Perjalanan

Firza mengguncang-guncang kepalanya dengan keras. Tak disangka, perjalanan kali ini membuatnya ingin merebahkan kepalanya sejenak. Padahal, biasanya ia selalu tahan, menyetir berjam-jam, kantuk dan lelah selalu bisa ia kuasai. Melawan dinginnya kabut di malam hari, yang seringkali menyesaki paru-parunya seakan jadi makanan sehari-hari. Tapi tidak kali ini. Berkali-kali rasa kantuk datang menghampirinya, membuat Firza berkali-kali terpejam. Bahkan dia hampir menabrak pembatas jalan saking ngantuknya. Dengan cepat Firza menyesap kopi kalengnya, berharap kafein di dalamnya akan membuat tubuhnya tersengat. Namun apa daya, tetap saja rasa kantuk itu cepat menguasai matanya.

Firza memelankan mobilnya, berusaha untuk tidak mencari celaka. Ia menimbang-nimbang keadaan sekitarnya, hanya jalan aspal yang berlubang-lubang di depannya, pepohonan di kiri-kanannya, serta langit malam berbintang yang cerah di atasnya. Lelaki itu melirik sekilas jam tangannya, sudah menunjukkan pukul dua. Berhenti dan tidur sejenak, sepertinya bukan pilihan bijak, pikirnya. Ia malah khawatir, bagaimana kalau ada rampok atau orang nekat yang nanti berbuat jahat saat ia tertidur di pinggir jalan sepi seperti ini? Sementara ia sedang  ditunggu sekarang.

Firza teringat akan sebungkus rokok yang belum dia sentuh dari kemarin. Ia meraba-raba laci mobilnya berharap ada bisa ia temukan disana dan benar kotak persegi itu masih utuh tak tersentuh. Firza tersenyum lebar. Diraihnya sebatang lalu dikawinkan dengan satu sulutan api. Disesapnya dalam-dalam rokok itu lalu dihembusnya. Aroma tembakau dan cengkeh berpadu manis memenuhi seantero mobil. Beberapa menit kemudian neuron diotaknya kembali menyentak. Sungguh sebungkus kretek telah menjadi juru selamat Firza yang datang tepat pada waktunya. Ia mulai meningkatkan kecepatan mobil. Tak pelak lagi jalanan yang sepi dipagi ini begitu menggoda untuk dijamah dengan kecepatan tinggi. Apalagi rasa kantuknya telah berlari entah kemana.

“Ciiit”

Firza mengerem mobilnya mendadak. Sekelebat bayangan berlalu cepat melintasi jalanan. Pompaan adrenalin  menggapai setiap inchi tubuhnya. Firza ketakutan. Pikirannya kini hanya pada kemungkinan paling buruk yang mampu ia bayangkan. Apakah aku baru saja menabrak seseorang? pikirnya.

Firza segera membuka pintu mobil dan bergegas mencari di sekitarnya. Lampu jalanan yang remang-remang tak banyak membantunya. Ia menyipitkan mata. Firza baru saja hendak meyakinkan diri bahwa ia ternyata tidak menabrak apa-apa atau siapa-siapa, sampai ia mendengar rintihan pelan di rerumputan pinggir jalan. Firza segera berlari, dan mendapati lelaki setengah baya yang terbaring lemas tanpa daya.

Bapak, bapak nggak apa-apa?” Firza mengguncang-guncangkan tubuh lelaki itu cukup keras.

Lelaki itu mengangguk. Firza memandangi lelaki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak ada tulang yang mencuat atau darah yang mengalir. Firza bisa bernafas lega. Pria yang tak sengaja ia tabrak, ternyata baik-baik saja. Firza memapahnya, membawanya masuk ke dalam mobilnya.

“Saya antar kerumah sakit ya pak! Ada rumah sakit tak jauh dari sini” ujar Firza gugup sambil memegang kemudinya

“Tidak usah nak. Bapak tidak apa-apa”

“Lalu kemana saya harus mengantarkan bapak?”

Bapak tinggal tidak jauh dari sini. Beberapa kilometer lagi akan tiba ke rumah bapak” Firza tersenyum lega.

Untung tidak terjadi apa-apa! Jika tidak aku akan terlambat sampai ketujuan dan semuanya bisa hancur berantakan. Bayangkan saja jika tadi ada luka atau apalah. ‘

Firza asyik bermonolog ria dengan dirinya. Ia melirik ke kaca depan  mencoba meraih tatapan bapak yang ditabraknya tadi. Tapi sia-sia saja. Yang didapatinya adalah pantulan jok mobil cokelat kebangaanya. Firza spontak membalikan badan kearah belakang. Terlihat olehnya sang bapak yang sedang terkulai lemah diam tak berbicara.

“Pak, sadarlah!” Firza berusaha berteriak. Namun sepertinya pria itu kehilangan kesadarannya sedikit demi sedikit. Firza melajukan kendaraannya. Ia bergegas. Kencang. Yang ia pikirkan hanya bagaimana membawa lelaki itu ke rumah sakit.

***

Suasana dan aroma rumah sakit yang khas menyesap di pikiran Firza. Ia seperti baru saja bermimpi buruk. Ia menabrak seseorang, dan kini lelaki yang ditabraknya pingsan. Dokter berkata bahwa pria itu mengalami cedera di kepalanya. Firza hanya bisa berharap, pria itu bangun secepatnya. Jika nyawa lelaki itu berakhir di sini, maka begitupun yang akan terjadi masa depannya.

Suara lirih pria itu membuyarkan lamunan dan ketakutan Firza.

Pak…” Firza mendekati pria itu, duduk di samping ranjangnya.

Meski samar, Firza mendengar kata ‘maaf’ yang terlantun dari mulut pria itu. Maaf? Dahi Firza berkerut. Sebuah kata yang aneh bagi Firza. Seharusnya ia yang meminta maaf, karena telah menabrak bapak itu.

“Bapak bicara apa? Kenapa meminta maaf?” tanya Firza.

“Aku yang salah.” Pria itu berkata lagi, meski berjuang keras dalam tiap tarikan nafasnya.

“Aku memang ingin…bunuh diri. Aku, aku, sengaja, meloncat ke depan mobilmu. Tapi, Tuhan sepertinya…tidak merestui rencana kematianku…” Ia tersenyum, namun senyumnya menyiratkan sedih.

Firza menegang. Ingin sekali dihempaskan pukulan ke wajah pria tua yang terkulai lemas itu. Ia menghela napas panjang, menetralkan kembali gejolak emosinya. Gara-gara pria tua itu Firza harus membuang waktu dua jamnya secara percuma. Padahal jika perjalanan tetap dilanjutkan maka pasti ia telah sampai disana.

Sudahlah pak. Lain kali tidak usah berbuat yang aneh-aneh. Soal pembayaran akan segera saya bereskan. Silahkan bapak hubungi keluarga yang terdekat. Saya harus segera pergi, masih ada urusan. Sekali lagi hargai hidupmu.” Belum sempat Firza berlalu terdengar sayup suara sang bapak berucap lemah

“Sebaiknya kau tak pergi. Maut sedang mengejar-ngejarmu. Aku melihatnya tadi pagi persis disampingmu”

“Ternyata otaknya rusak parah. Dasar orang gila!” Firza terkekeh hingga bahunya terguncang. Ia segera menghambur kedalam mobil, menggengam erat kemudi kemudian melanjutkan perjalanan.

***

Firza menggelengkan kepala. Ada-ada saja penghalangnya untuk menyelesaikan urusannya. Pertama ia hampir celaka karena mengantuk. Kini ia hampir saja menggilas seorang pria dan membuat pria itu mati di tangannya. Firza sudah kalut, dan hampir tak percaya bahwa pria itu memang sengaja melemparkan dirinya pada Firza untuk dijemput maut. Dia pikir aku malaikat maut apa? pikir Firza jengkel seraya meneruskan perjalanan. Mengapa saat ia ingin melakukan sesuatu hal yang baik, penghalangnya begitu banyak? Padahal saat ia dulu dicap sebagai pria yang tak baik, ia hampir mendapat semua hal yang ia inginkan. Mungkin begitulah Tuhan memberikan cobaan, batin Firza lagi.

Ia kembali berkonsentrasi pada jalanan di depannya, menginjak pedal gas dengan kaki kanannya semakin dalam. Ia tahu, yang menunggunya pasti kini tak sabar lagi. Ia ingin segera bertemu, menyelesaikan urusan yang sempat tertunda gara-gara pria gila itu. Firza melirik arlojinya. Sekarang sudah pukul setengah lima pagi. Jalanan tidak lagi lenggang. Beberapa mobil mulai sibuk berseliweran. Sebentar lagi ia akan tiba ditempat yang dituju. Dinaikannya kecepatan mobil. Ia sudah tak lagi sabar tiba disana.

***

Ada harap-harap cemas menggantung dimatanya. Ia memberhentikan mobil disebuah rumah bercat hijau gading. Rumah itu nampak eksotis dengan taman bunga mawar menghiasi halaman depan. Dirapikannya kemeja yang sempat berantakan akibat aksi heroik yang entah benar atau salah sasaran beberapa jam lalu.

Baru saja ia melangkahkan kaki di depan rumah, saat suara anak kecil ramai menghambur, menyambut kedatangannya.

Papa!” Firza tersentak melihat anaknya yang sudah bertambah tinggi. Hampir setahun ia tak bertemu anaknya, karena kasus penyuapan yang ia lakukan dulu. Penjara menahan tubuhnya untuk bertemu anak lelaki yang sangat ia rindukan. Ia segera menghamburi Zaki, anaknya, dengan pelukan dan ciuman yang penuh penyesalan.

“Kenapa papa sudah lama tidak pernah lagi menjemput Zaki kalau ada liburan sekolah?”

“Papa baru pulang dari tempat yang sangat jauh nak. Papa minta maaf.”

“Emangnya jauh sekali ya Pa? Kenapa papa juga tak pernah menelepon?” Firza terdiam. Pertanyaan Zaki entah dari harus di jawab dengan cara seperti apa.

“Zaki, jangan tanyain papa terus dong sayang. Papa kan capek.” Sebuah suara lembut membelah lamunan Firza.

“Hai Diana.” Ujar Firza seraya mencondongkan tubuhnya untuk memeluk wanita pemilik paras persegi berhidung bangir itu. Namun Diana menepis gerakan Firza cepat.

“Aku baik-baik saja dan jangan sentuh aku lagi! Ingat kita sudah bercerai Firza”

 “Jangan di depan Zaki.” Firza berkata dengan nada setengah berbisik pada Diana.

Ia tak suka jika baru beberapa menit pertemuan awalnya, ia dan Diana sudah menampakkan ketidakharmonisan. Firza segera menyuruh Zaki masuk ke dalam rumah, berlawanan dengan nuraninya yang sebenarnya masih ingin memeluk anak lelakinya itu. Tapi, Diana seakan tak peduli. Ia terus saja berkata pada Firza dengan nada mengancam. Kata-kata ‘seharusnya’, ‘ayah yang buruk’, ‘suami yang tak bertanggung jawab’, ‘penjahat’, dan berbagai cap buruk diucapkan Diana dengan keras. Firza hanya bisa menunduk, tak mau melawan karena kata-kata Diana mengandung kebenaran.

Zaki kini telah kembali berkutat dengan mobil-mobilannya di dalam rumah.

“Sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Aku muak melihat wajahmu lama-lama. Kau masih boleh datang kesini, tapi jangan lama-lama dan jangan coba lagi merayuku Firza!” Diana mendengus kesal.

Diperhatikan mata sayu lelaki yang pernah menjadi nomor satu dihatinya. Ah andai saja Firza bisa sedikit bersabar dan menerima segala kehendakNya mungkin akhirnya tak begini. Diana menghempas pintu keras yang menggetarkan kokohnya ketenangan Firza. Mata Firza mulai memburam, dirasakan butiran hangat terjun bebas membanjiri wajahnya. Dia berjalan keluar dari pekarangan yang hangat itu menuju mobil sedan putihnya dan

“BRUK!!!”

Sebuah truk menghempas tubuh Firza entah hingga berapa meter jauhnya. Firza tiba-tiba ingat kata-kata bapak tua tadi,teringat bayangan yang hilang di kaca depan mobilnya, teringat pelukan hangat Zaki, teringat saat ia dan Diana mengucap janji nikah lalu kemudian gelap menyelimuti pandangannya.

 ***
“Jangan pergi anak muda. Maut dekat sekali mengintaimu. Aku dapat merasakan auranya dimobilmu”
“Kita semua akan mati pak, hanya tinggal menunggu waktu saja”
Lelaki tua berkemeja lusuh itu tersenyum kecut. Lagi-lagi tidak dindahkan. Andai saja dia bisa mengganti semua posisi orang yang diperingatkannya, dia tak akan menjadi semenderita ini. Dia bahkan tak punya hak untuk merasakan indahnya kematian.
—FIN—

Tulisan Kolaborasi dengan Jusmalia Oktaviani

15 thoughts on “Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s