Ruang Makan

Lelaki menyapukan matanya ke seluruh ruangan dengan seksama. Ruangan hangat bercat kuning gading yang berpadu elegan dengan perabot-perabot kayu. Tertangkap oleh matanya seekor kelinci Paskah, sedang melompat riang kesana kemari membawa keranjang berisi telur berwarna indah. Ia langsung teringat Paskah dan masa kecilnya yang selalu saja sama dari tahun ke tahun: monoton. Ada telur berhiaskan emas permata yang diberikan kedua orang tuanya dengan tingkat kemahalan yang semakin meningkat tiap tahunnya. Telur-telur yang buatnya sudah terlampau biasa. Ia hanya ingin akan duduk makan malam dengan dua insan yang disapanya ayah dan ibu. Ya setidaknya untuk mengenang sakralnya sebuah perjamuan terakhir saja, tanpa perbincangan pun sudah lebih dari cukup. Toh Paskah juga terjadi setahun sekali saja.

Tapi semua itu adalah khayal yang tak pernah berujung pada kenyataan. Dalam keseharian saja mereka jarang bersua untuk hanya sekedar menyapa, apalagi untuk duduk semeja bersantap bersama. Padahal Ia selalu menanti mereka setiap harinya saat malam tiba. Ia percaya mereka akan datang untuk bersantap bersama. Ia sungguh ingin tahu apa makanan kesukaan ayahnya dan bagaimana rupa ibunya kala tersedak.

Pada umur dua puluh dua tahun ia memutuskan untuk percaya bahwa keyakinannya terlampau naif. Ia jenuh, sepi, rapuh, juga rindu. Bak punggguk merindukan bulan, semua keinginannya itu terlalu jauh untuk digapai. Ia berhenti menanti tapi ia tak berhenti mencintai ruang makan ini.

Berjam-jam berlalu, Ia masih saja duduk disitu dengan posisi yang sama: bangku pertama disebelah kanan. Nampak olehnya potongan semangka merah layaknya pemerah pipi gadis yang menjadi cinta pertamanya. Gadis itu, gadis berbola mata bulat dengan kelopak mata bersudut sempurna. Gadis yang menjadi satu-satunya cinta dalam hidupnya dan juga yang meninggalkannya berdiri mematung begitu lama dibawah dahan Angsana pada suatu senja akhir Mei tanpa sebuah penjelasan.

Satu tahun penuh Ia larut dalam kesibukan untuk mencari apa alasan kepergian sang gadis. Hingga akhirnya Ia jumpai sebuah potongan berita di surat kabar mengenai perselingkuhan seorang pejabat tersohor dengan seorang gadis cantik jelita yang masih tergolong muda. Ia kaget bukan main, bagai disambar petir tanpa badai saja. Sang gadis belia itu tak lain adalah cinta pertamanya. Tak pernah Ia sangka, sosok yang begitu sempurna dimatanya melakukan perbuatan seperti itu. Gadis itu telah berhasil menjadi buah bibir segenap umat pekan ini. Ia rasanya ingin mencampurkan desas-desus, semua cemooh dan makian yang didengarnya dalam sup kegemarannya. Dimakan lalu habis, bersih.

April kali ini begitu senyap, dingin dan kaku. Matahari yang biasanya menyapa dan membelai lembut seakan telah mati dalam pelukan malam. Sebentar lagi Ia berusia dua puluh tiga tahun. Matanya yang sembab tak kuasa lagi kembali ke bentuk awalnya. Kesedihan mematuk-matuk hatinya begitu kencang. Hidup kini terasa semakin berat baginya. Tebing-tebing yang ia panjat begitu curam dan menguras tenaga yang tidak sedikit. Bahkan sungai yang tampak tenang berhasil membawanya pada muara mematikan. Lelaki itu sudah tak mampu lagi melangkah. Ia jenuh, sepi, rapuh, juga rindu. Semua rasa kali ini tak dapat lagi dibendung. Mereka tumpah ruah, membanjiri dinding kuning gading. Sang lelaki telah menambatkan hatinya pada ruang makan ini seutuhnya.

2 Mei 2013 – Sebuah Harian Nasional
Seorang lelaki telah ditemukan tewas bunuh diri di sebuah kawasan elite sebelah barat kota ini. Padahal hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga. Ia tewas diatas meja makan keluarganya yang begitu mewah, dengan menggengam erat sebuah telur emas berhiaskan berlian, dengan ukiran 23 pada salah satu sisinya. Mulut korban penuh kunyahan kertas koran berisi berita perselingkuhan dan foto keluarganya yang sudah usang”

*sebuah pekerjaan rumah untuk kelas Poetica – 13 April 2013. Materi mengenai Majas*

Posted from WordPress for Android

9 thoughts on “Ruang Makan

  1. Berita korannya kenapa bisa lengkap gitu: kertas koran berisi berita perselingkuhan dan foto keluarga? Emang kertasnya belum lumat (masih utuh)? *dandan ala detektif, hehehe*

    1. Kan matinya dalam keadaan mulut ternganga. Sekresi saliva nya udah brenti jadi mash utuh tuh kertas .. :p

      *sungkemin Aam Mori

  2. hai masya, pa kabar..?
    banyak bener ya ketinggalan baca..
    selalu saja karya-karyamu apik…🙂

    itu harta kekayaan sayang bener ya, di tinggal mati begitu saja
    kalau buat bangun rumah puisi…. kereen (#menghayal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s