Menanti Cahaya

Dear kunang-kunang hitamku,

Aku bersyukur sayapmu yang retak pulih dengan begitu cepat. Untunglah! Kau memang tak pernah bisa lama-lama diam. Aku ingat betapa menggemaskannya dirimu ketika sayapmu sedang terluka parah hasil salah pijakan diantara ranting pohon. Kau hanya duduk ditepi sungai, merendam separuh tungkai kakimu lalu melewati hari dengan wajah cemberut karena tak bisa menari bersamaku. Padahal sinar rembulan yang jatuh pada dedaunan begitu empuk untuk ditiduri. Ketika kau kesal, wajahmu sunguh lucu.😀
Maafkan aku yang terus terkekeh sepanjang hari itu.

Hari begitu cepat berlalu. Bulan sekarang terkikis jadi tinggal separuh. Sekian lama sudah senja tak lagi seindah biasanya dikota kita. Selama itupun aku menyadari bahwa kita tak pernah lagi berbicara, bahkan untuk saling menyapa pun tak pernah. Itu menyedihkan, mengingat ada kata-kata yang begitu hangat  terpagut dalam sebuah komposisi sempurna. Kata-kata memang hanya serupa sampah jika kita tak pernah menafasinya dengan tindakan.

Apakah kau hendak padam? Entahlah. Aku juga tak pernah ingin bertanya. Biarlah jiwa menikmati kesendiriannya dalam waktu yang lebih panjang. Dan semoga saja terang cahaya yang kita miliki sama-sama pulih pada waktu yang bersamaan.

Dalam sisa cahaya pagi,

– Bintang Timurmu-

8 thoughts on “Menanti Cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s