Dear Sam,

valentine_loveletter_smlcredit images

Meski petang sudah hampir tunai, Peter belum juga menemukan solusi akan masalahnya. Ini tidak seperti perkara biasanya saat otaknya begitu lihai menelurkan ide-ide cemerlang. Ia mengambil sebatang rokok, mengawinkannya dengan lidah api, berharap asapnya memecah kebuntuan berpikir. Tapi sia-sia saja. Pikirannya semakin kalut, berkabut, seperti gelap yang makin mendekat, merajai langit dengan angkuhnya. Terngiang olehnya wajah Sam yang teduh dengan bibir mungil yang memerah. Ingin ia rengkuh dalam-dalam senyuman itu dalam pelukannya atau menyimpannya tepat dipelupuk mata hingga tak seorangpun boleh mengambilnya.

***

“Peter, kau tahu ini hanya persoalan sepele. Hanya soal sepele. Bahkan seorang anak SMP pun bisa melakukannya. Tinggal bicara padanya dan selesai perkara. Entah lewat telfon atau langsung.  Soal dia punya perasaan yang sama denganmu itu urusan nanti”

“Kau bisa berbicara segampang itu karena kau bukan aku Marlon!” Nafas Peter memburu, dikepalkannya jemari kencang.

“Surat! Tuliskan saja disana. The oldest but the romantic one.”

“Kamu memang jenius kali ini Marlon.”

***

Peter masuk ke kelas lebih awal dari biasanya. Ia mengendap-endap pelan menuju meja dipojok kanan kelas, lalu dengan lincahnya memindahkan sepucuk kertas dari kantong seragamnya kedalam laci depan tas ransel berwarna abu-abu.

“Semoga kau segera membuka laci depan tasmu besok.” Dikecupnya surat beramplop biru itu lalu bergegas pergi meninggalkan kelas itu.

 

***

Dear Samantha,

Pertama-tama kutegaskan bahwa aku tidak main-main dengan apa yang akan kututurkan berikut ini. Aku sepenuhnya waras, dengan koneksi neuron tanpa hambatan. Aku jatuh cinta padamu, ya, JATUH CINTA. Jangan pernah bertanya kenapa karena itu terjadi begitu saja. Aku tahu, aku hanyalah seorang yang baru hadir dalam hidupmu, terkadang menindasmu dengan rumitnya nama-nama Latin yang begitu kau benci. Rasanya menggemaskan sekali melihat raut cemberut diwajahmu. Dan kau sering tertangkap oleh mataku sedang diam-diam menatapku. Jadi kupikir mungkin kau punya perasaan yang sama denganku. Aku menulis surat ini karena setiap kali aku mencoba berbicara langsung padamu, aku mendapati langkahku kandas kala sorot mata teduhmu melingkupiku.

Jika sekiranya kau punya perasaan yang sama, temui aku di kantin sepulang sekolah. Dan jika tidak, biarlah ini tetap menjadi rahasia kita berdua saja.

With love,

Peter

 Samantha tersenyum lega. Ternyata apa yang dia rasakan juga dirasakan Pak Peter, guru Biologi baru di sekolahnya. Lelaki berhidung bangir itu punya perasaan yang sama dengannya. Setidaknya ia tahu cinta pertamanya tak bertepuk sebelah tangan. Namun yang jadi masalah adalah ia baru membuka surat ini sekarang, saat baru saja meraih gelar sarjananya.

“Akh kenapa aku tidak memeriksa laci depan tasku sembilan tahun lalu?Kamu dimana sekarang Pak Peter?”

 

-Tulisan  dikutkan dalam #proyek cinta @bintangberkisah-

11 thoughts on “Dear Sam,

  1. yahhhhhh lama bangetttttt .. udah nikah sama saya.. haha kidding

    suka deh cara penyampaian paragraf awal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s