~ A Long Journey (part III)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari post sebelumnya dan tertunda karena begitu banyak perihal yang mengejutkan dalam dua minggu terakhir.

Suasana Bandara yang sepi
Suasana Bandara yang sepi

Makassar-20 Maret hampir pukul 10.00 waktu setempat. 
Saya masih melayang didalam burung besi. Penerbangan malam memang menghadirkan suasana yang menyenangkan. Lampu-lampu menyelimuti seantero wilayah, indah.

Makassar- masih 20 Maret pukul 10 lebih.
Yang saya pikirkan ketika menginjakkan kaki di bandara Sultan Hasanuddin, adalah sepiring nasi dengan lauk apa saja dan susu cokelat panas. Saya lapar tante! (>_<‘). Dan yang sangat menyakitkan setelah selesai mengurusi proses transit semua tempat makan dibandara  telah tutup.  Ditambah lagi saudara saya tidak datang menjemput maka resmilah sudah keterasingan ini. Untunglah mata saya tajam menangkap salah satu restoran cepat saji masih buka. Orang yang lapar memang punya insting luar biasa. Hahaha. Saya adalah satu-satunya orang yang masih makan disana. Tempat makan itu akhirnya tidak menjadi persinggahan yang lama karena akan tutup sebentar lagi. Saya harus mencari tempat yang lain untuk nongkrong, halah, nongkrong seorang diri. Nongkrong apanya?? duduk gembel mah iya. Kaga ada siapa-siapa yang dikenal. Bahkan dua anak kecil yang sedari tadi kejar-kejaran tidak tersenyum pada saya. Akhh!! Ya, akhirnya saya kencan dengan handphone dan wifi. Malam itu saya membagi cinta pada mereka berdua dengan adil. ωkωkωk◦ ┒(˘- ˘ )┎

Makasar- sudah 21 Maret entah pukul berapa.
Saya begadang! Bukan tidak berhasil memejam mata namun kalau saya tidur siapa yang menjaga barang bawaan saya?? trus tidur dimana? nanti kalo ada yang culik gimana? nah loh. Saya resmi jadi fans bang Rhoma. Saya begadang! Pesawat saya akan take off  jam 5 pagi, yang artinya total keberadaan saya di Makassar kurang lebih enam jam, tanpa jalan-jalan. *hampir lemparin kaca bandara*
Pagi yang muda mulai mejemput. Mata sudah mulai melankolis, samar-samar alam mimpi memanggil. Tak ada yang bisa dilakukan selain mencari secangkir kopi. Untung ada yang buka di dinihari seperti ini dan saya baru menyadarinya. Aroma cappucino yang hangat berhasil menarik saya lagi pada sebuah kesadaran. Tapi yang benar-benar menyadarkan saya adalah harganya. Waktu mengeluarkan uang dari dompet, saya terbayang wajah kakang burjo di belakang kampus yang ngejual segelas cappucinonya dua ribu perak. Kakang, bikin burjo di bandara donk kang (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) .
Saya berada di kafe itu cukup lama hingga proses check in jam 04.30 waktu setempat.


Makasar-  21 Maret subuh.

Saya kembali menyandarkan diri di bangku pesawat. Merengangkan tubuh dan mencoba menutup mata, tapi pemandangan diluar terlalu menggoda untuk dilewatkan. Akhirnya saya memilih untuk tetap terjaga. Sembari mata dimanjakan sarapan pun datang. Hah, saya baru sadar saya lapar. Hahahaha. Makan di atas ketinggian beribu-ribu kaki ini memang terasa begitu eksotis, uyeeee.Perjalanan dari Makassar ke Ambon dapat ditempuh dengan waktu terbang satu setengah jam. And finally, welcome home sweetie🙂

Welcome Cloud - Ambon
Welcome Cloud – Ambon

Ambon, 21 Maret – udara bandara yang menyapa seperti biasa
Penuh sesak! Ada kepergian ada kedatangan, bahagia dan kesedihan. Itulah bandara. Ada antrian panjang di tempat bagasi, ya barang saya banyak, saya tahu (-_-“), untung sudah ada jemputan. Perjalanan saya belum berakhir sampai di kota Ambon. Rumah saya ada di kota Masohi, kab. Maluku Tengah. Tempat tinggal saya dapat ditempuh dari kota Ambon menggunakan transportasi darat dan laut. Jika melewati jalan darat, jalan yang ditempuh lumayan lama, sekitar 7 jam. Saya tidak sudi deh.
Lewat jalan laut, waktu hanya sekitar dua jam lebih dan biasanya ada dua kali proses keberangkatan. Karena tidak dapat mengejar keberangkatan pagi, saya akhirnya menanti hingga sore. Istirahat sebentar dirumah sanak keluarga di kota Ambon lalu mempersiapkan diri menuju tempat penyebrangan kerumah disore hari, tepat pukul 16.00.

Masohi, 21 Maret – dalam sebuah senja.
It’s very long-long journey to home. Tapi sebuah pelukan dari mama rasanya sudah cukup untuk menghapus semua rasa rindu, capek, lelah, kesal, lapar, panas dan sebagainya. Ah mama, segelas teh dan pisang goreng sore itu terasa begitu nikmat. Begitu juga dengan sepotong kue, segelas sirup dan sebingkai pemandangan yang terlihat dari meja komputer sore ini.😀

Pemandangan yang terlihat depan rumah
Pemandangan yang terlihat depan rumah

Masohi, 6 April 2013 – diantara aroma kue-kue yang baru selesai di panggang

28 thoughts on “~ A Long Journey (part III)

  1. Such awesome long journey story, Masya..🙂
    Paling suka di alinea ‘..ngeluarin dompet unt segelas cappucino..’😆
    – pasti lbh enak cappucino kakang burjo, bisa nambah bbrp gelas..haha… –
    Happy Sunday.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s