Strikeout

Bajunya bernoda darah, baru saja kulihat ia kembali dari ruang operasi. Satu lagi perempuan bodoh yang memutuskan untuk membunuh janin di rahimnya. Sebenarnya aku muak dengan pekerjaan ini. Menjadi pembantu di klinik yang melayani pengguguran kandungan. Apa daya aku hanya yatim piatu yang tak pernah mencicipi bangku sekolah. Tapi aku perlu hidup, perlu bekerja. Ah, rasanya ingin meneriakan kata-kata yang bisa menyadarkan perempuan gila yang membunuh darah dagingnya sendiri agar mereka jera. Agar mereka tahu rasanya tidak diinginkan.

Kadang aku masih merasakan perih yang sangat menusuk diperutku saat mendengar pekik mengerikan dari dalam ruang operasi. Masih jelas kuingat saat pertama kali bekerja di tempat ini. Begitu tiba dirumah aku muntah-muntah dan tidak bisa makan selama tiga hari. Aku kadang heran sendiri terhadap tingkah mereka yang datang dan melakukan aborsi disini. Kebanyakan dilakukan bukan karena alasan kesehatan tapi karena telah terjadi kecelakan. Dan setiap hari jumlah mereka tak pernah berkurang.

‘Apakah mereka sudah kehilangan hati nurani?’

Hari ini kemurkaanku memuncak. Terlebih ketika pasien tadi meneriakiku ‘perempuan tidak berguna’ saat aku terlambat membawakannya pain killer. Dia sungguh tidak pantas disebut perempuan. Aku hanya bisa menahan teriakan yang ingin kumuntahkan di hadapan merah bihirnya yang terlalu tebal. Dagunya lancip, tipikal dagu yang dibentuk sedemikian rupa oleh suntikan silikon stay entah apa sebutannya. Kudengar dari Mbak Retno, sekretaris dokter Aris yang menangani aborsinya bahwa perempuan temperamental itu simpanan seorang pejabat negara di salah satu departemen paling relijius di negeri ini. Zaman sudah kian gila. Aku misuh-misuh saja.

***

Hari ini klinik tutup begitu larut. Sudah pukul sembilan malam. Tak ada lagi angkot yang berlalu lalang. Ojek pun sudah jarang. Aku menghela napasku panjang. Sangat tidak mungkin jika aku pulang kerumah berjalan kaki karena jarak klinik dengan rumah pun begitu jauh.

Kok belum pulang Sinta?” Suara dokter Akbar membuyarkan lamunanku.

Dokter Akbar adalah dokter utama diklinik ini. Perawakannya tinggi semampai dengan kulit kecoklatan sempurna. Hanya wanita buta dan bodoh yang akan mengatakannya jelek. Klinik ini terkenal karena selain tingkat kerahasiaan yang tinggi, harga untuk sekali melakukan aborsi lebih terjangkau dibanding klinik atau rumah sakit lain pada umumnya.

“Belum dokter. Belum ada ojek yang lewat.” Ujarku sambil tersenyum

“Kalau begitu bagaimana jika saya antar? Kasihan jika nanti kamu tidak dapat ojek, masa pulangnya mau jalan?”

Aku tersenyum mengiyakan dan mengekor dokter Akbar ke mobilnya. Malam ini gerimis dan petir saling bersahutan. Sama sekali tidak ada kesan romantis seperti yang sering dibualkan para pujangga. Suasana di dalam mobil terasa lebih dingin, selain karena di luar gerimis, hatiku juga mengaliri aliran perasaan was-was. Tatapan ramah dokter Akbar seperti menyiratkan kilat yang tidak biasanya.

“Dok, saya berhenti di perempatan depan saja. Su-sudah dekat kok.” Kataku sedikit terbata.

“Oh kamu gak usah khawatir, biar saya antar saja sampai rumah. Bukankah di luar juga hujan?” Tanyanya dengan suara yang dimanis-maniskan.

Firasatku mengatakan ada aura nafsu yang menusuk tajam di udara. Tangan dokter Gila itu mulai mengelus rambutku. Karena tidak nyaman, aku menjauh. Kucoba membuka pintu di samping kiriku. Ah, sial! terkunci.

“Kamu mau ke mana sih, Shin? Tidak perlu panik. Kan ada saya.” Tangan kotornya sudah bergerilya ke sekitar pahaku. Kutepis tangannya sambil berteriak marah,

“Jangan macam-macam sama saya ya dok! Lepaskan tangan anda dan buka pintunya!”

Dia hanya tersenyum tanpa berusaha mendengarkanku. Dipinggirkannya mobil hitam ini di bahu jalan yang sudah sepi. Ia mencoba menciumku. Dasar Wong gendheng, pintar dan ganteng itu tak melulu berarti bermoral. Tangan bejatnya menari-nari , bahkan pada perempuan seperti aku yang hanya pegawai rendahan. Saat tangannya merasuki ke balik celana jeansku, aku mencengkeramnya, berusaha menghalau intervensi paksanya ke benteng pertahanan diriku yang paling penting. Kucoba menepisnya. Gagal. Tangannya terlalu kokoh. Aku ingat, aku masih punya cutter di tasku. Kurasakan besinya dingin.

Aku telah memegangnya, berusaha sekuat tenaga mengangkatnya dan hendak menusuk tangan keparat yang menjelajah tubuhku penuh semangat. Tapi terlambat. Benteng pertahananku telah dirasuki terlebih dahulu. Cutter itu melucur dari genggamanku kembali ketempat asalnya. Aku mendongkak menatap wajahnya. Wajah yang mulai dihiasi peluh. Tubuhku langsung mendidih dipenuhi kobaran gairah yang entah darimana asalnya.

“Brengsek, Ah!” Desahku yang hanya mendapatkan cengiran kuda dari dokter Akbar.

“Kau mulai menikmatinya bukan?” Aku hanya tersenyum miris.

Ini gila! Kenapa aku mulai menikmatinya?’ Aku tak bisa lagi menyambung urutan metaforsis kejadian malam ini.

Kutepiskan tangannya sekali lagi, namun bukan untuk pergi. Berangsur aku merayapi tubuhnya, berubah menjadi singa betina ganas lalu memberi kenikmatan yang sedari tadi ia nanti. Aku tahu malam ini aku telah kalah. Dasar sial!

Kilat sesekali menerangi sinar mata yang sedang berkobar itu. Hati yang menyerah, cutter yang harusnya bisa memberikan kesempatanku berlari sudah tak terasa menggoda. Aku sibuk mencerna rasa nikmat yang meledak-ledak hingga puncaknya tercapai. Dokter Akbar tersandar, mungkin ia lelah. Akal sehatku kembali menduduki hati. Kini aku hanya terpojok, kakiku masih salam posisi terbuka lebar. Malam terasa semakin dingin. Ya tentu saja karena kini aku benar-benar polos tanpa sehelai benangpun. Kurapatkan kedua kakiku lalu menyilangkannya. Aku hanya ingin tampil menarik. Semua wanita pasti sepakat dengan teori penyilangan kaki itu. Akh, apa yang aku pikirkan? Kenapa aku menjadi tolol begini? Bisa-bisanya terpikir seperti itu dalam keadaan yang entah apa ini. Aku bahkan tak tahu dimana pakianku berada.

Aku berdehem lalu melirik wajah dokter Akbar yang tirus. Betapa damai air mukanya sekarang berbanding terbalik dengan raut beberapa menit lalu. Ia tersenyum manis sekali sambil meraih jemariku dan meletakannya didepan dadanya. Masih ada sisa-sisa peluh disana.

“Biarkan aku beristirahat sejenak ya. Aku tak menyangka kau begitu lihai. Padahal ini kali pertamamu kan?”

“Ba-ba-bagaimna kau tahu”

“Aku sudah tak lagi muda Shinta! Sudah banyak jalan yang kulewati”

Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela. Kepalaku serupa ruang kontrol pesawat. Hiruk pikuk. Terlebih dengan slide kejadian tadi siang, saat aku sibuk membenci perempuan yang bergincu merah darah yang cerewet dan kurang ajar. Kini apa bedanya aku dengan dia? Bisa diduduki tanpa cinta, bahkan hanya dengan iming-iming diantar pulang. Shinta bodoh! Apa kata dunia kelak? Bukankah setengah jam yang lalu gelinjangnya tidak dibentengi pengaman?

Masih ingin pulang atau mau tinggal disini denganku sampai pagi?”

“Disini sampai pagi denganmu?”

Lelaki itu terkekeh. Suaranya menggema dingin memantul dikepalaku.

“Aku bercanda. Rumahmu sudah dekat sini kan? Ayo kita pulang

Tangan lelaki itu kini membelai rambutku begitu mesra. Aku tersenyum malu. Kurasakan darah mengalir deras diseputaran pipiku. Pertahanan diriku bobol dan kurasakan lagi perasaan yang sama saat aku jatuh cinta pertama kali dengan sahabat kecilku.

Two Strikes!

***

Dua bulan sudah berlalu sejak kejadian dalam mobil itu. Aku masih bekerja di klinik yang sama, masih menempati posisi yang sama hanya saja dengan gejolak hati yang berbeda. Malam-malam lemburku semakin sering berlangsung, tentu saja selalu diantar dokter Akbar pulang. Dan selanjutnya terjadi hal yang sama.  Tidak usah kuulangi lagi cerita yang semakin kunikmati itu. Selain gejolak hati karena perasaan yang semua orang sebut cinta kepada dokter Akbar, kehadiran mahkluk baru dalam diriku tentulah saja hal yang paling menggembirakan.

Apakah laju perutku yang semakin membesar akan mendatangkan aliran kebahagiaan yang juga besar bagi dokter Akbar seperti yang terjadi padaku? Yang pasti aku tidak pernah berpikir untuk menghabisi nyawa bakal anakku paksa, apalagi dengan jalan aborsi. Tidak pernah sedikit pun aku berniat melakukan hal bejat yang paling kubenci itu. Tapi masalahnya dokter Akbar belum mencium gelagat janin yang sedang berkembang di dalam rahimku. Apa dia menutup mata? Aku harus membicarakan hal ini. Keputusanku bulat sudah.

***

Sore semakin mendung, hujan akan turun nampaknya. Aku merapikan kembali rambut yang sudah mulai lepek. Kukumpulkan keberanianku untuk menyapaikan kabar bahagia terhadap dokter Akbar. Ya setidaknya bahagia untukku, entah bagaimana respon yang nanti dia berikan. Ku ketuk pintu ruang kerjanya dan terdengar jawaban yang mengisyaratkan untuk masuk.

Dok apakah sedang sibuk? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan”

Dia tersenyum nakal begitu menyadari yang datang adalah diriku

“Kunci pintunya Shinta. Kamu datang tepat waktu. Aku sedang ingin bicara juga denganmu!”

Aku mengangguk dan bergegas menutup pintu. Begitu berbalik wajah dokter akbar hanya tinggal beberapa senti didepan wajahku. Kutahan bibirnya yang   mulai bergerak maju menuju bibirku dengan telunjuk kiri.

“Sebentar, ada yang ingin kubicarakan.” Lelaki itu mengernyitkan dahinya heran.

“Tidak akan ada orang yang tahu, percayalah”

Aku menggeleng. “Bukan itu, aku benar-benar ingin bicara serius.”

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Ditariknya aku kedalam pelukannya, membelai lembut pipiku.

Jantungku rasanya hampir meledak, kata-kataku tertahan di tenggorokan tak bisa menyembur keluar.

“A-a-aku anu” Ucapku terbata -bata

“Kenapa manis?”

“Hamil.” Akhirnya aku mengatakannya. Aku menghembuskan napas lega lalu bersiap menghadapi reaksinya.

Dokter Akbar tak menunjukkan ekspresi kaget. Dia begitu tenang malah semakin memperat lingkaran tangannya dipinggangku.

“Kamu yakin? Sudah cek pake test pack?” Aku mengangguk pelan

“Gampang itu, bisa diatur. Sore ini pun gak jadi masalah kalau kamu mau.” Ia berkata. Aku mencoba mencerna.

“Maksudnya bagaimana dok?” Tanyaku dengan hati mencelos.

“Aborsi tentu saja. Masih Dibawah tiga bulan kan?” Ia masih melancarkan manuver-manuver yang membekukan tubuhku. Ia mungkin bisa meluluhkan hatiku dan menginvasi tubuhku, tapi tidak kali ini. Prinsipku tidak bisa dimanipulasi. Aku tidak akan membunuh janin ini.

Aku akan membesarkan anak ini. Bagaimanapun caranya.” Aku berkata. Dokter Akbar melepaskan cengkeramannya dari payudaraku. Ia mengernyit dan berkata:

“Jangan jadi perempuan naif, Shinta. Kamu akan dianggap rendah oleh masyarakat kalau kamu membesarkan perutmu itu. Aku tidak akan mengakuinya. Aku punya pekerjaan terhormat dan reputasi yang baik. Kamu hanya pegawai rendahan. Kalau pun kamu berkoar-koar di depan mereka, tidak akan ada yang sudi untuk percaya. Ha..ha..ha..”

Hatiku seperti dicabik-cabik. Ternyata lelaki ini memang tidak punya hati nurani. Hatinya dipenuhi nafsu yang tidak masuk akal. Kantong rokku menyimpan satu senjata pamungkas. Mungkin ini yang seharusnya sudah kulakukan sejak awal di malam yang gerimis itu. Cutter baru dengan besi sedingin es. Dokter Akbar sedang membelakangiku, mungkin ekspresi mukanya masih sama. Jijik padaku yang membelot dari rencana perempuan yang ‘dipakai untuk diaborsi’. Satu kali, benda tajam itu kuarahkan sekuat tenaga pada punggung sebelah kiri. Dia sempat berteriak, tikaman kedua kupersembahkan untuk perutnya saat ia telah menggelepar. Ketiga untuk dada kiri. Semoga jantungnya terhenti paksa. Darah membanjiri ruangan ini. Bau amis menusuk hidungku.

Mata lelaki yang kini terbaring di bawah kakiku menyiratkan dua kata, “Perempuan jalang!”
Aku tersenyum bangga. Meski kutahu setelah ini aku akan bersemayam di dalam sel sempit dan berbau pesing, tapi anakku akan tetap hidup. Dan kematian dokter Akbar, yang adalah ayah biologis dari janinku,  cukup sebagai satu penghiburan.

“Nak, ibumu pernah berjuang untuk kamu. Dengan tangan ibu sendiri”

Three Strikes – you’re out from this world dear!

Tulisan kolaborasi Masya Ruhulessin dengan Nuhadiyanti Rahayu

11 thoughts on “Strikeout

  1. kayaknya cerpen ini untuk 18+ ya😀
    tapi kalau target pembaca cerpen ini mau diperluas, detail adegan 18+ nya disederhanakan saja, hehe

  2. Don’t know what to say. Good writer is you are. Tidak hanya menulis puisi, atau cerpen cinta, tapi yang ini juga keren. *kerlingin mata ke Mbak Masya*😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s