[BeraniCerita # 15] Lima Belas Juni

Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Aku terbangun dari tidur lelapku ketika beku mulai menyergap sekujur tubuh. Juni adalah hujan-hujan kesepian yang dinginnya meremukan tulang-belulang. Aku membetulkan letak selimutku. Mataku menangkap sosokmu yang begitu lekat dengan meja kerja vintagemu. Kau membelakangiku, punggungmu mematung dihadapan cangkir merahmu yang kini sudah mulai kusam. Aku yakin isinya kopi hitam tanpa gula kegemaranmu. Entah apa yang sedang kau pikirkan. Aku bahkan tak punya keberanian untuk bertanya. Kau mengetuk-ngetukan jemari dimeja kerjamu persis irama hujan diluar.

Hei, mengapa kau terbangun?” Teguranmu membuyarkan lamunan. Aku tersenyum kecut. Kau membalasnya dengan sunggingan senyum usil, lalu seakan membaca seluruh pikiranku kau berujar,

“Tidurlah kembali Wina. Sebentar lagi aku akan tidur.” Aku hanya bisa mendengus kesal, menarik selimut dan kembali terjerumus dalam dunia mimpi.

 ***

Mentari pagi besinar menyilaukan memaksa kedua kelopak mataku untuk tak lagi saling melekat. Aku menggeliat malas dibalik selimut. Aku melirik jam beker di samping tempat tidurku.

Oh Shit!” Pekikku kencang. Kubebaskan diri segera dari balutan selimut dan berlari menuju kamar mandi secepat kilat. Waktu kini telah menunjukkan pukul 09.30 dan artinya aku telah terlambat satu setengah jam dari janji yang dibuat.

Aku mengatur napas supaya kepanikan dimenit-menit terakhir mereda. Kubetulkan kembali polesan lipstick dibibirku dan menyemprot parfum vanilla pilihan Bram sekali lagi di pergelangan tangan kiriku. Dan Bram, dia sudah pergi pagi-pagi sekali dari apartement ini. Ya pasti dia telah menanti disana terlebih dahulu.

***

Mendung telah merajai langit saat Wina tiba tempat dimana dia dan Bram telah berjanji. Aroma rumput basah menyambutnya ramah. Terlihat olehnya Bram berdiri disalah satu sudut dengan setelan sears biru dongkernya. Wina tersenyum gembira dan berlari menghambur ke pelukan Bram.

Kamu terlambat. Waktu kita tinggal sebentar lagi. Ada yang ingin kau katakan Love?”

Wina menggeleng, Dia semakin memperat pelukannya di pinggang Bram.

“Jangan bersedih terlalu lama, kita pasti akan berjumpa lagi. Satu tahun bukanlah waktu yang lama.”

Wina mengangguk. Sebuah butiran hangat jatuh dipipinya.

“Jangan menangis lagi. Aku adalah udara yang kau hirup dimanapun kau berada. Aku akan selalu ada.”

Bram menghapus air mata Wina lalu mengecup keningnya mesra. Ia pun berlalu meninggalkan Wina yang mematung, masih mengenakan gaun hitam selutut yang sama. Hari semakin siang, orang yangberlalu lalang kian banyak. Pancaran dimata mereka mirip yang terpancar dari mata Wina: kesedihan.

***

“I’m fifteen for a moment caught in between ten and twenty and I’m just dreaming counting the ways to where you are”

Wina tersenyum lebar mendengar lirik lagu yang mengudara di salah satu stasiun radio. Tanpa terasa Juni ini adalah Juni yang kelima belas yang Wina lewati seorang diri tanpa kehadiran Bram secara kasat mata disisinya. Tapi ia yakin Bram selalu hidup di hatinya. Keriput mulai hadir disudut matanya. Ia sudah tak lagi muda bahkan gaun hitamnya mulai sesak. Wina ingat lima belas tahun tubuh Bram dalam setelan sears  biru yang bersimbah darah kaku dipelukannya. Ia tersenyum sambil menyesap udara perlahan.

Jumlah kata : 477

banner-BC#15

25 thoughts on “[BeraniCerita # 15] Lima Belas Juni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s