Langkah

Pagi ini aku berharap bisa menjadi matahari yang menuangkan sinarku bebas lepas, tanpa seorang pun melarang. Ingin kutumpahkan isi hatiku yang pedih, biar semua orang tersengat dan mengerti betapa tidak seimbangnya kehidupan ini. Kubulatkan niatku memohon perihal ini pada yang empunya alam. Namun tatkala kulihat kau disana, sedang menatap dan tersenyum kearahku, aku mengurungkan segala niatku. Aku tak ingin lagi menjadi matahari. Aku ingin menjadi angin yang meliuk-liuk sempurna menjamah indahnya senyummu.

Lalu kemudian kupijak bumi, kulangkah satu per satu jejakku, mendekatimu. Keinginanku pun berubah seiring dengan kaki-kakiku yang memaku bumi menjadi lebih dekat dan memangkas habis jarak yang kita punya. Aku ingin menjadi hangat yang kau selalu dapatkan ketika matanya bersirobok dengan semua yang kau lihat. Hangat itu akan menjadi abadi karenamu. Dan aku ingin mengabdikan hidupku untuk kebahagiaanmu itu.

 Aku semakin mendekat padamu. Dalam jarak sekian detik saja aku akan menggapai dirimu. Aku menegakkan kepala lalu kutarik bibirku dengan sudut sempurna. Namun kuhentikan itu semua segera, senyum maupun langkahku karena kau tiba-tiba saja merenggut. Bibirmu menggantung tak lagi indah. Matamu memancarkan kesenduan yang begitu dalam, layaknya senja yang akan segera dilahap malam. Batinku menerka-nerka. Mungkinkah kau membenci hadirnya sebuah rasa hangat?

Rasanya begitu sungkan mendekatimu sekarang. Meski jarak kita tak lagi berjauhan. Hanya satu langkah kaki lagi. Namun matamu tajam menghujam jantung dan hatiku. Aku tergugu. Tak pernah terbayangkan akan ada tatapan yang begitu sulit kuterka darimu. Seperti bertemu dengan sosok yang belum pernah kudapatkan sebelumnya.

Aku akhirnya berputar-putar pada pijakan yang sama, dalam jarak selangkah menujumu. Aku bukan pengecut jadi tak ingin berlari menjauh. Namun kali ini bukan sepenuhnya pemberani karena tatapanmu telah menghisap sebagian dari keberanian menggebu yang biasanya kumilikki. Kau tampak begitu nyaman dengan caramu menatapku walaupun tubuhku sudah membahasakan aku mulai tak nyaman dengan caramu itu. Jika kuingat tatapan dan senyuman pertamamu, aku seperti terlempar di dua dunia berbeda.

Membahasakanmu memang tak pernah benar-benar mudah. Karena setiap kata yang terucap darimu bisa mengandung lebih dari satu makna yang tak bisa kuartikan begitu saja. Membahasakanmu memerlukan waktu yang tak sedikit. Karena bila akhirnya aku terburu-buru dengannya, itu semua hanya akan membawa lebih banyak kekecewaan lagi nantinya.

Kau lalu perlahan berjalan memunggungiku, meninggalkan aku yang sedari tadi tak beranjak kemanapun. Aku memilih mengekalkan diri disini dan belajar memahami setiap bahasa yang kau lafaskan. Jarak yang tercipta antara kita semakin lebar saja. Seandainya kamu bisa membaca tatapanku yang tak pernah ingin kau pergi menjauh. Betapa aku ingin kita tenang dan bernegosiasi, menyoalkan setiap kemungkinan yang bisa terjadi, sekecil apapun itu.

Tulisan Kolaborasi Masya Ruhulessin dan Teguh Puja

16 thoughts on “Langkah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s