Hujan

Langit menumpahkan tangisnya begitu deras sedari pagi. Semua yang tak teratapkan basah. Jalan yang sering ku lalui pun bergelimang air. Akh, aku benci jika hujan datang. Bukan karena takut basah, namun sederas apapun mereka jatuh tak bisa menghapus kenangan yang terpatri dijalan ini. Seperti lagu usang yang sering aku dengar saat melewati kedai kopi di seberang jalan sana. Kenangan akan dirimu yang selalu mengusiliku dijalan ini tak akan pernah hilang,bahkan air hujan pun tak pernah bisa meluruhkan segala bayangan gelak tawamu. Kadang aku ingin berkunjung ke raja langit meminta dia berhenti menangis. Karena sekali dia menangis, hatiku pun juga ikut menangis. Merindukan setiap senti kenanganan kita.

***

Yan, ini kan hujan. Mengapa sih kita harus berangkat?” Kau hanya menoleh padaku, tak menjawab lalu kemudian lurus menatap ke depan.

Yuk. Hujan ini tidak akan membunuhmu Diana” Kau menarik tanganku lalu kita berlari menerobos hujan.

Memang Hujan tidak membunuh, tapi hujan menjadi saksi saat aku kehilanganmu. Tawa dan semua kerling candamu. Aku tidak tahu mengapa justru hal yang dulunya mempertemukan kita juga bisa menjadi hal yang menyaksikan kita berpisah. Masih basah dalam ingatanku gemetar suaramu melengking beradu dengan derasnya hujan lalu perdebatan-perdebatan kita, yang semakin menjadi-jadi entah kemana arahnya. Lalu berujung kau membanting pintu rumah, mengabaikan laranganku dan pergi menerobos hujan. Sejak hari itu kau tak pernah lagi kembali.

***

Aku memaksa langkah, mengharapkan hujan segera berhenti tapi langitpun seperti enggan mendengar doaku. Aku menutup segala memori tentang perdebatan itu. Tak ingin aku mengenang segala ucapanmu yang seakan menusuk hati ini. Aku tak akan pernah rela mengingat satu kata pun, tak kan pernah.

Aku tertegun. Segala bayangan menari meninggalkan sukma, buram air mata tak menghalangi pandanganku. Aku melihatmu berdiri menjulang tinggi diantara sepinya hari, diantara derasnya hujan. Akan kah hujan menjadi sebait nyanyian merdu yang akan membuatku terbuai? Aku memberanikan diriku mendekati bayangan itu. Batinku bersorak kegirangan. Rasa yang bertahun-tahun lalu itu masih tetap sama, tak berubah sedikitpun. Kutanggalkan payung dan kubiarkan diriku dibasahi air langit sore ini.

Hujan yang kuterobos rupanya mendengar riak hatiku. Itu kamu. Benar, itu kamu. Kamu yang sedang tersenyum, manis seperti biasanya dan memperlihatkan mata yang semakin menyipit. Kepalamu begitu licin, Rambutmu entah pergi kemana. Aneh. Kau bahkan tak pernah suka jika rambutmu dipotong. Waktu memang kadang merubah segalanya.

Aku melangkah ragu, ingin berlari memelukmu. Tapi aku takut, nyata yang berdiri di depan mata ini hanya semu. Aku ragu, namun kurasakan pelukanmu mendarat erat. Kamu tanpa ragu menarikku dalam dekapanmu.

“Diana!!

Hanya satu kata kamu menyebut namaku. Aku luruh, air mata bercampur air hujan sekakan membanjiri kedua pipiku. Kamu nyata. Aku memandangmu dan beribu tanya telah ingin ku hamburkan. Tapi kata yang hanya sepatah pun tak bisa aku

Kamu memahami ku dan tersenyum,tanganmu mengelus kepalamu yang tanpa sehelai rambutpun.

“Maafkan jika aku pergi tanpa memberi kabar padamu. Aku tak ingin menyakitimu terlalu dalam Diana
Kenapa kau meninggalkan ku dengan sejuta tanya?? Apakah kau sadari justru seperti inilah yang menyakitiku telalu dalam”.
Kau diam, lalu menatap tajam kedalam mataku. Oh tatapan itu seperti pencahar rindu yang mempan

Maafkan aku Diana. Ada jalan yang sudah harus kutempuh dan memang seperi itulah hatiku berarah. Maafkan aku atas kesalahanku yang lalu Diana, pergi tanpa kabar sama sekali bahkan meninggalkanmu dalam sebuah pertengkaran konyol. Aku marah pada diriku sendiri karena saat itu aku tak bisa mengungkap yang sebenarnya padamu.”

Apa maksudmu Yan?

“Aku telah menamatkan pendidikanku di seminari Diana dan aku akan ditugaskan ditempat ini, Tentunya kau tau kita tak akan menjadi seperti dulu lagi. Tapi kita masih bisa tetap berteman. Aku mengasihimu Diana, sama seperti Tuhan mengasihi semua umatNya.”

Aku terdiam tak mampu berbicara sepatah katapun. Kau tersenyum dan matamu  kini berkilau lebih indah. Sisa air hujan telah menjelma menjadi pelangi dimatamu. Aku mengangguk pelan lalu menengadah ke langit, berharap sang raja langit menjemputku sesegera mungkin. Semakin malam, langit sudah tak lagi menangis, mungkin itu juga tandanya supaya ku juga berhenti menangis dan berhenti berharap tentang kita.

Tulisan kolaborasi Masya Ruhulessin dengan Aini W.K

6 thoughts on “Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s