Janji

Nesya melayangkan matanya ke sudut ruangan. Jam dinding merahnya telah menunjukan pukul 19.00. Ini sabtu malam. Oke oke. Semua orang bilang ini malam minggu dan Nesya masih tak beranjak dari kamarnya. Diliriknya handphone sekali lagi meyakinkan diri bahwa benar tidak ada pesan yang masuk. Ia menghela napas panjang, raut mukanya kecewa. Ia meletakan handphone kemudian menyetel TV. Tidak berapa lama ia mematikannya lagi.

Tak ada acara yang bagus” rutuk Nesya.

Sebenarnya itu hanya alasan karena perasaannya memang sedang tidak tenang.

Diambilnya lagi handphone lalu diketiknya sebuah pesan.

“Kok sms Nes di anggurin sih?? Sebeell tau”
-Send-

Selang beberapa menit kemudian, handphonenya berdering tanda ada pesan yang masuk. Nesya meloncar meraih handphonenya. Pesan balasan dari orang yang dari tadi Nesya harapkan.

“Lagi sibuk ‘ndut. Ini ada yang mau ngambil pesanan soalnya. Entar lagi pulang kok. (ˇ-ˇ)-c​(ˇ-ˇ)”

Nesya memandang balasan smsnya dengan raut muka aneh.

“Dasar!!” Ia lalu membenamkan wajahnya pada boneka kesayangannya.

***

Aku memacu motorku cukup kencang. Dingin malam ini sangat menusuk,karena ingin cepat aku lupa memakai jaketku. Tubuhku sudah sangat lelah untuk lebih memacu motorku. Kesibukanku kuliah dan membantu ibu mengantarkan pesanan jahitan, membuat aku jarang meluangkan waktu buat Nesya. Aku memberhentikan motorku tepat dirumah ibu Nelly,langgana setia ibuku.

Bip.bip..

Sebuah pesan masuk ke handphoneku. Pesan itu dari Nesya.

“Kok sms Nes di anggurin sih?? Sebeell tau”

Otakku berpikir, “Ah,ini malem minggu ya?” Kataku dalam hati. Aku biasa mendapat sms seperti itu dimalam minggu.

“Lagi sibuk ndut,ada yang mau ngambil pesanan,ini bentar lagi pulang kok, (ˇ-ˇ)-c​(ˇ-ˇ)”
-send-

Kemudian aku memberikan pesanan pada ibu Nelly yang sudah menunggu. Aku langsung berpamitan pada bu Nelly, lelah tubuh membuat aku tak sanggup lagi untuk meluangkan waktu ngobrol sama bu Nelly.

Aku kembali kemotorku dan memacu lambat motorku.

“Maaf ya ‘ndut, malam minggu ini nggak bisa lagi berduaan” kataku dalam hati.

***
Nesya tersenyum lebar memegang map cokelat ditangannya. Dia masih tak percaya namanya yang tertera di dalam dokumen itu. Dokumen yang memperbolehkan Nesya belajar di Jepang selama enam bulan mulai awal bulan depan. Tak percuma kerja kerasnya belajar selama beberapa pekan terakhir, sibuk sesibuk-sibuknya untuk mengurus administrasi dan tentu ini adalah hasil yang sebanding.

“Ia ma, nanti kasih tau sama papa ya. Nes mau makan dulu. Nanti kita sambung lagi ya!” Ujar Nesya lalu mematikan sambungan teleponnya.

Dengan riang Nesya berjalan menuju kantin yang terletak disebelah utara kampus. Tiba-tiba handphonenya berdering tanda ada pesan masuk.

“Gmn? udahan hasilnya ‘ndut?”

“Udah. Nes ke Jepang bulan depan Yo. Nez ke Jepang!! :)”.

-send-

***

“Ndut, kamu di dalem kan?”

Nesya mengusap-usap matanya. Sepertinya suara seseorang yang dikenalnya. Ia berjalan malas membuka pintu rumahnya. Seorang pria berkulit sawo matang telah berdiri dihadapannya, tersenyum manis. Akh, kenapa senyum itu selalu manis.

“Congratulation ya ‘ndut. Nih ada titipan dari ibu. Katanya kado buat kamu” ujar Aryo seraya memberikan sebuah syal merah jambu, hasil rajutan ibunya kepada Nesya. Aryo adalah lelaki yang sudah dipacari Nesya selama dua tahun terakhir ini.

Duh cantik banget. Bilang makasih ya ke ibu Yo”

Aryo tersenyum namun ada kekhawatiran menggantung di wajahnya.

Kita bisa kan Nes melewati enam bulan ini? Sebentar doang kan?” Aryo memecah suasana dengan suaranya yang berat.

Nesya tersenyum. Ternyata pacarnya yang selalu terlihat cuek itu juga khawatir.

Yes! Yes we are! Keep calm honey, I love You”

Pernyataan yang membuat Nesya mendapat sebuah hadiah cubitan di pipi kirinya.

Awas kamu jangan nakal di sana ‘ndut”

***

Aku masih menyimpan perasaan gundah ketika dalam perjalanan pulang kerumah. Baru saja aku kerumah Nesya untuk memberinya selamat dan juga mengantarkan syal yang dibuat ibu untuk Nesya. Nesya sangat akrab dengan ibuku. Nesya adalah wanita yang selalu menemani kesepian ibu semenjak ayah meninggal 1 tahun yang lalu. Perhatian ibu ke Nesya sudah seperti anaknya sendiri.

Aku turut bahagia Nesya bisa mewujudkan impiannya ke Jepang. Namun dilain sisi aku merasa sedih harus ditinggalkannya sebentar lagi, ya walaupun hanya 6 bulan. Dia bisa mendapatkan beasiswa lanjutan jika dia mendapat nilai-nilai yang bagus dan dia telah bekerja sangat keras untuk itu.

“Ah,lupakan saja. Aku bangga dan bahagia jika impiannya terwujud. Aku harus meluangkan waktu sebelum dia pergi nanti!” kataku dalam hati.

Cittttt!!!! Lamunanku terpecah,aku menghindari lubang jalan.

“Astaga,hampir saja.” Aku menghela nafasku,mengilangkan rasa cemas yang menerpaku.

Sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan tubuhku dikasurku. Aku mengambil handphoneku dan mengirim pesan pada Nesya.

“Inget ya jangan nakal loh disana.” Kuselipkan emoticon cium diakhir pesan.
-send-

***

Enam bulan telah berlalu. Akhirnya Nesya menginjakan kaki lagi di tanah kelahirannya. Hari ini matahari menyapa lembut. Disesapnya udara dalam-dalam. Ia tersenyum, rasanya lega sekali. Setelah mengambil semua barang bawaan, Nesya berjalan menuju gerbang penjemputan. Terlihat olehnya ayah dan ibunya berdiri dengan wajah berseri-seri. Ibunya bahkan menangis ketika mendekap Nesya. Terlalu rindu nampaknya. Hari ini Aryo telah memberi tahu tidak dapat ikut menjemputnya di bandara karena ada urusan katanya. Nesya agak kesal sebenarnya tapi Aryo ya tetap Aryo, selalu saja begitu. Dalam mobil, di sela-sela percakapan dengan ayah dan ibunya ponsel Nesya berdering tanda sms masuk.

“N’dut itu pipi apa bakpao sih?​hahaha”

Nesya melotot kaget menatap layar handphonenya. Ternyata tadi Aryo ada dibandara.

“Kamu menyebalkan. Tau deh!”
-send-

Hari ini adalah hari kepulangan Nesya. Aku sengaja tak menjemputnya dibandara saat di kembali. Hmm.. Bukan tak menjemput sih,hanya saja aku tak menampakan diriku saat dia tiba. Aku melihatnya dari kejauhan sedang bersama ayah dan ibunya. Aku tersenyum ketika melihat sedikit perubahan pada pipinya yang semakin tembem. Aku tertawa sendiri.

Mereka kemudian masuk ke mobil, dan kelihatannya akan langsung menuju kerumah. Aku kemudian dengan cepat menaiki motorku dan melaju kencang mendahului mereka tiba dirumah nesya. 30 menit perjalanan membawa aku tiba lebih dulu dirumah Nesya. Ya, aku dan keluarganya menyiapkan acara kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan Nesya. Semuanya sudah siap dan aku tinggal menunggu kedatangan mereka. 10 menit menunggu, akhirnya mereka datang. Aku mengintip lewat jendela untuk memastikannya. Terdengar langkah-langkah kaki yang mendekat, suara pintu yang terbuka dan

“SURPRISE!!!”

Aku berteriak dengan lantang dengan membawa sebuah kue coklat kecil kesukaannya. Aku melihatnya terkejut dengan raut muka yang ingin mencubitku.

Welcome home ya ndut.” Aku kemudian mengelus rambutnya dan tak lupa mencubit pipinya.

“Hihi, ini ya pipi bakpao tadi.”

Aku tertawa. Nesya hanya bisa mencubit lenganku.

“Kamu tetep aja nyebelin Yo”

Aryo tertawa lalu melirik syal merah jambu yang Nesya lingkarkan di lehernya.

Masih kamu simpan ‘ndut?”

“Ya iyalah. Supaya aku inget ibu kamu terus jadinya semangangat Yo.”

“Terus anak lelakinya nda diingat ‘ndut?”

“Terus kalo setiap hari di kontak tuh namanya gak ingat gitu ya?”

Aryo tertawa terbahak-bahak lalu menarik Nesya kedalam pelukannya. Ia memeluk Nesya erat sekali, seolah menumpahkan segenap rindu yang tertabung selama enam bulan belakangan.

“Welcome home swettie” Bisik Aryo mesra.

Nesya tersenyum lebar dalam pelukan Aryo. Rindunya kini  terbayar sudah. Namun yang membuat Nesya lebih gembira adalah karena sebutan sweetie yang baru saja di dengarnya. Ya ya, Aryo memang jarang romantis. Tapi Nesya tak peduli. Seorang pria idaman kan tidak selalu harus romantis bukan?

Bukan banyaknya kata-kata sayang yang membuat cinta ini terus ada, tapi satu pelukan hangat ini yang mengatakan bahwa aku dan kamu akan terus mencintai.

Tulisan kolaborasi dengan Dyaz Afryanto

Posted from WordPress for Android

22 thoughts on “Janji

  1. eh jadi pas bagian awal itu malam sabtu atau malam minggu ya :p
    dan itu syal pemberian ibu nesya warna merah atau merah jambu ya? :p
    *kemudian digorok dyaz sm mbak masya* #kaboooooor

    1. Kayanya sih malam minggu deh put, eh sabtu malam ding eh bingung neh cha. Hahaha *dibikin pempek sama dyaz*

  2. Bukan banyaknya kata-kata sayang yang membuat cinta ini terus ada, tapi satu pelukan hangat ini yang mengatakan bahwa aku dan kamu akan terus mencintai.

    teringat teletubbis🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s