Juni pada Januari

Senja Kita yang Biru
Senja Kita yang Biru

Pagi. Awal Januari. Bau tanah basah sisa hujan tadi malam melesat masuk tanpa halangan melewati jendela besar yang dibuka lebar-lebar. Ah pantas saja tadi malam dingin begitu menusuk tulang meski kita terbakar panas karena peluh yang kita keluarkan semalaman. Kamu, masih meringkuk dibalik selimut. Kelelahan. Pecinta yang luar biasa. Kamu, pria yang begitu mudah dicintai menghabiskan malam bersamaku lagi dan meninggalkan segala yang menjadi milikmu.

Aku tersenyum sekali lagi melihat betapa damainya raut wajahmu pagi ini. Raut wajah yang selalu saja bisa membuatku menanggalkan kewarasanku sekuat apapun aku mencoba untuk untuk berpikir waras. Dengan langkah hati-hati kuraih kaos dan jeansku yang berserakan di lantai. Dunia kita seperti mimpi, mimpi yang sangat indah dan aku harap sebaiknya kamu tetap tidur saja. Karena ketika kamu bangun kamu akan kembali ke duniamu, dunia yang tak ada aku.

Bip bip bip

Bunyi tanda sebuah pesan masuk ke ponselku, dari Alia.

“Mel, aku ke apartemenmu yah. Biru gak ada kabarnya lagi semalaman. Aku khawatir”

Aku terdiam membaca pesan itu, entah harus membalas apa. Jika saja situasi memungkinkan pasti sudah kutelpon balik Alia dan menyuruhnya segera ke apartemenku. Akan kusuguhkan secangkir cokelat hangat bersama brownies panggang yang baru saja matang. Kemudian akan kutenangkan Alia sambil mendengarkan keluhannya yang diselingi tangisnya yang pelan. Tapi kali ini tidak bisa, bagaimana aku harus membalasnya? Alasan masuk akal apa yang akan aku gunakan agar Alia mengurungkan niatnya ke apartemenku?

Kutengok Biru yang masih tertidur lelap. Ah, mengapa tadi malam aku langsung begitu saja menyetujui keinginannya datang ke apartemenku?

“Morning sunshine!” sebuah suara bariton membuyarkan peperangan dalam batinku.

“Hai, selamat pagi!”

“Kamu baik-baik saja Lia? Wajahmu agak pucat.”

I’m totally fine dear.”

Aku tersenyum melihat pemilik mata biru terang itu, lalu mengalihkan tatapan ke balik jendela, mencoba menyembunyikan kekalutanku. Lia, begitulah Biru selalu memanggilku, tidak seperti yang lain yang selalu memanggilku dengan panggilan ‘Mel’. Itu adalah salah satu hal yang membuatku selalu mengingatnya.

“Pagi ini terlalu mengerikan tanpa sebuah pelukan. Bisakah aku mendapatkan satu saja?” Biru memasang lagi raut wajah yang membuatku tak bisa menolak keinginannya.

“Kamu akan mendapat ribuan!”

Kudekap erat tubuhnya yang masih terbungkus selimut lalu dengan cepat membalas pesan Alia.

“Aku sedang tidak di apartement. Ada urusan mendadak tadi malam. Soal Biru, dia pasti sedang bersama teman-temannya. Kau tahu kan lelaki kadang membutuhkan itu! Jangan terlalu berprasangka buruk.”

-send-

****

Pagi. Awal Januari, tahun lalu. Hujan mengguyur separuh kotaku. Patah hati. Brownies cokelat almond buatanku pun tak semanis yang lalu. Patahan hati menetes deras ke dalam adonan seperti hujan di luar, membawa pahit ke setiap panggangan yang seharusnya manis. Pada sudut sofa biru di Book Caffee milikku dan Raka -mantan tunanganku-, kamu menyesap hati-hati kopi pesananmu. Mejamu dipenuhi sketchbook, berbagai jenis pensil, drawing pen, penghapus dan sebuah foto yang tak terlihat dari tempatku berdiri. Kamu mengangkat kepalamu dan mengarahkan pandanganmu tepat ke arahku. Senyum, manis lagi tulus. Bulir-bulir tetes hujan mengalir di jendela kaca. Falling in love at Coffee Shop mengalun merdu mengisi sela-sela hati. Sejuk. Dramatis juga romantis. Kamu masih membiarkan senyum bertahan di bibirmu. Teduh.
Lalu dengan ajaibnya alam menggerakanmu datang dan datang lagi ke tempat ini, merajut keindahan yang mulai kulupakan rasanya. Lapisan luka hatiku satu persatu kamu tanggalkan dengan ketulusan disetiap tutur dan senyummu. Ini sungguh menyenangkan.

***

“Bolehkah aku meminta matamu untuk kutuangkan disini?” kamu melirik sketchbookmu dan aku terpaku kaget.

“Kamu mempunyai mata yang indah Amelia” kurasakan hangat menjalariku lebih cepat dari biasanya.

“Bolehkah?”

“Tentu. Tapi apa yang bisa kudapatkan? Berapa kamu berani membayarku Biru? Jarang-jarang loh wajahku diabadikan. Foto saja jarang ada yang punya. Haha”

“Tak cukupkah senyuman yang selalu menghiasi bibirmu akhir-akhir ini?”

Begitulah awal kedekatanku dengan Biru, setahun lalu. Biru Mahendra pemilik mata biru dan senyum teduh. Untuk pertama kalinya kamu menggambar diriku lengkap dengan sepasang mata yang menangkap sosokmu dulu di sudut Book Caffee milikku dan mantan tunanganku.

Aku tahu ketika itu bukan maksudmu merayuku. Ada berbagai hal yang bisa saja kamu gunakan untuk menebarkan pesonamu pada perempuan yang sedang patah hati. Tapi kamu tak pernah melakukannya. Aku tahu. Hanya saja aku yang tak dapat menahan keinginan untuk mengenalmu lebih jauh. Menikmati segala kebaikan dan keramahanmu. Mencoba menyelinap diam-diam masuk melewati sedikit celah di hatimu. Bahkan ketika akhirnya aku tahu telah melingkar sebuah cincin putih di jari manismu, aku tak bisa melangkahkan kakiku  pergi dan menutupi hati dengan kebohongan yang manis. Yang lebih buruk adalah ketika akhirnya aku tahu bahwa cincin putih di jari manismu terukirkan nama Alia, teman masa kecilku, teman terbaikku. Aku menjadi lebih tertarik dan membiarkan diriku terus memasuki keindahan hidupmu.

***

Senja bercampur sisa hujan di penghujung Juni bersama camar yang menari. Dramatis dan romantis. Kamu dan sobekan sketsa yang berhamburan meliuk rendah melebur bersama ombak dan angin.

“Jika terus dilanjutkan, ini akan menjadi sulit Lia, kamu tahu itu. Apalagi keseriusanku dengan Alia membuat semua ini menjadi semakin rumit.”

“Aku mengerti. Aku sangat mengerti Biru. Tapi bisakah kamu ajarkan bagaimana caranya menghapus rasa yang menjalar cepat dalam rongga dadaku? Rinduku, kecemburuanku tumbuh begitu liar, tak terkontrol. Aku tak sanggup terus menerus berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.”

Aku dan kamu terdiam, saling menatap dengan tatapan mata yang tak biasa. Jemari-jemari kita masih saling menjalin meski peperangan membekukan kehangatan. Kita terperangkap dalam kebisuan yang begitu hebat.

“Kamu harus belajar melepaskanku. Kamu tahu yang kita jalani ini salah. Banyak orang yang akan terluka jika tahu tentang kita.”

“A-a-aku, mengapa aku?” Aku terhenyak, bulir bening mengalir deras dipipiku. Aku terisak begitu kencang. Kamu bahkan tak memelukku seperti yang biasa kamu lakukan. Kamu hanya menatapku semakin tajam lalu memperat genggamanmu. Senja kali itu begitu menyebalkan.

“Apakah karena Alia datang lebih dulu dari aku sehingga aku tak berhak memilikimu?” tanyaku pada Biru beradu bersama ombak. Kulonggarkan genggamanku di jemarinya dan menggeser tubuhku sedikit berjarak.

“Kamu tahu kan ada janji yang harus aku penuhi padanya, bahkan sebelum kamu hadir dalam duniaku,” ucap Biru.

“Lalu cerita apa yang selama ini kita jalani? Apakah kamu tak memperhitungkan sama sekali keberadaanku?” Kuhapus bulir bening yang semakin mengalir. Kamu terdiam. Tak seperti biasanya. Yang lalu, jika aku mempertanyakan dimana letak diriku, kamu akan sangat lembut meyakinkan bahwa aku memiliki tempat yang istimewa di hidupmu. Kali ini tidak, entah mengapa.

“Sebelum aku  datang dalam hidupmu, kamu baik-baik saja bukan? Aku yakin jika aku pergi kamu akan tetap baik-baik saja.”

Aku terdiam. Pikiranku berputar mencari jawabannya. Tidak Biru, aku tak akan pernah baik-baik saja. Sekarang atau kapan pun itu. Bagaimana bisa kamu berkata aku akan baik-baik saja? Kamu yang terlalu naïf atau memang aku yang begitu bodoh menunjukkan perasaanku selama ini? Aku berjalan mengecup bibirnya cepat dan berlalu menyatu dengan merahnya senja.

***

Sore mendung langit di bulan Januari. Hanya ada aku dan surgaku. Balkon kecil belakang rumah, taman, sketsa-sketsa wajah tak sempurna lalu tumpukan buku dan bercangkir-cangkir kopi. Kartu undangan berwarna biru. Namamu.

“Kopi itu tak baik untukmu, Lia. Gantilah dengan teh hangat, itu jauh lebih bagus untuk lambungmu.”

Dulu kamu selalu melarangku minum kopi dan kamu akan marah besar jika mendapatiku meminumnya. Yang kamu tidak tahu adalah aku memang sengaja melakukannya agar kamu marah padaku. Sedikit perhatian darimu bahkan jika itu adalah amarah sudah lebih dari cukup untuk membuat hariku menjadi baik. Aku selalu berusaha mencuri perhatianmu, apapun itu. Itu akan melunasi segala kerinduanku padamu yang tidak pernah bisa kutunjukkan di depan siapapun terutama jika ada Alia diantara kita.

Dengan segala keakuanku, aku marah dengan semua keadaan ini, Marah dengan waktu, dengan aku bahkan dengan diriku sendiri. Namun pada akhirnya aku sadar tak ada yang perlu disalahkan. Mencoba memaafkan adalah jalan terbaik menyikapi semuanya.

Aku bersyukur untuk kita Biru. Untuk setiap langkah kita yang pernah terukir, untuk jejak-jejak yang kau tinggalkan. Bahkan untuk kita yang berulang kali menjelma menjadi senja yang selalu terkubur bersama gelapnya pelukan malam. Namun Biru, kamu harus tahu pada akhirnya malam akan hilang ditelan fajar. Pagi. Selalu ada pagi Biru, pagi yang membawa rindu baru. Selalu. Aku tidak akan merindukan dirimu lagi, Biru. Tidak akan. Karena aku akan menunggu rindu baru untukku, yang bukan darimu.

Kulirik sebuah kartu undangan berwarna biru. Namamu dan dia, Biru Mahendra dan Anastasya Mariana.

*Selamat berbahagia Biru*

Tulisan kolaborasi dengan Indah Lestari

12 thoughts on “Juni pada Januari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s