Cermin

Wanita bergaun merah ketat itu menempelkan wajahnya begitu lekat dengan cermin. Ia tersenyum kecut. Sekecut apa pun ia masih saja terlihat cantik. Bibirnya merah ranum dengan sudut penuh sempurna. Dagu tirusnya, hidung mancungnya, mata bulat kelerengnya, berpadu sempurna dengan rambut hitam bergelombang sebahunya. Hah, lelaki mana yang tidak akan takluk menatap kesempurnaan yang menurut semua orang tiada cela itu. Tapi itulah yang membuat ia membenci dirinya sendiri.

Wanita itu terdiam cukup lama. Menimbang apa yang hendak ia lakukan dengan semua kejayaan dan kecantikan yang menyelimuti dirinya. Kejayaan yang ia punya tidaklah sedikit pun membawa perasaan yang mendamaikannya. Seringkali justru kesepian yang lebih sering bercokol di dalam hatinya. Gegap gempita dunia di sekitarnya tak juga cukup banyak mengisi kekosongan yang ada dalam benaknya. Semua terasa semu.

Satu-satunya yang kini begitu dekat dengannya hanyalah cermin besar yang menyatu dengan wajahnya sekarang. Begitu lekat keduanya seperti satu tubuh yang tiada bedanya. Ia mulai menempelkan seluruh bagian tubuhnya yang lain di depan cermin kesayangannya itu.

“Kaulah satu-satunya temanku. Denganmu, aku bisa melihat lebih jauh ke dalam hatiku. Menemukan identitas diriku yang pelan-pelan menghilang karena gemerlap dunia di sekitarku.”

Air matanya jatuh melalui kedua matanya. Pelan, namun perlahan mulai menggenangi keseluruhan ruang di hadapnya. Ia seperti tengah menenggelamkan dirinya dalam pusaran kesakitan yang tiada terpera.

“Kaulah satu-satunya sahabatku. Yang mendengarkanku tanpa banyak meminta balasan apa-apa sebagai gantinya. Kaulah yang melihatku tanpa perlu berpura-pura lalu menunjukkan kesalahanku tanpa perlu malu-malu”

Ia mengerti bahwa semua orang yang pernah berjumpa dengannya nampaknya begitu mengerti siapa dirinya lalu memuja dengan berlimpah ruah seakan dia adalah sosok sempurna, tanpa cacat dan cela. Tiada yang salah sebenarnya dengan semua itu. Perasaan bahagia yang meluber memenuhi nadi setiap kata-kata terlontar hingga akhirnya ia menyadari bahwa semua lakon mereka adalah omong kosong belaka. Sebuah kepalsuan yang teramat cantik didandani hingga tak tampak dengan sekali lihat.

Ketukan di pintu itu setiap saat terdengar begitu jelas. Lebih dari seorang setiap harinya, selalu datang meminta kehadirannya, meminta kedatangannya. Permintaan yang diberikan kepadanya berlainan di setiap ketukannya. Berbagai upaya dikerahkan untuk mendapatkan persetujuannya. Mulai dari barang-barang mewah, tumpukan uang hingga romantisme berlebihan yang dipertontonkan. Ia kadang menjadi ngeri sendiri menatap ke arah pintu tersebut. Ia berharap pendengarannya sedikit demi sedikit diambil supaya tak ada lagi yang tahan berbicara padanya.

Wanita itu tak menyangka, kesempurnaan rupa yang dimilikinya justru menjadi musibah dan asal derita yang terus-menerus saja menderanya. Tapi siapa yang harus disalahkan? Apakah sang Ilahi? Akh, terlalu naïf nampaknya jika menyalahkan Sang pemberi hidup yang telah menjaganya hingga detik ini? Ataukah dirinya sendiri yang terlalu rapuh menghadapi kenyataan yang begitu vulgar dipertontonkan oleh hidup?

Wanita itu melihat sekali lagi rupanya yang kini dipenuhi lunturan maskara karena lelehan air mata yang begitu hebat. Sisa gincu masih bertengger dibibirnya. Disekanya bekas-bekas mereka dari wajahnya. Ia tersenyum bahagia. Ya, bahagia, satu kata yang ia mulai lupa artinya. Ia mereka-reka kapan terkahir kali merasa seperti itu, tersenyum lebar tanpa paksaan, tanpa kepura-puraan. Tapi entahlah, semakin menengok ke belakang hanya pantulan kepahitan yang ia tangkap. Ia buru-buru menarik dirinya kembali ke masa kini dan kembali menjamah cermin kesayangannya. Melihat pantulan dirinya yang apa adanya tanpa polesan riasan atau sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya membuat ia terkekeh. Pameran barisan gigi rapinya tak bisa lagi ia akhiri secepatnya. Ia merasa terlahir baru lagi sekarang, seperti anak kecil yang begitu riang mendapat sekantong permen cokelat.

Organisme sejatinya akan saling mengerti bahasa yang digunakan sejenisnya. Lalu mengapa aku masih disini bermonolog denganmu? Wahai cermin, telan aku dengan serpihanmu. Kurung aku dalam dunia tanpa kepura-puraan. Aku merasa terlalu lelah menjadi seseorang yang bukan lagi aku dihadapan semua mahkluk semesta.

 Tulisan Kolaborasi dengan Teguh Puja

3 thoughts on “Cermin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s