Rasa yang Tersembunyi

“Mmm… kamu lagi.

Yang merasa disapa hanya menolehkan kepalanya sambil berkernyit dahi.

“Iya, kenapa?”

“Duh, ketusnya!” kata Ama dalam hati.

“Bukan biasanya Aldi begini?” Ama bergegas menjauh dan mencari bangku sendiri dalam perpustakaan itu.

Matanya sesekali melirik pada Aldi yang duduk di ujung kanan ruang ini, tempat pertama kali bertemu. Ama baru mengenalnya belum lama. Tetapi dia mulai menyukai hal-hal kebiasaan kecil Aldi.

“Ah sudahlah, mungkin dia tak ingin diganggu kali ini. Nanti dia juga bercerita.” Ama berusaha menghibur diri, memulai belajarnya.

Ama mulai menekuni buku teksnya. Ia membalik halaman demi halaman dengan seksama. Ama mendongak ke arah jendela untuk sekedar menyegarkan mata lalu metunduk lagi menatap buku. Namun siluet punggung Aldi yang terpantul di kaca memaksa konsentrasinya tak lagi searah. Ia membaca lalu melirik sesekali ke arah Aldi.

Ama merutuk dalam hati. Mengapa lelaki yang kadang menyebalkan itu dapat menarik perhatiannya dari sebuah buku yang begitu menarik. Ama memejamkan matanya kemudian membenamkan kepalanya pada dasar buku. Ia berharap Aldi segera hilang dari pikirannya.

“Kebanyakan pikiran?”

Ama kaget mendengar suara dibelakangnya. Didongakkan kepalanya ke arah sumber suara. Ama kaget bukan main, Aldi menatapnya dengan pandangan acuh tak acuh. Ama merasakan darah mengalir deras ke pipinya.

“Sok tahu ah,” tergagap Ama menjawabnya.

“Akui saja, kenapa?” Goda Aldi sambil mengambil bangku duduk di depan Ama.

Ama pun makin jengah. Dia tahu Aldi takkan menghentikan tatapan itu sampai mendapat jawaban dari pertanyaan. Ama dengan cepat menutup buku yang dibacanya, dibereskan semua perlengkapannya dan siap meninggalkan perpustakaan dan Aldi.

“Hei, tunggu. Kamu belum jawab pertanyaanku.” Aldi menyambar lengan kurus Ama berusaha menahannya.

Ama terhenti dan sejurus menghela nafas. “Tadi apa yang kau lakukan ketika kau duduk di bangku itu?” Sambil kepalanya menunjuk tempat duduk Aldi.

“Duduk? Aku duduk di mana? Aku barusan datang dan melihatmu sedang melamun, kupikir kamu sedang banyak pikiran hingga tak mau menungguku di tempat biasa.”

Kini giliran Ama mengernyit dahi. Ada yang aneh. Seperti waktu terhenti mereka sibuk dengan kebingungan sendiri.

“Sudah, lepaskan. Aku pulang. Besok saja kita di sini lagi.” Aldi pun berat hati melepaskan genggamnya, seolah ada yang pergi.

“Jangan-jangan dia lagi,” katanya dalam hati. Nyaris dia memanggil Ama hendak menjelaskan sesuatu. Tetapi lambaian tangan terhenti di udara dan suaranya pun ditelan kembali.

***

Aldi mematung menatap layar laptopnya. Belum ada satu kata pun yang dia ketik di sana. Padahal besok makalahnya harus dikumpul pukul tujuh pagi. Pikirannya kini dipenuhi wajah seorang gadis yang sejak beberapa minggu belakangan ini giat berkutat di pikirannya, Ama.

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dan seseorang masuk. Perawakannya tinggi putih, persis Aldi wajahnya.

“Aku pinjam gitarnya dong.”

“Tuh..” ujar Aldi sambil menunjukkan letak gitar dengan bibirnya.

“Kamu tadi ketemu cewek ya di perpus, manis, rambutnya sebahu?

“Yang rambutnya sebahu banyak, Aldi.”

“Ada yang bicara sama kamu gak?”

“Ehm. Entahlah. Aku lupa. Kenapa?”

Aldi hanya menggeleng tak bersuara menjawab pertanyaan saudara kembarnya Aldo. Ia kembali mengarahkan perhatiannya ke layar laptop dan berharap akan menyelesaikan makalahnya tepat waktu.

***

Ama melamun di meja belajarnya dalam kamar. Dia masih memikirkan sikap Aldi yang aneh. Ama menghela nafas panjang, tak habis pikirnya tentang Aldi hari ini.

Dihembuskan lagi kekesalannya. Besok makalah harus selesai.

(((Dering Ponsel)))

Ama hanya menatap layar ponselnya. Nama Aldi sana, dan dibiarkannya. Entah dia tak mau diganggu lagi.

Berkedip cahaya dari layar ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Aldi.

“Kamu pasti sibuk juga ya, tak mau angkat telponku? Selamat malam, selamat belajar.”

Ama menatap lama layarnya, dan mengedikkan bahunya. Tanpa membalas pesan itu. Tugas sudah menanti.

***

Pagi hari yang tenang. Remah-remah matahari baru saja mencapai tanah. Aldi baru saja menyelesaikan makalahnya. Waktu telah menunjukkan pukul lima dan ia sama sekali belum memejamkan mata sedari kemarin. Diliriknya ponsel yang tergelatak di atas meja. Tidak ada pesan yang masuk. Bahkan balasan pesan yang sangat diharapkannya pun tak ada.

Aldi beranjak malas dari tempat duduknya. Diraihnya handuk lalu menuju ke kamar mandi. Ia berharap dinginnya air akan menghapus setiap spekulasinya tentang Ama sepanjang malam tadi. Tapi semua itu percuma. Dinginnya air malah semakin membuat spekulasi di otaknya berlipat ganda.

***

“Selamat pagi Ama, kamu sehat? Aku ingin bicara denganmu, sepulang kelas di tempat biasa.”

Ama menghembus nafas kesal. Pandangannya masih menatap layar ponsel. Dilemparnya ke dalam tas. Sedang mengemudi, tak baik membalas pesan ponsel, seperti kata Aldi.

Lagi-lagi dia menghempas kesal, ingatan tentang Aldi makin menjadi-jadi. Laki-laki itu sudah separuh hatinya dan menanamkan banyak putik-putik kembang.

Dengan gemas Ama mencengkeram kemudinya lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat biasa mereka bertemu.
Ama menemukan lelaki itu, duduk membelakangi arah kedatangannya. Dia hafal betul pemilik punggung hangat itu. Segera saja pipinya menghangat. Berkelebat kenangan manis awal-awal pertemanan mereka. Ama diam-diam menyimpan bahagia pada Aldi. Tak pernah lebih menaruh harap.

Ama lekas bergegas menuju sosok tampan itu.

Tiba-tiba…

Hujan turun dengan lebatnya. Ama menyesal karena lupa membawa payung padahal letak parkir mobilnya lumayan jauh dari tempat Aldi menanti. Ama menimbang-nimbang akan keluar atau tidak. Pasalnya jika ia basah tercurah hujan, flu berat tak bisa ia tolak. Ama tak ingin itu terjadi karena besok ada banyak ujian yang menanti.

Ama akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada Aldi yang kini punggungnya terlihat samar-samar akibat kaca yang mengembun. Ia ingin meminta Aldi untuk menanti sebentar hingga hujan agak reda.

Belum juga mengirim, ada seseorang yang mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.

Sesosok serupa Aldi dan membawa payung berada di dekatnya. Bayang itu memberikan isyarat untuk meminta masuk. Ama mengerti. Sedikit membukakan pintu dan menggeser tubuhnya, duduk di sisi kiri.

Benar dia Aldi.

Ama sedikit lega. Tetapi kepalanya dipenuhi tanda tanya. Secepat itu Aldi tiba? Ama berusaha mencari punggung yang dilihatnya tadi. Ah, kaca di luar terlalu berembun, sulit menembus penglihatan.
Ama menatap Aldi, meyakinkan diri bukan melihat hantu atau Aldi jadi-jadian.

“Heh, sudah ini sungguh aku, Aldi. Tadi aku menunggumu dan melihat mobilmu mulai masuk, dan hujan. Tapi rupanya terlalu deras, baiknya kita di sini saja, keberatan?”

Ama hanya menggelengkan kepala. Berdua dan sedekat ini masih saja membuatnya gugup. Terkadang bertanya-tanya apakah Aldi hingga ikut mendengar degup kencang dari dadanya.

“Aldi, maaf aku tak membalas telpon dan pesanmu semalam hingga pagi. Kamu juga tahu tugas-tugas kuliah kita semakin berat.”

Aldi hanya tersenyum. Tangannya meraih puncak kepala Ama dan mengacak-acak rambutnya.

“Iya, aku tahu. Aku hanya ingin bicara berdua saja. Kangen mungkin,” Aldi seolah menggantung ucapannya. Matanya menatap mata Ama. Tangan Aldi hendak mendekatkan kepala Ama pada peluknya.

Tetapi dengan gerakan sedikit halus berusaha menahan diri agar tak jatuh di pelukan Aldi. Meski sebenarnya dia rindu dan ingin memeluk Aldi.

Aldi tahu diri, membaca isyarat Ama, dan tak memaksanya.

“Aldi, kau ingin bicarakan apa sebenarnya?” Ama membuka percakapannya.

Aldi menggigit bibirnya kencang lalu menghela napas panjang.

“Begini Ama. Aku minta maaf atas perlakuan untuk semua kebingungan yang tercipta belakangan ini”

“Maksudnya?” Ama mengernyitkan dahi keheranan

“Untuk semua kejadian aneh di perpustakaan dan barusan.

Ama berdehem, mengatur napas dan mulai berbicara pelan. Ia tak ingin Aldi membaca bahwa begitu banyak pertanyaan yang menggantung dipikirannya.

“Memang ada yang aneh ya Al? Semuanya biasa saja menurutku”

Aldi tersenyum kecut. Tak disangka ekspresi Ama sedatar itu. Ini diluar ekspektasinya.

“Memang ada apa Aldi?”

Apakah kamu tidak menyadari ada yang aneh belakangan ini Ama? Seperti katamu kamu melihatku duduk di perpustakaan padahal aku baru saja datang kesana”

“Oh yang itu. Aku sudah melupakannya” ujar Ama acuh tak acuh.

“Mmm…,” kembali Aldi menggantung percakapannya.

Mereka menjadi hening. Hanya suara ‘ketak-ketik’ dari ponsel masing-masing. Mereka lebih memilih diam, tak ada yang berinisiatif meneruskan pembicaraan.

Hujan pun reda.

***

“Di, pinjam ponsel-mu. Mepet pulsa nih. Mana?”  tanpa menunggu jawaban, Aldo mencari-cari sendiri yang diingin.

“Tuh!” bibirnya mencebik menunjukkan ponsel itu di atas nakas.

Aldo melompat di atas tempat tidur, dan menjadi berantakan ala Aldo, pun segera sibuk dengan ponsel Aldi.

Aldi melihat itu dengan berkernyit. Heran, Aldo senyum-senyum sendiri dengan layar ponsel-nya.

“Kamu chatting sama siapa sih?”

“SMS saja kok, sama teman cantik pasti,” Aldo makin menggoda Aldi.

Aldi terdiam. Sesekali melirik curiga pada senyum-senyum Aldo.

((( Dering Ponsel )))

“Nih ada telpon masuk, Di” ujar Aldo sambil menyodorkan ponsel ke tangan Aldi.

Sebuah nama tertera di sana membuat Aldi hendak melonjak setinggi-tingginya tapi ia tahan karena malu dengan Aldo. Ia lalu berlalu ke teras kamarnya untuk berbicara dengan seseorang yang jauh di sana.

“Halo Ama. Selamat malam. Ada apa?” terdengar suara Aldi berujar.

“Aku rindu kamu”

“…..”

Aldi seperti terkena badai es hebat. Ia mematung tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia tak menyangka ungkapan rindu terlontar dari gadis yang siang tadi begitu acuh padanya.

“Maafkan aku Aldi. Aku hanya mencoba menahan semua rasa ini tapi terlalu berat nampaknya”

Aldi masih saja diam seribu bahasa. Ia mencoba mencerna apa yang Ama katakan.

“Aldi, kamu masih di sana kan?”

“Eh, eh, iya. Kamu di mana sekarang?”

“Aku di rumah Aldi, mau di mana lagi?”

“Ok!”

Aldi segera menutup ponsel-nya, setengah berlari meraih kunci motor dan jaket cokelatnya. Tatapan keheranan Aldo yang masih duduk santai di atas tempat tidur tak dihiraukannya. Yang Aldi tahu ia harus segera berjumpa dengan gadis penggangu pikirannya – Ama.

***

“Aldi?”

Sesosok itu berbalik. Temaram lampu beranda makin membuatkan siluet itu menggrafirkan ketampanan Aldi. Ama nyaris tak berkata-kata.

“Sudah di sini?” terbata-bata Ama menahan gugup.

Mereka duduk di kursi beranda. Keheningan sedang berbicara dan mendengarkan degup-degup yang mencari tahu — mencari kepastian.

“Mengapa kau harus memendam rindu? Padahal kau tahu aku juga merasakan hal yang sama” ujar Aldi memecah keheningan

Ama menyesap udara malam, melirik Aldi sebentar lalu meluruskan pandangannya ke depan, menatap langit.

“Maafkan keragu-raguanku atas perasaan ini. Aku bahkan tak berani berjumpa denganmu mengingat bagaimana kejadian di dalam mobil itu. Aku malu sekali. Aku sungguh bodoh menafsirkan segalanya. Aku bahkan tak bertanya terlebih dahulu padamu

“Memangnya ada apa? Apa yang perlu kamu konfirmasi?”

“Beberapa jam sebelum agenda pertemuan kita, aku melihatmu atau lebih tepatnya seseorang yang mirip denganmu berjalan bergandengan tangan mesra dengan Kharisa, sepupuku.”

“And then?”

“Aku cemburu. Rasa cemburu menguasaiku begitu hebat hingga aku tak bisa membuka mulutku untuk bertanya padamu hari itu. Aku marah, kesal pada dirimu juga diriku sendiri. Itulah kenapa aku tiba-tiba menjauh darimu. Maafkan aku.”

Aldi mengernyitkan dahi mencoba menangkap apa yang Ama katakan.

Kemudian mengapa kau tiba-tiba memiliki keberanian mengungkapkan rindu padaku malam ini?”

“Tadi siang Kharisa membawa pacarnya untuk dikenalkan di acara keluarga. Aku hampir gila untung saja aku akhirnya tahu itu saudara kembarmu Aldi. Namanya Aldo bukan?”

Aldi terdiam. Tatapannya tajam tertuju mata Ama. Segera saja rasa canggung di antara mereka mengudara.

“Iya, itu Aldo saudara kembarku. Dia juga yang kau temui di perpustakaan itu!” suara Aldi memecah udara sesak itu.

Ama tersenyum, raut kelegaan terpancar.

“Ama, pun aku rindu. Boleh kukatakan sesuatu?”

Ama jengah dan merona merah. Beruntung temaram lampu menutup rasa malunya. Ama segera mengangguk kecil.

“Ama, aku Aldi berjanji untuk mencintaimu setulus hati, maukah menerimaku?”

Dan tiba-tiba wajah Ama memucat, nyaris jatuh pingsan. Untung Aldi masih berada di dekatnya, dengan sigap dipeluknya Ama.

Ama menyurukkan wajah dan kepalanya di dada Aldi. Ia menyembunyikan rasa jengah dan malu. Aldi masih menunggu jawaban. Ama masih bersabar. Degupnya telalu kencang oleh rasa bahagia, hingga hampir tak satu pun ucapnya.

Iya Aldi, pun aku mencintaimu dan hampir gila bila merindumu” sedikit terbata dan setelah beberapa saat akhirnya Ama menjawab.

Kelegaan kini menjadi udara. Aldi memeluk erat Ama.

Masih cemburu nanti, bila kau tak bisa membedakan kami?”

Aldi mengaduh perlahan, jemari Ama mencubit perlahan membalas godaan, Aldi mempererat pelukan dan mengecup kening kekasihnya – Ama.

Tulisan Kolaborasi dengan Lala Prisca. Dikutkan dalam #ALovegiveAway

Posted from WordPress for Android

7 thoughts on “Rasa yang Tersembunyi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s