Rose, pada Sepotong Rindu

Selalu saja kamu memancing rasa cemburuku, ketika kau bercerita tentang dia. Dia, dia dan dia. Kau seolah-olah terperangkap dalam dunianya dan enggan keluar. Namun yang tak ku mengerti begitu banyak cerita tentang kelebihan dia, belum pernah kulihat kau bersama dengannya. Kau selalu saja menghindar jika aku meminta dipertemukan dengannya. Bahkan setelah aku pindah ke luar kota, kau semakin menggebu-gebu bercerita tentang dia. Kesibukan yang semakin menumpuk dalam enam bulan terakhir, membuat aku mengabaikanmu. Kau juga begitu, entah marah atau semakin sibuk mengurusi si dia yang kau kagumi. Pada akhirnya kita menjadi jarang berkomunikasi. Hingga sebuah berita kudengar kemarin sore dari Ervan, salah satu teman SMA kita. Kau jatuh sakit. Entah apa nama penyakitmu itu. Yang pasti kata ibumu tak seorangpun boleh menjenguk. Aku khawatir. Ada sebongkah risau tak berjeda menghimpit dadaku.

Aku mengambil telepon genggamku. Telah kutuliskan pesan teks bertanya bagaimana keadaanmu. Tapi pada akhirnya pesan itu hanya mematung di draft. Aku tak punya cukup keberanian untuk mengirimnya. Sisa malam ini aku habiskan dengan mereka-reka perkara tentangmu.

“Apa yang sedang kau buat, mengapa kau jatuh sakit, apakah kau juga rindu kehadiranku, apakah kau juga akan cemburu jika aku bercerita tentang gadis lain dihadapanmu, apakah nomor telepon yang kau gunakan masih sama?”

Kulirikan mataku ke arah jam dinding.

“Sial, jam tiga pagi!”

Perkara-perkara itu sukses membuatku belum bisa memejamkan mata hingga kini. Aku mengambil kembali telepon genggamku, membaca lagi pesan yang tersimpan dalam draft.

“Non, kamu lagi sakit katanya. Bagaimana keadaanmu sakarang? Semoga cepat sembuh ya.”

–send–

Beberapa saat lelaki itu kemudian terlelap.

***

Sinar mentari menerobos jendela, sukses menyeret kesadaranku. Aku bangun, kuraih hp di atas kasur yang kusut seperti otakku, hatiku. Sudah jam delapan, pesan teks yang kukirim member laporan gagal. Sudah kuduga! Ah diriku hanya merangkai mimpi untuk bisa berkomunikasi lagi degan dia. Dengan gontai langkah kakiku kubawa ke kamar mandi, gogosk gigi, cuci muka, menyegarkanku, menyegarkan ingatanku. Aku kembali ke kamarku ku mainkan  beberapa lagu di laptop, menyusuri kenangan. Kenangan lima tahun lalu, saat terakhir kita begitu intens berkomunikasi, menghabiskan waktu menunggu hasil UNAS. Kukayuh sepedaku dengan semangat menyusuri jalanan aspal menuju rumahmu. Kita janjian untuk pergi bersama ke acara pameran buku yang diadakan di alun-alun kota. Dijalan aku mereka-reka seperti apa rupamu nanti. Tiba dirumahmu, kau telah menanti didepan rumah. Hari itu kamu terlihat sangat cantik dengan terusan putih selutut bermotif bunga-bunga. Rambutmu yang sering kau kuncir kala itu kau gerai begitu saja. Kamu tersenyum melihatku yang menggiring sepeda kearahmu. Aku mencoba mengembangkan bibirku. Entah mungkin terlihat terpaksa atau alami dimatamu. Karena sesungguhnya dadaku kembang kempis tak beraturan saat menatapmu.

 “Hai Sin, “ sapaku pendek, kutakut degupku membuatku tersedak jika kutanya dengan kalimat panjang. Kamu lagi-lagi hanya tersenyum.

“Masuk dulu yuk, mamaku bikin Muffin cokelat” ajakmu.

Pagi bu,” sapaku pada mama sinta yang sedang meyiapkan sarapan. Kalau ingat ini malu rasanya. Pagi-pagi sudah bertandang ke rumah seoranggadis. Waktu itu yang kuingat hanya ingin jumpa kamu. Melihat wajahmu, senyummu dan rambut sebahumu yang sedikit bergelombang, matamu yang binar, semua tentangmu. Ya, hanya ingin melihatmu, dan berharap bisa memboncengkanmu dengan sepedaku.

“Kamu lapar ya?” Aku hanya bisa tersenyum. Kurasakan kehangatan membuncah dipipiku, entah karena malu ketahuan kelaparan atau karena kau yang begitu manis tertawa lepas dihadapanku.

“Makanlah yang banyak, kau akan kehabisan tenaga memboncengku”

“Aku sudah kenyang, muffinnya enak sekali”

“Ayo hari semakin siang. Kita bisa terlambat” Ujarmu sambil bangkit dari kursi.

Aku akhirnya mengekormu untuk berpamitan pada ibumu, tak lupa berterimakasih atas roti panggang buatannya. Kulihat sebuah sepeda pink di depan rumahmu.

“Lho Sin, katanya tadi kamu mau memboncengku?” Tanyaku kecewa,

“Ah tidak apa-apa ini sepeda kesayanganku pinkay, aku tadi bilang begitu supaya kamu banyak makan muffin bikinan ibu. Beliau akan senang jika masakannya dihabiskan” katamu tersenyum. Jelas aku kecewa, hilang sudah harapan untuk menerima lingkaran tanganmu dipinggangku.

“Sebelum berangkat foto-foto dulu yuk, kita foto bertiga dengan Pinkay,” ajakmu.

Kupandangi foto itu sekali lagi, ada kau, aku dan Pinkay. Aku tersenyum sendiri melihat raut wajahku yang malu-malu disalah satu foto saat tanganmu mengamit pundakku.

Lima tahun sudah berlalu dan aku belum berani mengungkapan rasaku padamu Sinta” gumamku.

Kusingkirkan lamunanku. Aku bergegas membereskan semua keperluanku. Sudah waktunya menyelesaikan semua ini.

***

Aku menginjakkan kaki kembali ke kota ini, kota yang telah lama kutinggalkan demi meraih sebuah masa depan. Hal pertama yang terpikirkan saatn menghirup sejuknya udara adalah kamu, Sinta. Bagaimana rupamu sekarang ini? Aku rindu senyummu. Kata teman-teman kau masih saja sendiri jika kemana-mana. Besar kemungkinan kau belum bersuami. Aku jadi senyum-senyum sendiri pada hasil rekaan pikirku kalau saja kita tersenyum.

 “Dasar gila” batinku berontak. Rindu kadang bisa membuat seseorang menjadi gila.

Sore setelah bercengkerama dengan sanak keluarga, kuputuskan untuk bertandang ke rumahmu. Lima tahun tidak mengubah terlalu banyak suasana rumahmu, hanya cat dinding yang kini menjadi krem dulu putih. Dan taman yang dulu asri, kini agak terbengkalai. Kuketok pintu perlahan.

“Ya,..siapa?” suara ibumu membuatku berdegup. Suara itu mirip suaramu yang manis.

“Saya bu, Setyo” jawabku. Ibumu memandangku sedikit kaget, tapi kemudian tersenyum.

Setelah kujawab pertanyaan tentang diriku dan pekerjaanku, kuungkapkan tentang keinginanku untuk berjumpa denganmu. Kulihat segurat kesedihan di wajah ibumu. Memandangku ragu, lalu dengan berkaca dan terbata beliau menyebutkan sebuah nama rumah sakit. Mendengar nama rumah itu tubuhku bagai kejatuhan pohon kelapa yang rubuh.

Tak lama berselang aku pamit ke ibumu dan melaju menuju rumah sakit yang dimaksud ibumu. Gerbang yang tinggi dan suasana asri menyambutku. Sayang penghuninya begitu tenggelam dengan dunianya. Dunia yang manusia sehat tak mengerti. Dunia tak kasat mata. Dunia antah berantah. Kuhampiri petugas jaga,  menanyakan ruang anggrek 204. Seorang perawat menemaniku menghampiri penghuni anggrek 204. Hatiku bergetar, gadis yang dulu begitu ceria sekarang sedang berbaring lemas membelakangiku.

Inikah Sinta yang sekian waktu menyita waktu-waktu malamku? Yang membuatku cemburu, yang diam-diam kurindu? Ku coba mendekat pelan-pelan, biarlah dia terlelap, itu lebih baik. Sebuah biangkai dalam dekapannya. Hatiku berguncang keras, itu fotoku bersama dia dan sepeda pinknya. Mungkinkah? Betapa perasaanku, rasa bersalah merambati hatiku ke aliran darahku, ke sekujur tubuhku.

“Sus, boleh saya menungguinya barang sebentar?” pintaku pada suster. Suster mengangguk.

Kutarik kursi, kupandangi punggung yang dulu begitu indah dilihat ketika lari dengan rambutnya yang bergoyang-goyang. Kuberharap dalam doa, punggung itu berbalik dan bangun, menghambur ke arahku.

“Sinta…” bisikku lirih.

Dia bergerak menatapku dan berujar

“Pingkay, dimana Pingkayku? Mereka membunuhnya dokter. Tolong kembalikan dia kesisiku. Dia satu-satunya cinta dalam hidupku” suara seraknya terdengar seperti mantra sihir yang mengirimku dalam putin beliung ke alam yang tak kumengerti. Di rumah sakit jiwa ini aku mematung begitu lama. Mungkinkah aku yang gila mengira dia begitu jatuh hati pada sepeda sialannya itu?

Tulisan kolaborasi with Mbah camar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s