah yang sudah hampir habis diletakkannya di atas meja. Pria dihadapanku ini seperti sedang berpikir dan mencari jawaban atas pertanyaanku. Aku menjauhkan tubuhku dari meja, aku tak mau dia mendengar rasa gugup dan takut yang sekarang melandaku.

“Kamu istriku, Rea” Ia menjawab seraya menatap kedua mataku tajam. Kedua mata itu sepertinya pernah kuakrabi sebelumnya, namun entah dimana.

“Aku, Kamu, Menikah??” Ucapku terbata-bata.

“Iya, 1 April tiga tahun yang silam” Ujarnya sambil tersenyum.

Aku mengernyitkan dahi, tak bersepakat.

Lalu mengapa aku seolah tak mengenalmu? atau setidaknya mengenal rumah ini saja sudah cukup

Ini bukan rumah kita sayang. Rumah kita hangus dilahap api dua minggu yang lalu. Ini rumah Beny, sepupu jauhku. Ia tinggal di Berlin dan sekarang sedang datang berlibur. Besok ia akan pulang makanya di membuat pesta perpisahan. Kau tertimpa balok kayu didepan rumah waktu kebakaran itu, makanya kau tidak ingat apa-apa

Aku semakin gelisah, apakah semua yang dibicarakan lelaki yang mengaku-aku sebagai suamiku ini benar?

Jika aku tertimpa balok saat rumah kita kebakaran, mengapa aku tidak ingat kejadian hari kemarin? padahal seperti katamu tadi, sudah dua minggu berlalu kejadian tersebut“.

Kau terdiam lama.

Sayang, kamu pasti kelelahan seharian ini dan terlalu pusing dengan kencangnya suara musik di depan.” Andrean, pria yang mengaku sebagai suamiku itu menggenggam tanganku. Kutarik perlahan tanganku dari bawah tangannya dan dengan cepat kutangkupkan di dadaku.

Memang apa yang aku lakukan seharian ini? Aku bahkan tak mengingatnya sedikitpun.

Andrean menghela nafas dengan sedikit berat. Diteguknya segelas air putih hingga habis. Dia memandangiku lagi dengan wajah yang tak dapat kumengerti. Aku membalas memandangnya dengan penuh keyakinan. Aku benar-benar ingin tahu apa yang sedang terjadi pada diriku.

Rea, sungguh benar, aku ini suamimu. Tidakkah kau percaya? Apakah cincin ini tidak cukup untuk membuktikan segalanya?” Ujarnya sambil menunjukkan sebuah cincin perak yang melingkar di jari manis tangan kanannya.

Lalu kenapa aku tidak memakai cincinku?”

Kau selalu melepasnya saat hendak mandi, pasti sekarang ada dalam kamar.” Dia bangun dari duduknya mendekatiku dan memeluk.

Aku terdiam, tak ada lagi hal yang mestinya diperdebatkan. Mungkin memang benar aku adalah Rea, seorang wanita yang telah menikah dengan pria yang sekarang berada tepat di depanku yang bernama Andrean. Namun rasa tak percaya sepertinya belum mau pergi dari pikiranku ketika melihat sekilas senyum ganjil Andrean saat memelukku dan menuntunku kembali ke kamar tidur.

***

Bagaimana apakah dia percaya padamu?”

Aku mendengar suara seorang wanita dibalik kamar ini tapi aku tak mengenali suaranya.

Iya, dia mulai percaya tapi entah sampai kapan.

Itu suara Andrean, suamiku. Wanita itu berbicara dengan Andrean.

“Ya sudah, setidaknya saat ini dia tak banyak bertanya. Dia terlalu banyak tahu. Apakah kau sudah memberikannya pil eksperimen terbaru?

Pil? Pil apa yang dimaksud wanita itu? Apakah pil yang baru saja Andrean berikan padaku dan sudah kuminum?

Sudah, aku sedikit menaikkan dosisnya. Semoga reaksi yang ditimbulkan sesuai seperti yang kita harapkan.”

Reaksi apa yang dimaksud Andrean? Apa yang sedang ingin mereka lakukan padaku? Siapa mereka sebenarnya? Oh, Tuhan, mengapa tubuhku terasa panas seperti ini, kepalaku berdenyut sakit sekali, semua di dalam kamar ini seperti berputar, gelap.

Tulisan Kolaborasi Masya Ruhulessin dengan Meutia Shafira 

 

17 thoughts on “Ingatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s